At 04:21 13/05/2005 -0700, RAHARDI HANDINING wrote: >.Untuk kertas saya paling suka merk 'CANSON'
Ya tentu Canson bagus, juga harganya. Jamanku masih mahsiswa (1965) biasanya belakangnya kertas duplex (yg putihnya) juga bagus, soalnya teknik cat air jaman dulu kertasnya mesti full basah dulu. Selagi basah bikin background, begitu mulai kering baru bikin detail... tapi itu teknik kuno banget... Kalo cuma buat kartun ya tekniknya mas Yondi memadai, fotokopi di atas kertas buku gambar (biasanya sih Padalarang ato Leces), lalu diwarna. Aku sendiri ngwarna kartun utk tempo dll di komputer aja, lebih nyambung sama pracetak majalah. Teknik manual cuma buat gambar yg pribadi gak dipublikasi / cetak. Selain cat air (ink & wash) yg kusuka, pinsil warna dan kapur warna / colour chalk, kayak crayon... >saya kirim kartun lagi mas pries, jangan sungkan untuk saran n kritik.... Aku mau fokus ke warna dulu aja ya.. bukan isi gambar bukan teknik gambar. Warna suasana gelap cocok utk humor gelapmu (ada orang yg mati). Yg aku heran kenapa kok layarnya mesti coklat karena, tak matching dlm harmoni warna, dan tak cocok utk suasana yg umumnya bernada sendu / biru dan hitam... Coba bayangkan warna lain yg lebih pas utk dukung suasana. Aku bisa ngerti mungkin kadang kita coba bayangkan keadaan sebenarnya, memang layar tonil biasanya coklat, seperti daun hijau, batang coklat. Tapi itu alam nyata, gambar kita alam khayal buatan kita sendiri, jadi tak penting amat nitu yg ada di kenyataan. Jadi manipulasi warna tujuan utama utk mendukung suasana yg mau diangkat. Dua tips utk warna: pertama, warna bukan diterapkan utk niru kenyataan / alam, karena dunia gambar kita bukan dunia nyata, kita bebas menentukan warna sesuai kebutuhan misi gambar kita. Anak kecil brani gambar daun ungu, kucing biru, muka ayah merah, apalagi kita... Buat kita warna di kertas kita punya hukum sendiri, harmoni kontras kromatik dll-nya itu. Yg suka kita kupa, di alam warna bisa keliatan bagus karena ada "etheral" 3 dimesi jadi semua keliatan wajar. Gambar kan full 2 dimensi makanya gak bisa ato gak pelu niru yg dilihat mata kita. Outline hitam aja sudah bukan alamiah kan? Kedua, jangan percaya sama ekspresi pribadi, aku pingin warna ini karena dapet ilham... sesuai dgn suasana hati, panggilan jiwa... Kalo alasannya itu gambarnya simpen aja di kamar sendiri buat tontonan sendiri... Yg kita mau manfaatkan saat mempublikasi gambar kita, gimana mengarahkkan perasaan orang lewat warna pilihan yg sesuai dgn mood yg diangkat. Warna buat kita alat utk bermain sama pelihat... Kembali ke gbr-mu, kalo layar misalkan biru atau kehitaman sama dgn yg lain maka fokus ada di tokoh dan yg mati karena warnanya kemerahan, dan mata kita tak terlempar kemana-mana utk bagian yg tak penting (layar). Gitu kira2 kritikku ttg warna pada kartunmu itu. Mudah2an bahasan ini bermanfaat juga buat temen lain juga... salam kartun___ pri-s ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/FsyolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pakarti/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

