26/12/2009 - 13:07 
Gempa Besar Mengintai Wilayah Indonesia
Budi Winoto

(dawn.com)
INILAH.COM, Jakarta – Ilmuwan Singapura mengingatkan, gempa bumi yang dapat 
menimbulkan tsunami mematikan bisa terjadi di laut Mentawai. Prediksi itu 
setelah ilmuwan memetakan salah satu zona gempa yang paling rawan di Indonesia. 
Tidak seperti tsunami di Samudra Hindia pada 2004 yang menewaskan sekitar 
226.000 orang, tsunami itu diperkirakan akan lebih kecil. Tapi mungkin saja 
juga sangat mematikan jika menghempas pantai Sumatra yang penduduknya padat. 
"Ukuran dari tsunami mungkin tidak besar, tapi yang menjadi masalah adalah 
ukuran jumlah penduduk yang sekitar tiga kali lebih besar dari Aceh," kata 
Kerry Sieh, direktur Earth Observatory yang berbasis di Singapura. 
Sebuah gempa besar berukuran sekitar 8,6 magnitudo diperkirakan akan terjadi di 
bawah Pulau Siberut di sepanjang megathrust Sunda. Tempat itu merupakan 
pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, salah satu 
jalur patahan yang paling aktif di dunia. 
Namun kapan gempa besar itu akan menyerang kembali tidak diketahui.. "Kami 
mengatakan yang paling mungkin adalah dalam beberapa dekade mendatang. Tiga 
puluh detik untuk 30 tahun, di suatu tempat di sana," kata Sieh.
Ia mengakui telah mempelajari catatan geologis selama 700 tahun yang 
menunjukkan gempa besar terjadi di sepanjang megathrust Sunda setiap 200 
tahun.. Ada tiga siklus gempa utama yaitu akhir 1300-an, 1600-an, dan antara 
1797 dan 1833. 
"Waktunya di antara ketiganya adalah sekitar dua abad," kata Sieh sambil 
menambahkan bagian bawah megathrust Siberut tidak pecah selama 200 tahun, 
sehingga waktunya bergeser dan menyebabkan gempa besar. Megathrust Sunda 
memanjang dari Myanmar di sebelah utara dan menyapu di arah tenggara melalui 
Sumatra, Jawa dan ke Timor. 
Rekahan bagian utara sepanjang 1.600 km dari Myanmar ke Aceh pecah di 2004 dan 
menyebabkan tsunami mematikan di Samudera Hindia. "Gempa itu me-reset ulang 
siklus di segmen patahan," tambah Mike Sandiford dari School of Earth Sciences 
University of Melbourne, Australia. 
"Patahan hingga sepanjang 20 meter dan itu seperti pergeseran lempeng selama 
beberapa ratus tahun. Ini harusnya butuh beberapa ratus tahun untuk 
mengumpulkan tekanan dalam sistem." 
Megathrust Sunda terdiri dari tiga bagian yang berbeda. Pada Maret 2005, sebuah 
gempa kuat menghantam bagian kedua dekat Pulau Nias yang menyebabkan deformasi 
di bawah pulau lebih dari 11 meter. 
Pada 2007, gempa bumi 8,4 dan 7,8 skala richter menghantam ujung selatan bagian 
ketiga "Mentawais Patch", tetapi bukan bagian utara "Mentawais Patch". 
"Sekarang kami memiliki 300 km lagi yang belum pecah.. Hal ini tidak pecah 
sejak 1797," kata Sieh. 
Gempa Padang pada 30 September 2009 meskipun besar belum melapangkan tekanan 
apapun di bawah Mentawai, karena bukan hasil dari pecahnya megathrust, tetapi 
pada patahan yang lebih dalam. 
"Segmen itu belum pecah untuk waktu yang lama. Ini mungkin yang membawa kami 
yakin kegagalan besar terjadi lebih dekat," kata Sandiford. "Karena (tekanan) 
itu belum dilepas di wilayah Padang, kita tahu tekanan telah terbentuk dan pada 
akhirnya harus dilepaskan. Jenis tekanan itu yang akhirnya menyebabkan pecah 
besar di ujung utara Sumatra. " 
Salah satu alasan megathrust Sunda menghasilkan gempa besar adalah karena 
memiliki ukuran yang sangat panjang. Tapi ilmuwan yakin gempa dibatasi hanya 
untuk setiap bagian dari megathrust. 
Sandiford mengatakan retakan 30 km dapat menghasilkan maksimum gempa 
berkekuatan 7, retakan 300 km maksimum 8 dan retakan 1.000 km maksimum 9. Gempa 
di 2004 akibat retakan sekitar 1.600 km. 


      

Kirim email ke