Oleh Donny Anggoro

Ini memang kisah lama ketika Kho Wang Gie alias
Sopoiku, Teguh Santosa, Ganes TH, Jan Mintaraga,
Hasmi, R.A. Kosasih, Wid NS, dan sederet
komikus-komikus Indonesia lainnya mengisi lembar
sejarah komik Indonesia.
 
Memang di tengah gempuran komik impor, komik Indonesia
masih ada, antara lain lewat gerakan komik underground
sedangkan lainnya mencoba masuk sebagai bagian
industri komik. Misalnya menjadi salah satu tim inker
seperti Teguh Santosa yang pernah terlibat dalam komik
serial Conan (Marvel) atau komikus lain yang ditangkap
studio komik luar negeri. Bahkan sempat dilansir,
beberapa tim animator Doraemon dan film-film Walt
Disney dikerjakan orang Indonesia. Lainnya lagi
mencoba hidup dari “kemurahan hati” pebisnis media
cetak dengan membuat komik strip dan kartun di
koran/majalah atau menerbitkan komik dengan gaya yang
disukai pasar masa kini.

Terlepas dari keterkaitannya dengan kepentingan bisnis
dan sekedar survive para penggiatnya untuk hidup,
sampai kini harus diakui nyaris tak ada inovasi
dikembangkan untuk menggairahkan komik Indonesia.
Meskipun perkembangan ilmu dan teknologi sudah banyak
dikuasai komikus, illustrator, sampai animator kita,
nyatanya mereka tetap terpuruk menjadi pekerja saja,
pun sampai ke luar negeri. Industri luar negeri pun
sebenarnya memanfaatkan tenaga mereka yang tanpa sadar
dibayar lebih murah dibandingkan pekerja dari negara
lain. 

Komikus kita hampir selalu mandek lantaran terlalu
tunduk pada “selera saudagar” yang bukannya sedikit
agak menyelamatkan seperti produksi film kita dengan
menjadi glamor. Komik kita ambruk tanpa ada yang
sungguh-sungguh membantunya berdiri kembali lantaran
pengertian menghidupkannya di zaman sekarang masih
terkungkung dengan “hanya menerbitkan buku” bukan
menempuh cara lain yang dapat mengukuhkan
keberadaannya.

Berbagai pencapaian kreatif seperti bibit gaya
bertutur ala novel grafis yang tampak pada Tekyan
(Yudi Sulistya/M.Arief Budiman), ide menghadirkan
kembali ikon superhero Indonesia dengan gaya komik
Marvel Caroq (Thoriq/Pe’ong), humor-parodi kehidupan
sosial (Panji Koming, Doyok, duet Benny-Mice), komik
strip bisu Gibug-Oncom (Wisnoe Lee), pendekatan filmis
dalam Taxi Blues (Erwin Primaarya), komik strip dengan
nuasa sketsais (Rachmat “Libra” Riyadi, Eko Nugroho)
sampai yang tegas menyatakan diri sebagai novel grafis
Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahadian), dan lain-lain
hanya ditangkap segelintir orang tanpa tindak lanjut. 

Apa boleh buat, para komikus kita hampir selalu tak
pernah punya kesempatan berkembang. Penerbitan
komik-komik mereka (jika sudah berhasil dipinang
penerbit) jarang berumur panjang sehingga begitu cepat
menghilang dari pasaran. Masyarakat yang baru ngeh
pada karya-karya mereka jadi sulit mencarinya.
Komentar lain yang sering muncul, cerita komik kita
sudah jarang lagi yang mampu membuat calon pembacanya
ketagihan. Komentar tersebut memang ada benarnya
sehingga banyak ide komik kita nyaris berkelebat dalam
tiga nomor saja, sesudah itu menghilang dengan banyak
faktor: cerita jelek, karakter lemah, atau yang
terburuk, memang tidak laku. 

Jika memang sudah begitu banyak potensi dilahirkan
sudahkah dipikirkan ide mensinergikan upaya lain agar
komik kita bisa hidup? Nampaknya belum, meskipun
masuknya komik impor sudah lama memberi contoh.
Semisal, dalam industri komik impor ada begitu banyak
komponen yang memudahkan pengimpor: satu karakter
komik bisa diimpor sekaligus dengan produk merchandise
lain seperti film kartun, album musik soundtrack, buku
mewarnai, sampai termos minuman. 

Lantaran terlalu lama budaya konsumen menjangkit,
kehidupan komik Indonesia sebenarnya dimatikan
masyarakatnya sendiri secara bisnis sambil menuding
daya capai komikus-komikus kita kebanyakan belum
meyakinkan. Tudingan ini memang tidak sepenuhnya salah
meskipun memang menjadi salah ketika pada kenyataanya
belum apa-apa kreativitas komikus muda sudah
dimatikan, misalnya dengan tidak menerbitkan karyanya
lagi setelah komiknya tidak laku di pasaran. 
Sekedar contoh, bentuk karakter Walt Disney sampai
Spider-Man ketika di awal pemunculannya juga kurang
meyakinkan. Tapi lantaran bekerja dalam industri,
bentuk karakter dan cerita terus berkembang. Sangat
jarang terjadi sebuah karakter tiba-tiba diputus
sedangkan kisahnya sendiri belum tamat hanya karena
alasan “tidak laku”. 

Tiada yang menyadari dampaknya juga mengekang potensi
lain yang masih “bersaudara“ dengan komik, misalnya
animasi yang lebih banyak hidup dalam industri
periklanan, bukan karya mandiri.

Bagaimana mau menjadi paling tidak dikenal dulu,
ketika dalam usaha merebut perhatian penggemar muda
zaman sekarang sudah dihadang? Bukankah sebenarnya
sistem kerja industri studio komik yang ideal di sini
sudah dikenal dalam produksi komik manga, misalnya?
Jika sistem kerjanya sudah dikenal mengapa tidak ada
yang mau membiayai sebuah studio komik untuk berkarya?

Bagaimana mau maju ketika dalam usaha mengembangkan
satu karakter komik yang sebenarnya potensial menjadi
produksi massal nyatanya tidak ada kegiatan lain yang
bisa disinergikan, misalnya membuat film animasinya,
membuat bonekanya, atau mensinergikannya dengan
teknologi video games yang ada? Apakah selama ini
memang belum disadari bahwa membuat komik -dalam iklim
industri- idealnya juga kerja kolektif bukan seorang
diri seperti yang selama ini terjadi?    
Usaha lain untuk menghidupkan komik kita baru sampai
pada penerbitan kembali komik klasik seperti Si Buta
dari Goa Hantu atau Gundala (sebentar lagi Si
Djampang) yang bisa terbit berkat jasa penggemar
lamanya. 

Entah sampai kapan komikus kita menjadi yatim piatu
karena baru diterima industri yang membunuhnya
sedangkan ia lebih dibutuhkan sebagai “pekerja”
ketimbang menjadi komikus. 

Sejarah komik kita memang tua dengan melahirkan
senior-seniornya tapi menjadi komikus di sini belum
sebanding pengakuannya misalnya dibandingkan dengan
sastrawan yang tetap dihargai meskipun idenya tidak
diterima kebanyakan orang. Sastrawan yang gagal bisa
menerbitkan karyanya di tempat lain sedangkan untuk
komikus nyaris tak ada tempat sehingga ia selalu
terengah sendirian menjadi pejuang kecil di jalur
indie dan mainstream atau menjadi kontributor komik
strip di media massa.   

Komikus menjadi profesi tersendiri yang bermanfaat
dalam ruang kosong. Ia mencari dan ditemukan publiknya
sendiri, tapi nyaris tak bisa keluar dari dunia yang
sempit ruang geraknya: festival komik. Sekedar contoh,
terbit kembalinya beberapa judul komik klasik
Indonesia (di hadapan publik dengan distribusi
terbatas pula) nyaris hanya hidup di benak penggemar
lamanya dengan ruang gerak yang juga sempit, meskipun
dari komik klasik pun juga terbuka peluang
mengembangkan keberadaan komik. 

Di tengah budaya konsumen dan iklim pemikiran mendapat
keuntungan dalam waktu cepat, komik kita yang
sekarat-antara hidup dan mati- sementara ide-ide
pemerhatinya menguap di berbagai etalase kebudayaan,
tak kunjung ditanggapi dalam dunia yang asyik sendiri.


Individualisme merebak begitu kuat dengan paradoks
hebat ketika pribadi komikus nyatanya sama sekali tak
berarti di hadapan kekuasaan besar yang hidup dalam
ketidakterdugaan. 

Pertanyaan mengusik, sampai kapan kita tinggal sebagai
bagian dari ketidakterdugaan itu?

Rawamangun, November 2006 




 
  kunjungi: http://doro2020.blogspot.com/


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke