iya nih. masak buku sebaik itu gak ada daftar isinya ? hehehe salam kenal dk dna -- In [email protected], "dodo karundeng" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > komentarmu bagus betul di akhir tulisanmu Don. > memang hal yang kecil, tanpa daftar isi, ya itulah dunia komik kita yang > sudah malang melintang ngomong apa saja, tapi terus saja lupa membuat > peta-nya. ya, selalu tersesat, dan memang senangnya begitu 'kali, jadi > kelihatan seoalah-olah selalu berpikir -- tapi sebetulnya bingung. > hahaha... > > dk > > >From: "Donny Anggoro" <[EMAIL PROTECTED]> > > > >Judul > >Histeria! Komikita : > >Membedah Komikita Masa Lalu, Sekarang, dan Masa Depan > >Penulis Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani > >Isi 270 halaman > >Penerbit Elex Media Komputindo, 2006 > > > > Ahli semiotika Arthur Asa Berger dalam bukunya Signs in Contemporary > >Culture: An Introduction to Semiotics mengatakan, komik sebenarnya > >memiliki banyak hal yang dapat kita baca, namun hanya jika kita > >peduli. Senada dengan Berger, buku karya tiga penulis dan komikus ini- > >Hafiz Ahmad, Beny Maulana, dan Alvanov Zpalanzani ini diterbitkan. > >Beda dengan telaah komik sebelumnya misalnya Menakar Panji Koming > >(Muhammad Nashir Setiawan, 2002) atau Kartun (I Dewa Putu Wijana, > >2005) yang cenderung ilmiah, buku ini mencoba menghadirkan telaah > >komik dan menyoroti perkembangan komik Indonesia dimulai dari > >sejarahnya dengan bahasa lebih ringan. > > > >Dimulai dari penjelasan menolak anggapan komik bukan hanya "hiburan > >dan bacaan anak" (h.11) sampai contoh karya komikus muda yang masih > >dalam proses di halaman terakhir (Komikita dan Komikamu, h.208), buku > >ini terbilang lengkap sebagai satu dari kumpulan catatan telaah komik > >terkini. > > > >Tak hanya sebagai catatan sejarah, trio penulisnya juga memberi sinyal > >bahwa komik Indonesia dari generasi sekarang patut dinikmati sehingga > >masyarakat tak harus hanya mengenang zaman keemasan komik Indonesia > >era Ganes Th, Wid NS, dan R.A Kosasih saja. Menurut mereka, meski > >zaman tersebut patut dikenang dan diakui sebagai kanon komik > >Indonesia, bukan harus melulu menjadi tolok ukur menilai perkembangan > >komik seperti ditunjukan di (h. 94) karena tiap generasi punya > >pengaruhnya sendiri-sendiri. > > > >Masalah dasar yang penting, mengapa setiap generasi toh rata-rata tak > >melahirkan penerus yang sebaiknya menyempurnakan generasi sebelumnya > >seperti pernah dicetuskan Marcel Boneff dalam bukunya Komik Indonesia > >(KPG, 1998)? Di sini mereka menjelaskan adanya problem generation gap > >yang tak disadari banyak komikus (juga pengamatnya) cukup mempengaruhi > >regenerasi komik kita menjadi mandeg. Akibatnya komik yang baru terbit > >rata-rata gagal memikat sasaran pembacanya, di samping komikusnya > >sendiri relatif belum siap memasuki industri dengan cerita dan gambar > >yang memikat lantaran selalu menunggu mood. Dalam hal satu ini, buku > >ini secara bijak menyatakan gagasan untuk tak segan-segan mengikuti > >pola kerja kolaborasi studio yang lazim dilakukan komik impor, demi > >menghasilkan komik yang bermutu. Secara komprehensif imbauan ini pun > >tak berhenti pada gagasan, melainkan juga terapan yang dapat disimak > >sebagai panduan (h.143, Belajar dari Industri Komik Dunia). Di bagian > >tentu terdapat pencerahan bahwa hadirnya komik impor jangan melulu > >dianggap "musuh", satu hal yang sering terjadi dalam diskusi komik, > >melainkan apa yang bisa dipelajari secara positif. > > > >Selain menyoroti dari sisi kreator, buku ini juga mencoba meluruskan > >pandangan keliru dari sisi pengamat komik. Tengoklah bagian Look > >Who's Reading! (h.160). Di sini mereka mengeritisi para pengamat komik > >sendiri yang sialnya tak sungguh-sungguh membekali diri dengan sejarah > >komik yang memadai. Akibatnya telaah yang ada cenderung repetitif > >(mengulang pernyataan pengamat, sejarawan, atau budayawan yang lebih > >dulu menilai) jika enggan disebut sebagai kilasan gosip, selain > >ternyata ada juga yang tak sungguh-sungguh membaca komik klasik > >Indonesia. Pada bagian ini mereka menyebut dampak terburuk tatkala > >mereka mengeritik karya komikus muda, yaitu kritik yang cenderung > >menghakimi atau mematikan semangat, lantaran menilai komik hanya > >sepotong saja. Satu hal yang sebetulnya patut disimak juga karena tak > >hanya "berjangkit" di dunia komik saja, melainkan juga di ranah seni > >lain, misalnya sastra dan film. > >Masih berkaitan dengan masalah generation gap, tentunya akan sulit > >menilai komik dengan kritis sehingga komik-komik yang cukup baik dan > >pernah ada belakangan ini pun nyaris luput ditelaah oleh pemerhati > >komik kita sendiri! > > > >Peran pers yang lebih banyak mengulas karya komik indie juga tak > >ketinggalan. Karena persepsi istilah indie dan underground di sini pun > >masih kabur (antara pengertian indie yang sungguh-sungguh "melawan > >kemapanan" atau hanya jadi metode penerbitannya saja) sehingga gerakan > >komik indie kurang kuat memberi pengaruh budaya seperti di Amerika, > >pers pun juga terjebak dalam posisi "menanti karya unggul dari komikus > >indie". Padahal jika mau lebih arif, cukup banyak komik lokal yang > >"tidak harus indie" toh cukup bernyali sebagai karya seni mutakhir. > > > >Dampaknya jika dikatakan regenerasi komik lokal mandeg-seperti umumnya > >lontaran pembuka pembahasan komik lokal di media massa- tak sepenuhnya > >betul lantaran baru sebagian kecil saja yang terbahas. > >Satu hal lain yang perlu direnungkan, buku ini juga menggugat > >identitas bangsa- hal lain akibat generation gap- yang umumnya sering > >mendiskreditkan karya komik "kurang Indonesia". Di halaman 107 dengan > >memberi contoh komik antar bangsa Batman Child of Dreams karya Kia > >Asamiya yang mengolah Batman menjadi manga tanpa menanggalkan rasa > >aslinya dari Amerika, sebenarnya memberi bukti memang ada > >keterpengaruhan yang memerkaya, daripada hanya merasa karya yang baik > >harus lokal-kontekstual-orisinil dari negeri sendiri- satu hal yang > >juga menjadi problem dalam membuat karya seni lainnya di Indonesia. > > > >Untuk hal ini sejarawan Lewis W. Spitz dari Universitas Stanford dalam > >tulisannya Sejarawan dan Ia Yang Lanjut Usianya (God and Culture, D.A > >Carson/John D. Woodbridge (ed.), sebenarnya sudah mengingatkan bahwa > >seperti perkembangan semua umat manusia lainnya, sejarah pun > >memerlukan penglihatan ke depan seperti juga hikmat akan pandangan > >masa silam. Dengan kata lain, jika mau berkembang, sejarah pun juga > >harus dilihat sebagai cermin untuk memerbaiki keadaan ke masa depan, > >bukannya terkungkung ke masa lalu dengan bertumpu pada pola pikir > >"harus lokal-kontekstual". > >*** > >Penggunaan ilustrasi dalam buku ini juga tak hanya menjadi dekor > >karena sebagian menyatu dalam teks- mirip yang dilakukan komikolog > >Scott Mc Cloud dalam buku Understanding Comics- sebuah buku telaah > >komik yang sampai kini menjadi referensi paling memadai sebagai upaya > >menilai komik sebagai karya seni seperti buku Will Eisner, Comic and > >The Sequential Art. Bedanya, dalam buku ini trio penulis yang menyebut > >dirinya "Martabak" (Mari Kita Bahas Komik) ini tidak seluruhnya > >mengolah teks buku menjadi gambar. > > > >Meskipun penyajian buku ini cukup berhasil bahkan bijaksana dalam > >menilai komik, ternyata masih ditemukan kekurangan elementer yang > >mungkin tak disadari penulis (juga penerbitnya): tidak ada daftar isi, > >walau buku ini memuat daftar kepustakaan. Barangkali ini masalah > >kecil, tapi rada merepotkan bagi pembaca yang sudah melangkah ke > >sebuah halaman, ternyata di halaman berikut dalam buku ada himbauan > >untuk menengok pembahasan lain di helai halaman sebelumnya. > >Terlepas dari kekurangannya, buku ini patut dihargai sebagai ikhtiar > >mulia menghargai seni komik Indonesia dengan caranya sendiri secara > >jenaka dan bijak tanpa harus menanggalkan kesungguhan menilainya > >sebagai karya seni.* > > > > > > > > > >Kompas, 9 Juli 2006 > > > > > > > > > > > > > > > > > >Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > _________________________________________________________________ > FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! > http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/ >
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/FsyolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pakarti/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

