halo fren,
Dibawah ini aku sertakan tulisan sekitar setahun yang lalu tentang kartun.
Apa pandangan ini sudah mulai bergeser menurut Anda?
Bagaimana pandangan Anda, yang dari media seperti koran, tabloid dan majalah 
  atau kartunis sendiri? Apa masih tetap picek (picik?)???? hahaha...

Selamat berlebaran!
Be happy!

salam,
dk

Thursday, 09 September 2004, Rubrikasi - Laporan Khusus
Kartun Masih Dipandang Sebelah Mata  

KARYA kartun sering dipandang sebelah mata. “Padahal kartun bisa menjadi 
media katarsis, pelepas ketegangan,” kata Drs Herry Wibowo, dosen Fakultas 
Seni Rupa (FSR) ISI Yogya. Dijelaskan, kartun dipandang sebelah mata, karena 
karya tersebut dianggap sebatas gambar yang memiliki nuansa lucu, humor, 
guyonan semata.
“Padahal fungsinya tidak sebatas itu, justru media katarsis inilah yang 
sering dilupakan banyak orang. Selain menghibur karena lucu, melepas 
ketegangan, juga bisa mendidik,” kata pendiri sekaligus penasihat Pakyo 
(Paguyuban Kartunis Yogyakarta).
Diakui, eksistensi kartun tidak lepas dari peran media massa, khususnya 
media cetak. Hanya sekarang, tidak semua media memberi ruang untuk karya 
kartun. “Kartun masih dipandang sebatas pelengkap penderita atau stopper, 
pengisi ruang kosong di media massa,” kata kartunis seangkatan GM Sudarta, 
Pramono, Dwi Koendoro ini bersemangat. Para kartunis itu kemudian bergerak 
membuat karya animasi, baik untuk kepentingan iklan maupun pelayanan 
informasi. Posisi kartun sering dianaktirikan, masih dianggap kurang 
berwibawa dibanding karikatur. Nyaris semua koran, tabloid, majalah tetap 
mempertahankan karikatur. “Posisi kartun di bawahnya,” ujarnya. Hal ini 
tidak lepas dari pemahaman, kartun sebatas untuk katup pelepas ketegangan 
semata, gambar yang memiliki dimensi kelucuan.
Meski demikian, jangan dianggap kartun akan mati. “Kalau organisasi kartun 
mungkin saja mati, atau organisasinya tinggal papan nama, tapi secara 
pribadi mereka yang bergerak pada kartun masih saja berkarya,” ujarnya. 
Karya tersebut untuk hiburan sendiri ataupun dikirimkan ke media cetak untuk 
dinikmati pembaca.
Khususnya di Yogya, telah berdiri Pakyo tahun 1970-an, aktivitasnya 
timbul-tenggelam. Begitu juga dengan Pakarti (Paguyuban Kartunis Indonesia), 
notabene berdirinya setelah muncul Pakyo. Kedua lembaga ini secara 
organisatoris masih ada, hanya aktivitasnya timbul-tenggelam. “Tapi, tiap 
individu saya yakin masih terus berkarya, terbukti bisa dinikmati di media 
massa,” tuturnya.
Ketika ditanyakan, apakah kartun sifatnya sebatas temporer? “Secara esensial 
kartun bukan temporer. Kartun dalam kondisi apapun masih ada. Bukankah 
setiap orang sebenarnya memiliki potensi humor, lewat kartun itulah 
penyalurannya,” tandasnya. Kalau toh orang tidak bisa membuat kartun, 
melihat gambar lucu, pasti senang juga yakni merasa terhibur. “Jadi kartun 
dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pasti akan tetap ada,” tambahnya.
Herry kemudian memberi sebuah ilustrasi, setiap ada workshop kartun, ataupun 
pilihan mata kuliah, dibandingkan komik, kartun masih direspons dengan baik 
oleh generasi muda. Herry yakin, seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan 
kartun bisa saja untuk hidup. “Maka saya sering menganjurkan mahasiswa, 
selain membuat komik, juga bisa membuat kartun,” ucapnya. Membuat kartun dan 
komik, sebenarnya tak jauh berbeda. Hanya saja, seorang mahasiswa memiliki 
potensi di bidang kartun ataupun komik, bisa ditandai dari goresan yang 
dibuatnya. Bagi yang sudah bergelut dalam dunia ini, begitu melihat goresan 
bisa dilihat bakat dan kemampuan yang dimiliki. Membuat kartun tidak harus 
ditempuh di pendidikan tinggi, banyak kartunis tumbuh dan berkembang secara 
otodidak.
Ketika ditanyakan, bagaimana kondisi kartun saat ini? “Sekarang para 
kartunis agaknya ada kerinduan untuk ngumpul, pameran dan berkarya lagi,” 
tuturnya. Menjaga stamina berkartunria, kata Herry, memang harus ada 
motivator, penggiat. Bentuk penggiat bisa memberi semangat dari kartun bisa 
untuk hidup, bukan sebatas kegiatan sambilan. Bentuk menggiatkan itu dengan 
mengajak pameran, diskusi, dsb.
Persoalan para kartunis sebenarnya klasik, bagaimana agar terus berkarya 
secara kreatif. Kemampuan berkreasi menjadi sebuah tantangan. Bukankah 
setiap masa memiliki trend sendiri, juga memiliki cara ungkap sendiri. 
“Kartunis memang harus secara terus menerus mengasah kepekaan daya humornya. 
Jangan sampai karya-karya mengalami stagnasi atau sekadar meniru, atau 
mengulang-ulang kartunis lain,” tandasnya. q - o

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/FsyolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke