Judul Siji (Serikat Jagoan Indonesia) Penggambar M. Arief Russanto,Ricky Novaldo, Admiranto Wijayadi, Wisnoe Lee, Ahmad Zeni & Kenny Cerita Cahyo Widiyatmoko Supervisi Beng Rahadian Produser Dhiar LA Isi 118 halaman Penerbit Jagoan Comics,2008
Apa jadinya jika superhero Indonesia berkumpul? Tentunya kita akan mengharapkan cerita yang seru dari sinergi perkumpulan ini sesuai tagline buku ini yaitu : "saatnya bersatu!" Dan, memang lembar demi lembar komik ini memang seru. Nyaris tak ada ruang kosong sedikitpun yang smeuanay dihiasi gambar-gambar yang "rame". Beberapa adegan perkelahian superhero digarap dalam gambar-gambar yang apik nan memikat. Mereka adalah Aryageni (manusia api), Zantoro,Gunturgen (manusia halilintar), Blacan, dan Winda yang ahli senjata plus bela diri. Kendati rata-rata penggarapan komik ini bisa dibilang spektakuler sayangnya Siji sangat lemah dari segi cerita. Dalam komik berwarna yang tebal tanpa nomor halaman ini tidak menyebutkan kenapa musuh mereka muncul dan alasan mereka melawan para superhero dalam cerita ini yang mungkin tiba-tiba "hanya' ingin menghancurkan kota Jakarta. Tiba-tiba mereka melayang di udara membuat kejahatan tanpa kejelasan yang pasti sehingga sungguhlah sayang komik yang secara teknis penggambaran serta mutu cetakannya tak kalah dengan komik impor ini tampak kedodoran dari segi cerita. Yang agak mengecewakan juga ada tokoh manusia api (Aryageni) yang jelas-jelas mengadaptasi Human Torch dari serial Fantastic Four yang belum lama ini beredar filmnya di bisokop nasional. Adaptasi demikian memang tak sepenuhnya salah tetapi apakah kita kurang mampu menciptakan tokoh hero sendiri yang asli Indonesia? Baiklah, hal demikian masih bisa dimaafkan demi kebutuhan cerita karena bukankah tokoh superhero legendaris yang pernah diciptakan di sini juga tiruan dari superhero barat macam Godam (dari Superman) atau Gundala (dari The Flash)? Sayangnya hal demikian kendati dapat "dimaafkan" tidak terselamatkan dari segi cerita yang kurang menggambarkan alasan musuh-musuh mereka muncul mengacaukan Jakarta sebagai setting cerita ini. Akibatnya pembaca hanya terpuaskan dari segi teknis grafis visual saja. Para superhero di sini pun juga tidak dijelaskan latar belakang kemunculannya mengapa bisa menjadi superhero walau sekilas. Padahal dalam komik Fantastic Four saja yang menceritakan beberapa manusia superhero dalam salah stau kisahnya dapat dengan singkat menjelaskan kenapa mereka menjadi superhero dalam satu ceita yang tamat, lengkap dengan penjelasan siapa musuh-musuhnya. Mungkin jika diceritakan bakal memperpanjang cerita sehingga kisah dalam buku ini tidak menjadi tamat, akan tetapi bukankah paling tidak secuil penjelasan itu perlu sehingga pembaca dapat merasakan paling tidak sedikit unsur manusiawi yang terkandung dalam cerita superhero? Bukankah dalam cerita-cerita superhero barat kadang menyinggung sedikit masalah itu sehingga pembaca yang belum sempat mengikuti kisahnya dari awal dapat mafhum? Namun terlepas dari kekurangannya Siji patut dihargai sebagai langkah upaya menghidupkan seraya meneruskan genre komik Indonesia menjadi lebih maju dengan menerbitkan produknya. Mutu cetakan dan desain grafis yang tak kalah dari produk komik superhero ala Marvel atau DC ini tetap bisa sedikit membuktikan bahwa produk komik kita tak kalah mutunya. Hanya saja dari segi cerita- satu hal yang umumnya terjadi di Indonesia yang mungkin perlu dibenahi- terbitnya Siji ini tak hanya menambah produk komik saja, melainkan juga menjaga kualitasnya dari segi cerita-satu hal yang harus dibenahi jika mau komik Indonesia benar-benar diterima di masyarakatnya seperti kisah Gundala atau Godam yang dahulu pernah berjaya. Sayang.

