RRS, ini pendapatku ttg yg dibahas milis blakangan ini. Sori ya tulisannya 
panjang banget... abis coba jawab skaligus topik2 sinambung itu, semoga suratku 
ini nambah bingung, amin....

KODE ETIK KARTUNIS? wah kok repot... tergantung sikon aja lah. Kalo muat di 
koran, pers sudah punya kode etik ya kartunis, wartawan, redaksi, penulis kolom 
semua tunduk kesitu. Kalo bikin kartun buat iklan ya tunduk sama client-brief. 
Kalo buat calon mertua ya sopan dikit, kalo buat pacar rada merayu, kalo buat 
sesama pembanyol mau abis-abisan makin gila makin asik...

KODE ETIK NAMA SAMARAN? Hehehe di pakarnas kemaren sempet ada yg nyentil 
masalah itu. Maksudnya supaya kartunnya yg tembus ke media lebih banyak lalu 
kirim banyak amplop namanya beda-beda ya? Itu kan namanya strategi pemasaran 
hehehehe... Tapi ya sapa yg larang pake nama samaran kan? di email banyak yg 
nama aslinya kita gak tau, siapa bisa larang? Banyak kartunis beken juga pake 
nama samaran, Libra, Keong... 

KARTUNIS vs REDAKSI? Kartunis ngrasa gak dianggap. Semua kartunis pernah 
ngalamin hal yg sama, ini klasik. Di media pers Redaksi itu primadona, pemain 
utama di panggung berita. Kadang posisinya bikin mereka arogan dan suka 
otoriter, bukan cuma ke kartunis, juga ke fotografer, bagian layout (misal tak 
mau motong naskah yg kepanjangan), ke bagian iklan rebutan halaman, ke 
administrasi (direken pembantu)... Sebenernya yg masih gitu cuma nunjukin bahwa 
sistem kerjanya belum mateng aja. Di Tempo yg nentuin panjangnya naskah pemred 
dan perwajahan, makanya disebutnya bukan bagian tataletak tapi redaksi 
tatamuka, sejajar dgn redaksi teks. Tapi banyak media sekarang udah ngehargain 
kartun kok...

Kartun di media seenggaknya dipake di tiga rubrik: editorial, ilustrasi dan 
rubrik lelucon bebas. Kalo kartun ilustrasi utk naskah tentu gimana crita yg 
mesti diimbuhi gambar, tugas kita cari sisi lucu dari naskah supaya orang 
tertarik baca. Kartun bebas (gag, comic cartoon atau kartun lelucon) biasanya 
dari kiriman kartunis bebas. Di Koran Tempo ada rubrik bebas gitu seminggu 
sekali kalo gak salah. Di Pikiran Rakyat malah seminggu sekali kartun bebasnya 
politik. 

Kartun editorial pun sebenernya tak bebas amat sih, selain sara dan porno juga 
tergantung sikon sosial politik. Jaman Orde Baru soal itu penting banget, 
kartunis mesti pinter baca angin. Bukannya tak bisa ngritik cuman mesti cerdik 
banget. Panji Koming lahir masa itu, makanya pilih majapahit supaya tersamar 
dan waktu jaman orba sindirannya halus bener. Dulu Pak Dwikoen suka ngeluh ke 
aku soalnya ide gambarnya harus dipriksa dulu sama redaksi takut bahaya. 
Akhir-akhir ini aja Pailul suka rada "marah" karena jaman juga berubah rada 
longgar. 

Kita mesti maklum karena kalo sampe muat yg bahaya risikonya ratusan pegawai 
dan anak beranak (ribuan) gak makan. Tempo contoh paling pahit gimana hancurnya 
media cuma gara-gara ada pejabat yg gak seneng sama berita meski udah 
diusahakan berimbang... Jaman sekarang gak beda amat, cuma caranya lewat 
pengadilan, akibatnya sama bisa abis duit buat pengacara. Jaman reformasi 
memang rejekinya pengacara...

Masalah menghadapi redaksi? Ya mau apa lagi posisi kartunis sejajar sama 
reporter dan fotografer, ilustrator, tukang infografik. Gimanapun tetep kuasa 
ada di redaksi, mereka yg tanggung jawab ke masyarakat. Cuma kadang kita 
"merasa" redaksi terlalu jauh mencampuri urusan yg bukan keahliannya: gambar. 
Lalu kartunis dianggap tukang gambarin ide redaksi doang? Inilah nasib kalo tak 
bisa bersiasat utk lebih "diakui". Gimana caranya supaya kartunis punya posisi 
yg lebih bunyi, kan? Ini tantangannya...

Perkara ketrampilan gambar baik dan memenuhi deadline itu sudah pasti kiat 
utama. Nerjemahin ide redaksi ya kalo diminta kerjain aja, sukur hasilnya lebih 
baik dari yg dibayangin redaksi. Lalu kita harus punya beberapa sketsa yg lebih 
baik dari ide redaksi utk alternatif. tapi jangan maksha... Meski low-profile 
kalo ide kita diterima lama-lama dipercaya juga. Ini bukan skill tapi sudah 
masalah wawasan. Makanya kartunis editorial sebaiknya banyak baca koran, nonton 
teve, baca buku referensi apa saja, dan yg selalu kuusulkan ke para redaksi 
media: kartunis ikutan rapat redaksi perencanaan (berita) meski cuma pendengar. 
Maksudnya supaya kartunis tau jeroan masalah satu peristiwa, nambah pinter dan 
punya wawasan baik ttg situasi politik & sosial ekonomi dll. Rapat gitu memang 
rahasia banget, jadi kartunis juga mesti teguh jaga rahasia...

Kita yg hidup di media tau kalo yg muncul di berita koran itu cuma bagian luar 
dari peristiwa, di belakang itu masalahnya lebih rumit dan sulit dibuka. Ini 
bukan cuma jaman orde baru, sekarang juga. Ini bukan karena di Indonesia, di 
seluruh dunia juga gitu... selalu ada gosip-gosip berbau "intel" di balik 
berita. Kartunis perlu tau bukannya pengen ikutan jadi pengamat politik, tapi 
biar tiap mau mulai gambar punya wawasan lebih baik ttg peristiwa. Kartunis sih 
tetep mengacu ke wawasan pembaca, dan sebaiknya kita cukup dianggap mahluk lucu 
aja deh...

KEPUASAN BATIN? curahan hati, hasrat, jati diri, kebebasan ekspresi, marah, 
dendam, nafsu, apapun namanya tidak untuk diumbar... Bikin kartun kan bukan 
buat mengekspresikan uneg-uneg gejolak batinku, kok jumawa banget aku suruh 
orang nanggapin masalahku sendiri? Apalagi lalu "Curhatku" dicetak puluhanribu 
sampe ratusan ribu eksemplar, emangnye loe siape, kata pembaca! Buatku, gambar 
di media itu semacem permainan dengan pembaca ngolah apa yg lagi rame, ya 
tebak2an, ya lucu2an, ya sindir2an apa aja deh... Jadi pembaca tau masalahnya, 
masalah bersama lah, mungkin juga mikirnya mirip, tinggal kita mainin sudut 
pandangnya aja supaya seru. Kalo liatnya gitu mungkin ada gunanya aku ngobrol 
sama pembaca lewat kartun. Kalo nyambung itulah kepuasan batin...

Banyak orang maunya kartun editorial tempat menumpahkan kekesalan masyarakat, 
marah-marah, protes dll... Mas Darta biang di Ubud, emangnya kartunis itu 
martir? Apa lalu kartun dianggap katup pelepas frustrasi pembaca? Bener sih 
kartun editorial dianggap tempat utk kritik sosial, kritik tak berarti 
muntah-muntah kan? Juga yg suka kupikir, emangnya aku harus selalu musuhan sama 
pemerentah? Kurang kerjaan, emangnye cuma SBY-Kalla yg terpenting dalam idup 
gue? Banyak cewek kece lebih memukau perhatianku (^o^)...

Musuh kita bukan orang-orang (whoever they are), tapi mungkin lebih subtil 
lagi, kebebalan, kepicikan, kesombongan, kelicikan, kemunafikan, kebodohan, 
keteledoran ... apalagi coba? Itu bahan permainan kita sama pembaca. Tinggal 
gimana caranya main, tentu selalu always, tergantung sikon, ke siapa, situasi 
dimana, kondisi gimana, enaknya diapain: bikin supaya geli? heran? nyebelin? 
bingung? ganjil? aneh? belokin? plesetin? tabrakin? itu senjata kita... waktu 
nggambar aku selalu bayangin apa reaksi pembaca, dan berusaha bayangin kemana 
imajinasinya piknik lewat gambarku.

Makanya aku selalu pingin kartunis kita jangan cuman jago gambar tapi juga 
banyak belajar tentang apapun di masyarakat biar pinter baca situasi. Kartunis 
mestinya pinter dan nakal... Kartun bukan soal jati diri, curhat, adu berani 
ato gagah-gagahan. Jiwa utama kartun menurutku: kecerdikan... 

itu saja, smoga mangpa'at, mo hibernasi lagi ah__ lam tun__ pri-s

nb: Mas Heru mana kartunnya yg dikecilin kok blon kirim? Mas Yondi lupa 
attachment ya? Kok conto kartune gak ada... ditunggu lho!

  



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/FsyolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke