Mahtum, Tokoh Pers itu Berpulang
DUNIA pers Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Wartawan senior, tokoh pers sekaligus pemilik sejumlah surat kabar di Indonesia, H Mahtum Mastoem SE MM meninggal dunia di Rumah Sakit Cikini, Jumat (3/11) pada pukul 04.30 akibat mengalami serangan jantung.

Almarhum yang juga menjabat Direktur Utama Radar Cirebon ini meninggal di usia 57 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri Nuryetti dan empat orang putra Novie Nurmarina, Dwi Nurmawan, Isni Nurmarisa dan Rendy Nurmayanto. Jenazah H Mahtum dimakamkan di TPU Al-Kamal Kedoya Jakarta pukul 13.30 usai Salat Jumat.

Sejumlah tokoh pers nasional seperti Goenawan Moehamad, Jacob Utama, Syafik Umar dan sejumlah tokoh lainnya hadir dalam pemakaman yang digelar secara khidmat itu. Mereka memberikan prakata dan kesan terakhir terhadap almarhum baik sebagai rekan, teman seprofesi maupun sahabat seperjuangan.

Direktur Radar Cirebon Yanto S Utomo mengatakan bahwa almarhum masuk rumah sakit Cikini pada Selasa (31/10) siang sekitar pukul 14.00. “Beliau masuk rumah sakit karena serangan jantung. Sebenarnya penyakit tersebut sudah lama dideritanya. Namun, sepertinya tak pernah dirasa, dia terus bekerja, bekerja dan bekerja,” ujar Yanto.

Saat masuk RS Cikini, almarhum yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pusat ini langsung dirawat intensif di ICU. Serangan jantung yang dialami almarhum termasuk mendadak. Selasa pagi, sekitar pukul 08.00 H Mahtum masih terlihat segar. Karena beliau hendak memberikan ceramah Bisnis Pers di Harian Umum Sinar Harapan.

Nah, usai memberikan ceramah, rupanya kondisinya mulai drop bahkan sempat tak sadarkan diri. Saat itu juga langsung dibawa ke RS Cikini. “Saat saya menjenguknya, mendapat kabar bahwa almarhum kondisinya kritis. Saya hanya menunggui di luar ruangan saat beliau terbaring di ICU, karena memang tak diperbolehkan dijenguk oleh pihak rumah sakit,” jelasnya.

Rupanya, kondisi jantung pria kelahiran Bumiayu 4 Agustus 1949 ini semakin parah, sehingga pada Jumat pagi Tuhan memanggilnya. “Sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai atasan, beliau layak disebut sebagai tokoh. Tentu saja, kita sangat kehilangan sosoknya yang kharismatik dan kritis itu,” papar Yanto seraya mengaharapkan doa agar pahala atas segala amal perbuatannya dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Pada Rabu (1/11) kondisi almarhum sebenarnya mulai membaik. Bahkan pada Kamis (2/11) almarhum sudah bisa bicara. Sejumlah tokoh sempat menjenguk dan ngobrol dengan almarhum, walau selang masih belum dilepas dari hidungnya. Termasuk bos Kompas, Jacob Utama.

“Saya sempat berbincang-bincang dengan almarhum. Yang saya tak pernah lupa, almarhum mengatakan bahwa sangat siap untuk meninggalkan dunia ini. Saya pikir ungkapan itu hanya gurauan. Tetapi ternyata misteri tersebut menjadi kenyataan. Bung Mahtum telah meninggalkan kita,” ungkap Jacob ketika memberikan sambutan atas nama SPS setelah almarhum dimakamkan.

DEDIKASI KE PERS

Sebagian besar hidup H Mahtum bisa dibilang didedikasikan demi kemajuan bisnis pers. Bayangkan saja, sejak usia 19 tahun, tepatnya tahun 1968, H Mahtum sudah menjadi seorang wartawan di Harian Pelopor. Sebuah surat kabar terbitan Jogjakarta.

Ini membuktikan bahwa kegigihannya dalam meraih kesuksesan patut diteladani. Setahun hasil tempaan Harian Pelopor, Mahtum muda mulai merantau di Jakarta. Ya, setelah diterima sebagai wartawan Mingguan Gema Pertiwi. Dia juga sempat jadi reporter Mingguan Siaga lalu Majalah Djaja.

Karirnya terbilang cepat. Setelah serangkaian media penerbitan tempat dia bekerja, pada akhir 1971-1994, karirnya menjadi melejit setelah Majalah TEMPO mengangkatnya sebagai wakil direktur. Pada saat yang hampir bersamaan H Mahtum juga memegang kendali sebagai pemimpin perusahaan di Majalah MATRA. Kemudian berturut-turut menjadi direktur di Majalah GATRA dan GAMMA.

“Serangkaian pengalaman itu yang membuatnya mantap saat mendirikan berbagai media penerbitan, khususnya yang berbasis Radar. Itu setelah beliau bergabung dalam WSM (Wahana Semesta Merdeka) Grup,” ujar Yanto.

Menariknya, lanjut dia, penerbitan yang jumlahnya sekitar 25 koran dan tabloid itu sebagian besar sukses. Mungkin karena basic-nya di perusahaan. Sehingga beliau paham betul seluk beluk bisnis pers di Indonesia. Selain itu ketekunan, ketelitian dan kesabarannya turut mendukung dia menjadi tokoh pers yang besar. (nan)


Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. __._,_.___


SPONSORED LINKS
Indonesia phone card Indonesia tour Indonesia travel
Indonesia flower Indonesia diving

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke