Sekadar tulisan ringan dari blog saya. Semoga berkenan membaca. ------
Tukang Komik yang Tak Bisa Menggambar "Wah,pasti pintar menggambar, dong!" Komentar semacam ini berkali-kali saya dengar tiap kali saya menyebutkan profesi saya adalah penulis komik. Biasanya komentar itu diiringi dengan ekspresi wajah antusias. Namun, seketika ekspresi itu dilipat kerutan bertumpuk di dahi ketika saya jelaskan bahwa saya tidak bisa menggambar atau melukis. Kalau sudah begini, mau tak mau saya sedikit panjang lebar memberi keterangan tambahan. Dalam pengerjaan komik, ada dua bagian utama. Menulis cerita (naskah) dan menggambar (visualisasi). Keduanya bisa dikerjakan sekaligus oleh satu orang saja. Contohnya, komik yang dikerjakan para maestro komik Indonesia seperti, R.A Kosasih, Teguh Santosa, Yan Mintaraga, Wid NS, dan lain sebagainya. Demikian juga `Kisah Petualangan Tintin' karya Herge, atau komik `Smurf' Karya Peyo. Banyak juga komik yang naskah dan gambarnya dikerjakan oleh orang yang berbeda. Komikus sekelas A. Uderzo (Prancis) pun melakukannya. Sejumlah komik `Kisah Petualangan Asterix' yang terkenal dikerjakan Uderzo berdasarkan naskah yang ditulis oleh R. Goscinny. Kolaborasi semacam ini banyak sekali. Komik `Agen Polisi 212′ adalah hasil keroyokan Daniel Kox (gambar) dan Raoul Cauvin (naskah). Achde, Komikus `C.R.S/Polisi Huru Hara' juga bekerjasama dengan Erroc sebagai penulis naskah. Di Indonesia, Garin Nugroho menulis naskah untuk komik `Kisah dari Aceh' yang divisualisasikan oleh Budi Riyanto Karung. Komik `Jakarta 2039′, dan `Sukab Intel Melayu' adalah karya kolaborasi Seno Gumira Ajidarma (naskah) bersama Zacky (gambar). Komik di era industri, dimana sebuah komik yang mesti terbit setiap bulan, cukup sulit untuk dikerjakan oleh satu orang. Bahkan oleh dua orang sekalipun. Komik Sains Kuark yang terbit di Jakarta misalnya, paling tidak membutuhkan 3 orang. Penulis, ilustrator, dan penata letak/desainer. Itu pun jika editor tidak dihitung. Ada pula pengerjaan komik yang dilakukan dengan sistem ban berjalan. Seperti halnya sistem pengerjaan konvensional, komik ini juga dikerjakan dengan 2 tahapan utama. Hanya, pada tahapan visualisasi tidak cukup dikerjakan oleh satu ilustrator. Melainkan oleh satu tim visualisator yang terdiri dari penciler, inker untuk tahapan pewarnaan, dan penata letak. Nah, biasanya kalau sudah berpanjang-lebar menjelaskan tentang komik saya bisa lupa menutupnya. Padahal, intinya cuma ingin menekankan bahwa urusan bikin komik tidak hanya urusan menggambar. Tidak tertutup kemungkinan bagi orang yang tidak bisa menggambar untuk bikin komik. Bisa saja menyumbang naskah, bisa juga mengerjakan perwajahan/tata letak.### http://softtext.wordpress.com/

