>From: pupa mea <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [publikseni] JOGJA IN COMIC EXHIBITION
>Date: Wed, 15 Nov 2006 10:11:54 +0000 (GMT)
>
>JOGJA IN COMIC EXHIBITION
>
>   Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Piktorial
>   Urban Piktorial mempersembahkan sebuah pameran dan peluncuran buku komik 
>tentang Yogyakarta—yang merupakan hasil dari kompetisi komik Yogyakarta 
>yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta pada awal 2006 ini.
>
>   Pembukaan hari  Minggu, tanggal 19 November 2006, pukul. 19.00 WIB.
>   di Taman Budaya Yogyakarta
>   Jl. Sriwedani no. 1 Yogyakarta
>   Phone. [0274] 580771
>
>   Acara ini akan berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta pada
>   19-25 November 2006.
>
>   Simak Pengantar St Sunardi—yang kebetulan akan membuka pameran 
>ini—sebagai perspektif bandingan buat Anda yang berkeinginan untuk datang 
>menonton:
>
>
>   Ruang Publik Boleh Langka, Asal Jangan Ruang Komik
>
>   Buku Jogja in Comic merupakan kumpulan lima karya komik  terbaik  dari 
>Kompetisi Komik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya pada awal 2006. 
>Komik pertama, “Gobak Sodor Sawijining Komik” menggambarkan rasa frustrasi 
>anak-anak karena ruang ruang bermainnya semakin menyempit, kalau bukan 
>lenyap. Dalam “Kota Seni”, komik kedua, dilukiskan seorang tukang bakso 
>yang ternyata lebih melek seni daripada seorang mahasiswa yang tidak tahu 
>apa yang dilakukan untuk mengisi waktu kosongnya kecuali sibuk membaca buku 
>porno. Komik ketiga, “Marini, Masih Ada Jathilan Yang Lewat”, berisi cerita 
>tentang orang yang sudah terasing dengan seni-seni tradisional. “Selamat 
>Datang di Kota Revolusi”, komik keempat, melukiskan sejarah heroisme Kota 
>Jogja sambil menunjukkan seakan-akan orang-orang Jogja sudah bebas dari 
>penjajah padahal belum. Komik terakhir yang berjudul “Brondoyudo Manyun 
>Binangun” (Plesetan dari Barata Yuda Jaya Binangun) memperlihatkan sisi 
>lain dari Yogyakarta: konflik antar
>  “gang”  di Malioboro untuk memperebutkan lahan.
>   Persoalan ruang bermain anak, kedudukan Jogja yang merana sebagai kota 
>seni, keterasingan orang jaman sekarang dengan seni-seni tradisional, 
>krisis herorisme jaman sekarang, dan keruwetan Malioboro – semuanya 
>bukanlah isu  baru, semuanya sudah banyak dibicarakan entah di media, di 
>ruang-ruang seminar, dalam kampanye pilkada, maupun di obrolan ringan di 
>berbagai tempat. Kalau tema-tema itu muncul lagi dalam kumpulan komik ini, 
>hal itu menunjukkan bahwa persoalan-persoalan tersebut memang menjadi 
>persoalan nyata. Isu-isu diangkat kembali lewat medium komik. Hasilnya? Ada 
>nuansa baru. Suasana gemas sangat dominan. Suasana ini pertama-tama kita 
>rasakan lewat ilustrasi daripada pesan tekstual. Trotoar untuk pejalan kaki 
>sudah diserobot untuk kendaraan bermotor, hiruk pikuk biennal dan events 
>kesenian lainnya ternyata belum berhasil menggugah warga untuk melek seni, 
>Malioboro yang disediakan sebagai wilayah untuk rileks ternyata 
>dikotak-kotak oleh kekuatan-kuatan invisible, dan
>  sebagainya. Dalam perasaan gemas ini para kontributor buku ini mencoba 
>untuk bersikap comical, mengambil jarak, menghela nafas. Jenis komunikasi 
>inilah kiranya yang bisa kita apresiasi dari kehadiran kumpulan komik 
>tentang Jogja.
>   Orang bilang, budaya pada dasarnya adalah komunikasi. Kalau komunikasi 
>sudah tidak subur lagi, bukankah kita harus mencari cara dan medium 
>komunikasi baru? Untuk mengapresiasi komik ini sebaiknya kita juga 
>menempatkannya dalam konteks kejenuhan medium komunikasi yang ada. Konon 
>kemunculan komik (mungkin proto-komik) terkait dengan para ilustrasionis 
>“nakal” Abad Pertengahan di Barat yang tugasnya hanya memberi ilustrasi 
>(dan dekorasi) pada buku-buku sehabis disalin, entah buku-buku keilmuan 
>maupun buku-buku keagamaan. Akan tetapi lama-lama mereka “berani” 
>memberikan berbagai ilustrasi yang bernada setengah mengejek. Di situlah 
>dimulai ruang bertanya (-tanya) dengan menggunakan ilustrasi. Jadi komik 
>rupanya lahir dari kebutuhan untuk mengomentari apa saja yang sudah mapan. 
>Orang tidak mau lurus-luruh saja. Fungsi komik ini masih kita rasakan 
>sampai sekarang. Dalam hidup senantiasa ada sudut-sudut yang bisa 
>dipertanyakan – walau getir – dan tidak semata-mata untuk
>  dijelaskan dan diperintahkan. Di situlah komik hadir. Komik bukan 
>semata-mata cerita bergambar atau gambar bercerita namun sejenis sikap 
>hidup tertentu. Jenis ini kita beri nama komik.
>   Sehubungan dengan itu saya mempunyai satu catatan panjang  sekaligus 
>komentar untuk mencari jenis komunikasi yang kita cari bersama lewat komik.
>   Kini komik – entah disebut seni atau bukan - sudah menjadi medium 
>komunikasi penting dan meluas. Dulu komik dianggap sebagai bacaan ringan 
>malah tidak bermutu sehingga banyak anak dilarang oleh orang tuanya untuk 
>membaca komik. Banyak anak terpaksa sembunyi-sembunyi membaca komik. 
>Sekarang? Semuanya berubah. Orang semakin yakin bahwa komik memang medium 
>komunikasi yang ringan namun persoalan yang diangkat tidak senantiasa 
>ringan. Oleh karena itu sering kali orang memilih medium komik untuk 
>membahas hal-hal yang serius.
>   Hal ini pernah saya alami pada awal tahun 1990-an ketika saya 
>mendapatkan oleh-oleh berupa buku komik Nietzsche for Beginners. “Ah kurang 
>kerjaan kapitalisme buku ini”, pikirku. Begitu saya buka-buka sambil dibaca 
>secara cepat, saya tidak bisa tidak mengatakan “Dahsyat!” Benar-benar 
>comical. Berbagai idiom Nietzschean yang selama ini saya kenal muncul dalam 
>bentuk-bentuk ilustrasi di luar bayangan saya. Saya lalu mulai mencari-cari 
>siapa gerangan penulis dan ilustratornya. Karena, pikirku, tanpa menyelami 
>betul semangat Nietzsche, niscaya mereka tidak mungkin menghasilkan sebuah 
>komik Nietzsche yang ekspresif, kaya dengan emosi. Malah untuk beberapa 
>tema, komik ini jauh lebih bagus daripada buku Nietzsche sendiri! Bagi 
>pembaca karya ini memang for beginners (untuk pemula), namun bagi penulis 
>dan ilustrator, ini bukan for beginners. Ini hanya mungkin dibuat setelah 
>mengendap. Betapa persoalan-persoalan serius yang selama ini membuat kepala 
>pening bisa dijelaskan dengan
>  riang jenaka dan … kena! Ungkapan-ungkapan klasik yang diramu dan 
>dikombinasikan dengan ilustrasi menarik. Komik mengajak kita untuk tidak 
>berlama-lama bicara tentang sesuau namun juga mengajak kita untuk 
>cepat-cepat mengambil sikap.
>   Nietzsche for Beginners hanyalah satu di antara seri For Beginners yang 
>mengalir ke Indonesia dan malah sebagian besar sudah diterjemahkan ke 
>bahasa Indonesia. Komik ternyata tidak hanya diadopsi oleh dunia akademik. 
>Kelompok-kelompok gerakan (misalnya gerakan perempuan) juga sudah 
>menggunakan komik sebagai medium komunikasi. Berkat komik, gerakan 
>perempuan di Indonesia lebih mudah dipahami oleh orang-orang Australia, 
>gerakan perempuan di Iran lebih mudah dipahami oleh orang-orang di 
>Indonesia. Dalam Politik dan Gender yang diterbitkan oleh Yayasan Seni 
>Cemeti, kita juga menemukan biografi seorang perupa perempuan Arahmaiani 
>dalam bentuk komik. Komik rupanya sedang menjadi fashion. Komik sebagai 
>medium komunikasi mulai dikagumi orang yang mungkin sudah mulai bosan 
>dengan jenis-jenis medium komunikasi yang ada.
>   Dalam peta perkomikan seperti itulah kita bisa membaca Jogja in Comic. 
>Kumpulan komik ini bisa kita tempatkan dalam berbagai medium komunikasi 
>yang sudah ada di Jogja. Sebagai kota pelajar dengan ratusan perguruan 
>tingginya, sebagai kota revolusi dengan berbagai cerita kepahlawanannya, 
>sebagai kota pariwisata dengan berbagai kisah eksotisnya, dan sebagai 
>pewaris kerajaan Mataram dengan status keistimewaannya, Jogja niscaya 
>memiliki berbagai medium komunikasi untuk terus-menerus mengenal jati 
>dirinya, merumuskan masalahnya, dan merancang masa depannya. Di 
>tengah-tengah kekayaan medium komunikasi ini ternyata komik bisa menjadi 
>salah satu medium menarik. Imaji ilmiah, imaji heroik, imaji eksotik, dan 
>imaji struktural masih perlu dilengkapi dengan imaji comical. Imaji comical 
>inilah yang sedang dibangun oleh Jogja in Comic. Memang di sana-sini saya 
>masih melihat kuatnya hegemoni negara dalam komik ini (terutama lewat teks) 
>namun tidak demikian halnya kalau kita melihat aspek
>  visualnya.
>   Dari catatan panjang itu saya menjadi tidak khawatir dengan isu yang 
>dibicarakan dalam komik itu sejauh ruang komik terus-menerus dikembangkan. 
>Pengalaman menunjukkan kita dengan mudah bisa menambah fasilitas dan ruang 
>(fisikal) untuk komunikasi. Akan tetapi, apalah artinya fasilitas dan ruang 
>itu bagi kemajuan komunikasi kalau tidak melahirkan imaji baru? Bukankah 
>itu komik baru baru kita? Ruang publik boleh menyempit, asal jangan ruang 
>komik.
>
>   St. Sunardi
>   Ketua Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata 
>Dharma Yogyakarta
>
>
>   Urban Piktorial
>   merupakan lembaga independen non komersial yang bergerak di wilayah 
>penelitian, pengajian, dan penerbitan komik dengan pendekatan yang lebih 
>kritis dan inspiratif. Proyeksi ini akan menjadi sebuah kanal bagi 
>perkembangan pemikiran lanjutan di berbagai bidang studi. Inilah titik 
>paling penting dari setiap kerja yang akan kami lalukan melalui terbitan 
>komik.
>
>   Alamat:
>   Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15,
>   Yogyakarta. Telp./Fax (0274) 620606
>   Email: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pakarti/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke