Dwi Koendoro
Sang Praktisi Multi Dimensional
(di scan dari Majalah Concept)

Senin 7 Februari 2005 pagi hari Concept
diterima Dwi Koendoro di kediamannya
di daerah Bintaro Jaya. OJ ruang kerjanya
yang sederhana terletak di lantai 2tempat
tinggalnya. Ruang kerja yang dipenuhi
oleh artwork menggambarkan perjalanan
karirnya se/ama ini. Bapak tiga anak lelaki
hasil perkawinannya dengan Cik Dewasih,
lelaki multi ta/enta ini dikenal sebagai seorang
ilustrator, komikus, karikaturis, kartunis,
animator; art director, editor, desainer
grafis, film maker maupun komposer musik.
"Pekerjaan apapun yang datang pada saya
jika mampu mengerjakan akan saya terima,
kecuali misalnya saya disuruh menyanyi atau
mengobati orang," tuturnya sambil terkekeh.
Sebagai kartunis hanya/ah salah satu sisi
kehidupannya, Dwi Koendoro mempunyai
banYak sisi, maka sebutan sebagai praktisi
multi dimensional melekat padanya. Mulanya
seorang wartawan dan Fukuoka, Jepang
dalam tugas jurnalistiknya mewawancarai Dwi
Koendoro dan menyebutnya demikian setelah
mengetahui banyak talenta yang dimiliki
seorang Dwi Koendoro.

Sebagai pekerja kreatif senior Dwi Koendoro
dalah seseorang yang mampu beradaptasi
dengan teknologi, terbukti dengan adanya
PowerMac G3 (yang menurutnya sudah tua)
di sudut meja kerjanya, kenang-kenangan
dari Gramedia dalam rangka 20 tahun Panji
Koming dan satu unit PowerMac G4 di ruang
bawah. Dwi Koendoro masih CUKUP piawai
mengoperasikan software-software gratis
untuk membuat ilustrasi, storyboard dan
sebagainya. Komputer cukup membantunya
menyelesaikan tugas-tugasnya. "Komputer
hanya alat, tidak beda dengan kuas, dengan
komputer kerja saya lebih cepat" ujarnya.
lelaki kelahiran Banjar 13 Mei 1941 ini adalah
anak kandung dari karakter Panji Koming, I
Pailul, Ni Woro Ciblon, Ni Dyah Gembili, si 
Kirik dan tokoh antagonis Denmas Ariakendor. 
Tahun 1958- 1965 kuliah di ASRI Yogyakarta 
di jurusan Seni Lukis dan kemudian pindah ke
Jurusan ilustrasi Grafik. Dwi Koendoro pada 
masa itu menjadi ilustrator untuk maja
dan harian Kedaulatan Rakyat. Dwi Koendoro
tidak menyelesaikan kuliahnya seiring dengan
meletusnya apa yang disebut dengan G-30S
dan kemudian terjebur ke dunia pertelevisian
di Televisi Ekperimentil Badan Pembina
Pertelevisian Surabya sebagai Direktur
Produksi. Tahun 1972 mulai merintis karir
di Jakarta sebagai ilustrator dan kartunis di
penerbit PP Analisa, majalah Stop, majalah
Senang, kemudian di Intervista Advertising
(salah satu biro iklan tertua di Indonesia) dan
kemudian bekerja sebagi ilustrator di PT
Gramedia. Setelah menjadi Kepala Bagian
Produksi di PT Gramedia Film, Dwi Koendoro
mendapatkan tempat untuk lebih berkembang
sebagai penulis skenario, storyboard artist,
editor sampai dengan sebagai sutradara
baik untuk film iklan maupun dokumenter.
Di sini pula Dwi Koendoro sempat merasa
mengalami kemandegan, karena akhirnya
lebih banyak mengurus hal-hal yang bersifat
manajerial sehingga keahlian artistiknya
tidak tersalurkan. Setelah PT Gramedia Film
ditutup Dwi Koendoro mulai menjalankan PT
Citra Audivistama sebuah production house
yang memproduksi film dokumenter, animasi
dan iklan dan tetap menjadi staf redaksi
harian Kompas sampai sekarang. Beberapa
karya film iklannya antara lain: Intirub, Bank
Andromeda (sudah dilikuidasi), Tropicana
Slim, Taro, John Farmer, Ounia Fantasi
dan Toyota Rent A Car. Film animasinya
antara lain Pak Boros dan Asal Mula Minyak
(dengan tokohnya bernama Gawitra). Kedua
film animasi tersebut merupakan pesanan
Pertamina. Mengundurkan diri sebagai
Managing Director PT Citra Audivistama
tahun 2002 dan mendirikan Dwi Koen Studio
bersama beberapa sa~ana sastra dan desain
komunikasi visual memproduksi kartun, komik
animasi.
Pada masa Dwi Koendoro di Gramedia
karakter Panji Koming lahir yaitu pada tanggal
4 Oktober 1979. Panji Koming berasal dari
KOMpas MINGgu, karakter yang mengkritisi
kondisi sosial maupun politik dr Indonesia
dengan mengambil setting di jaman Majapahit
sebagai analogi. Di jaman Soeharto jika di hari
Minggu Panji Koming tidak hadir di Kompas
berarti Panji Koming terlalu kritis sehingga
redaksi tidak berani memuat. "Padahal saya
sudah berhati-hati membuatnya, wah kalau
tidak dimuat ya saya kehilangan honor," cerita
Dwi Koendoro sambil tertawa-tawa. Saat
rejim Orba jatuh Panji Koming lebih dapat
bersuara lantang. Oi hari Sabtu Dwi Koendoro
berkonsentrasi penuh untuk Panji Koming.
Secara kilas balik Dwi Koendoro bercer1ta
tentang pengalamannya bagaimana terpaksa
menyelesaikan Panji Koming di padang pasir
pantai Parangtritis Yogyakarta. Jumatmalam
di tengah padang pasir dengan angin dingin
perjalanan ke luar negeri, hasilnya difax ke
Jakarta. Untuk menghindarkan gambarnya
terlalu banyak bergerigi karena output mesin
tax disiasatinya dengan sesedikit mung kin
menggunakan garis. Semua dilakukan agar
Panji Koming bisa hadir di Kompas Minggu.
Saat ini dengan teknologi yang lebih maju
seperti internet dan komputer gratis, Dwi
Koendoro dapat menyelesaikan tugasnya lebih
mudah. Sampai hari ini Panji Koming tetap
hidup mengkritisi sikap penguasa.

Beberapa waktu lalu acta usaha untuk
mengangkat Panji Koming ke film yang
akhirnya tidak pernah ditayangkan sampai
saat ini. Diceritakan bahwa selama syuting
film tersebut dilakukan Dwi Koendoro tidak
mengikuti. "Hasilnya tidak acta lucu-lucunya
dan tidak akan membuat orang tertawa," .
tuturnya. Menurut Dwi Koendoro terjadi
kekeliruan karakter continuity dan scene
direction yang menyebabkan grafis filmisnya
salah juga. Oleh karenanya Dwi Koendoro
keberatan film tersebut ditayangkan karena
salah menggambarkan Panji Koming. "Boleh
ditayangkan tapi jangan dicantumkan nama
Dwi Koendoro," tambahnya. Menyoroti
perkembangan film baik layar lebar maupun
televisi Dwi Koendoro menuturkan "Kita
kehilangan 2 generasi pembuat film selama 30
tahun terakhir ditandaidengan meninggalnya

Arifin C. Noor, Asrul Sani, Teguh Karya dan
Sjumanjaya yang tidak acta penerusnya.

(bersambung belom selesai scanya)

baloemar



                
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour:
http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/FsyolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke