Kita dukung saja para bloger utk "bergerak" lagi, minta judicial review thd
pasal 27 uu ie itu.
Dulu ditolak. Entah sekarang.
Soalnya kasus bu Prita ini sangat emosional.

2009/6/4 Hanny Handoko Prijadi <kumala0...@yahoo.co.id>

>
>
> Kasus ibu Prita mengingatkan saya pada salah seorang broker bahana (lupa
> namanya). Kejadiannya kira kita 1 tahun lalu. Broker tersebut juga
> mengirimkan email ke nasabahnya untuk memperingatkan bahwa ada suatu
> bank yang kondisinya mengkhawatirkan. Berita ini kemudian menyebar, dan
> dibantah oleh humas BI. Gara gara email tersebut broker tsb ditangkap,
> dipenjara, dikeluarkan dari pekerjaannya. Tidak lama kemudian bank yang
> dimaksud oleh broker bahana tsb benar benar ditutup oleh pemerintah.
> Salah seorang anggota DPR mengatakan, bahwa yang seharusnya ditangkap
> adalah humas BI karena dia yang sebenarnya menyebarkan berita bohong.
> Broker tersebut akhirnya dibebaskan tetapi tidak dapat memperoleh
> pekerjaannya lagi.
> Yang menarik dari 2 kejadian keduanya sama sama mengirimkan email,
> berita yang diemail benar, sama sama dipenjara, sama sama dibebaskan
> tanpa tuntutan.
> Yang sangat berbeda dari ke-2 kejadian tsb adalah waktu pengiriman
> email. Broker bahana tsb mengirimkan email pada waktu kondisi ekonomi
> guncang, bursa saham crash, kebangkrutan lehman. Sedang ibu Prita
> mengirimkan email pada waktu akan pilpres, sehingga kasus ini rawan
> konflik kepentingan. Bila kasus ini terjadi setelah pilpres, tanggapan
> kasus ini mungkin akan berbeda. Mungkin.
> Tapi bagaimanapun juga RS OMNI memang sangat sangat arogan, tidak mau
> belajar dari kesalahannya sendiri malah menyalahkan orang lain.
>
> 
>

Kirim email ke