Sentul City (BKSL) allocates Rp 300bn to build education centers, 
entertainment, and hospitals in its development area. Currenlty, BKSL has 
2,700ha land bank, of which 800ha has been sold.


Sabtu, 27/06/2009 (Bisnis Indonesia)

Properti di Bogor terdongkrak tol
Pengembang semakin agresif tawarkan proyek
Cetak 
Industri properti Bogor mulai bergairah. Pemicunya jalan tol baru yang akan 
dioperasikan akhir tahun ini. Tak hanya proyek perumahan, pengembang juga mulai 
berani membangun superblok di wilayah Kota Hujan itu.

Pembangunan hunian selama 10 tahun terakhir terkonsentrasi ke sisi timur dan 
barat Jakarta. Tangerang dan Bekasi sudah menjadi bidikan pengembang sejak lama 
karena jaraknya ke Ibu Kota lebih dekat dan didukung dengan akses yang memadai.

Pembangunan hunian di arah selatan Jakarta, terutama Bogor selama ini kurang 
berkembang. Meskipun sudah banyak proyek hunian di Kota Hujan itu, tetapi 
perkembangannya tidak sehebat Tangerang dan Bekasi.

Tengok hasil survei perusahaan konsultan properti PT Cushman and Wakefiled 
Indonesia. Harga lahan di Tangerang dan Bekasi sudah menyamai bahkan melampaui 
harga lahan perumahan di Ibu Kota. Harga lahan di kedua daerah itu rata-rata 
mencapai Rp4 juta-Rp10 juta per m2. Harga lahan untuk hunian di Ibu Kota 
rata-rata berkisar antara Rp6 juta per m2.

Beberapa lokasi di Bekasi, seperti perumahan Lippo Karawaci yang mempunyai 
akses infrastruktur dan fasilitas baik, harga lahan bahkan mencapai Rp15 juta 
per m2. Adapun harga lahan di daerah Bogor masih berkisar antara Rp600.000 per 
m2 dan tertinggi Rp2 juta per m2.

Kondisi ini menunjukkan, bahwa perkembangan industri properti di Bogor, sebagai 
salah satu daerah penyangga Jakarta kurang berkembang dibandingkan dengan 
Bekasi dan Tangerang, bahkan Depok.

Meskipun sudah banyak hunian mewah digarap di sana, pengembang harus bersusah 
payah melakukan promosi untuk mendongkrak citra.

Namun, dalam beberapa tahun ke depan kondisinya dipastikan akan berbeda. Harga 
lahan di Bogor berpotensi terdongkrak. Pemicunya akses jalan tol baru Bogor 
Ring Road yang akan rampung akhir tahun ini dan rencana pembangunan jalan tol 
Bogor Inner Ring Road (BIRR).

Waktu tempuh Jakarta-Bogor akan semakin pendek dengan kehadiran kedua jalan tol 
itu, rata-rata 1 jam. Penghuni juga bisa mengakses beberapa alternatif untuk 
menuju Bogor dari Jakarta untuk menghindari kemacetan.

Ketua Kompartemen Tata Ruang Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) 
Hari Ganie mengatakan pengembangan hunian di daerah penyangga Jakarta akan 
bergeser ke arah selatan dan tenggara Jakarta.

Pengembangan hunian di wilayah timur dan barat akan melambat. Selain lahan yang 
semakin minim, akses menuju timur dan barat Jakarta juga tidak bertambah. Di 
Bogor, selain masih banyak lahan tidur yang menganggur akan ada akses baru yang 
langsung menuju jantung kota.

Ruas jalan tol Bogor Ring Road, sebagian menyebut Bogor Outer Ring Road dan 
lebih populer dengan sebutan BORR, membentang sepanjang 11 km dari Sentul 
Selatan hingga kawasan Dermaga.

Ruas jalan tol ini membelah pusat kota Bogor dan terkoneksi langsung dengan 
gerbang jalan tol Sentul Selatan pada ruas Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi). 
Keberadaan ruas jalan tol ini akan mendongkrak industri properti di Bogor utara 
dan tengah.

Konsumen dari arah Jakarta melalui Jagorawi tidak lagi harus keluar di gerbang 
jalan tol Bogor jika ingin masuk jantung kota. Kini kendaraan bisa keluar 
melalui pintu tol Sentul Selatan kemudian masuk ke jalan tol BORR.

Sang investor, PT Jasa Marga Tbk, memastikan seksi pertama ruas itu sepanjang 
3,7 km rampung pada September 2009. Seksi pertama menghubungkan Sentul Selatan 
ke Kedung Halang.

Sayang, seksi II dan seksi III belum juga digarap karena investor tengah 
mengkaji ulang kelayakan investasi dua seksi sisanya. Seksi II dari Kedung 
Halang-Yasmin/Semplak sepanjang 3,85 km dan seksi III dari Semplak- Dermaga 
sepanjang 3,9 km.

Bogor Inner Ring Road atau jalan tol lingkar dalam kota sebenarnya masih dalam 
tahap pembahasan karena belum ada investor yang menggarap atau diputuskan 
dibangun oleh pemerintah. Jalan tol ini membentang sepanjang 3 km mulai dari 
Harjasari (Bogor Selatan)-Pasirkuda (Bogor Barat).

Aksi pengembang

Meski baru satu seksi jalan tol BORR yang akan beroperasi, pengembang sudah 
lebih dulu melangkah.

Pengembang di Bogor yang sudah lama eksis, kembali menawarkan hunian dengan 
klaster baru. Maraknya tawaran ini, sudah bisa dilihat begitu Anda menyusuri 
jalan tol Jagorawi kemudian keluar melalui gerbang Sentul Selatan.

Berbagai spanduk dan poster ukuran besar yang menawarkan hunian dengan 
embel-embel akses tol baru itu bisa dengan jelas dilihat.

Yang paling diuntungkan dari keberadaan ruas baru ini adalah perumahan Sentul 
City.

Kompleks perumahan ini akan mempunyai dua akses jalan tol sekaligus, karena 
gerbang jalan tol dibangun persis berdekatan dengan kompleks perumahan.

PT Sentul City Tbk langsung menawarkan klaster baru Pine Forrest seharga Rp300 
jutaan.

Pengembang lain di daerah Bogor juga tak tinggal diam. Kelompok usaha PT 
Bakrieland Development Tbk, melalui anak usaha PT Graha Andrasentra 
Propertindo, juga agresif menawarkan hunian Bogor Nirwana Residence.

Dalam setiap kegiatan promosi, keberadaan kedua proyek jalan tol BORR dan BIRR 
tak pernah ditinggalkan sebagai bagian dari salah satu keunggulan.

Tak hanya hunian, tetapi keberadaan jalan tol baru itu juga memberikan semangat 
baru bagi perusahaan untuk merampungkan proyek hotel serta pusat belanja dan 
gaya hidup Nirwana Epicentrum yang ada di dalam kompleks perumahan.

Hal serupa dilakukan pengembang lain seperti PT Perdana Gapuraprima Tbk yang 
mempunyai perumahan Bukit Cimanggu City. Tak hanya pengembang besar, tetapi 
pemilik lahan individu dan pengembang kecil juga ketiban untung.

Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Bogor Raya M. Harrys mengatakan 
pengembang kecil yang membangun hunian harga terjangkau juga diuntungkan dengan 
akses baru ini. "Harga properti di Bogor bisa naik 15%-20% per tahun," ujarnya.

Pengembang juga mulai berani menggarap gedung bertingkat dan dan proyek 
superblok. Properti campuran berupa hotel, pusat belanja, dan apartemen juga 
akan berdiri di Kota Hujan tersebut. Ini akan meningkatkan persaingan bisnis 
properti komersial di Bogor, di antaranya Bogor Centrum dan Bogor City Center.

Kelompok usaha Megapolitan juga kembali mencanangkan proyek superblok Cimandala 
City di kawasan Jalan Cimandala, Bogor. Proyek yang terdiri dari hotel, 
apartemen, sekolah, dan rumah sakit ini akan digarap di atas lahan seluas 17 
hektare dengan investasi sekitar Rp3,6 triliun.

Proyek ini sudah dirancang sejak 2005, tetapi sempat terhenti. Pada Mei lalu, 
Megapolitan mencanangkan untuk melanjutkan proyek ini. Kehadiran jalan tol baru 
menjadi slaah satu pemicu grup Megapolitan untuk merealisasikan rencana lama 
ini.




      

Kirim email ke