Mahera dan Kitab Maharaja : TarKom 2
Tuesday, 02 December 2008
cover TarKom 2Tarung Komik 2 dari Pragat Comic
kini telah hadir di tengah-tengah kita melanjutkan Tarung Komik (TarKom) 1 yang
sudah lebih dulu beredar beberapa tahun yg lalu. Kita turut senang bahwa
PragatComic masih bersemangat untuk melanjutkan pertarungan komik. Lantas
bagaimanakah TarKom 2 ini dibandingkan dengan TarKom 1?
Jika pada TarKom 1 hadir 10 (sepuluh) komik yg bertarung maka pada TarKom 2
hadir 5 (lima) komik yg bertarung, maksimal 20 halaman jadi total ada 100
halaman isi dalam TarKom 2.
Dengan jumlah komik yg lebih sedikit dan jumlah halaman masing-masing
komik menjadi lebih banyak, diharapkan masing-masing komikus yg ikut Tarung
Komik menjadi lebih leluasa untuk menuangkan ide-idenya menjadi komik yg lebih
baik daripada TarKom 1. Kali ini TarKom 2 di dukung oleh Jagoan Comic yg
menyediakan hadiah-hadiahnya untuk para peserta Tarung Komik dan bapak Alvanov
Zpalanzani dari Pengajian Komik DKV
yg bertindak sebagai juri tunggal. Salut untuk mereka berdua. Kehadiran
pak Alvanov yg jadi juri diharapkan akan menambah bobot dari komik TarKom 2.
Mari kita simak satu per satu komik-komik yg bertarung dalam TarKom2.
Diantaranya menampilkan karya dari Prangg RN, Slence, Fyd Russel, Aldyy &
Dhitta dan studio Rojo Lele. Juri telah memberi skor untuk masing-masing komik
itu berdasarka kriteria karakter, story, visual storytelling, overall dengan
kisaran dari skor 90 s/d 50.
Ketika pertama kali saya membaca komik ini pertanyaan yg muncul adalah mengapa
Pragat Comic
menyusun komik-komik itu dari urutan pertama sampai dengan tarakhir
tidak mengikuti skor yg dibuat oleh juri yaitu komik dengan skor
tertinggi, 90, ditempatkan di urutan pertama dan komik dgn skor
terendah, 50, ditempatkan diurutan paling belakang? Pasti ada alasan
tersendiri. Padahal urutan komik itu cukup penting untuk menarik
pembaca komik. Jika anda pernah membeli album kaset lagu-lagu (bukan
kaset kompilasi) dari seorang penyanyi, maka biasanya lagu jagoannya yg
diharapkan jadi hits ditempatkan di urutan pertama atau
setidak-tidaknya urutan ke-2 dan hampir tidak pernah ditempatkan di
urutan terakhir. Hal ini atas pertimbangan pasar, setidaknya pendengar
lagu-lagu itu akan mendengarkan lagu yang terenak didengar sebelum
mendengarkan lagu-lagu lainnya. Seharusnya Pragat Comic juga menyusun
komik-komik itu dimulai dari komik yang paling bagus, dan jika menurut
penilaian juri maka komik karya Studio Rojo Lele yg berjudul Mahera dan Kitab
Maharaja yang dipasang di depan karena mendapat skor tertinggi dari juri yaitu
90.
TarKom 2 dibuka oleh karya Prangg RN yg menampilkan judul The legend of
Kutukupreth. Komik ini bercerita tentang asal-usul istilah Kutukupreth yg
bersetting di jaman kerajaan. Cerita komik bersetting kerajaan masa lalu di
Indonesia mengingatkan kita akan cerita komik karya Dwi Kundoro.
Cerita mengalir dengan lancar dan pembangunan karakternya cukup baik.
Saya dengan mudah dapat memahami ceritanya dan membedakan antara satu
karakter dengan karakter yg lain. Pada awalnya cerita berjalan dengan
baik namun diakhir cerita seperti dipaksakan untuk dikaitkan dengan
istilah Kutukupreth, jadi terasa kurang enak. Menurut saya, visualisasi komik
ini digarap dengan baik oleh Prangg RN.
Mungkin karena itulah komik ini ditempatkan diurutan pertama. Yg terasa
amat mengganggu adalah homur-homur jorok (tidak sopan) yg bertebaran
disana-sini dan lelucon-lelucon yg OOT (out of topic) yg tidak pas dengan
konteks cerita maupun settingnya
di jaman kerajaan, jadinya seperti ada kekacauan waktu. Misalnya ketika
seorang penggawa kerajaan berpesan ” Sering-sering kirim kabar pada
kami pakai sms atau e-mail. Kalau mau irit pulsa pakai miss call
aja nanti ditelpon balik”. Padahal kita tahu dijaman kerajaan belum ada
teknologi telepon seluler (ponsel) ataupun internet. Si komikus
mustinya bisa melihat bagaimana pak Dwi Koendoro dengan sangat pas membawa
problematika yg terjadi di Indonesia masa kini untuk dibawa pada seeting
kerajaan dimasa lalu tanpa terasa ada kekacauan waktu pada komik strip Panji
Koming yg muncul setiap minggu di harian Kompas. Sedangkan lelucon jorok
mengingatkan kita pada komik Kakek Bejo "Jangguter" yg sudah saya bahas
beberapa waktu yg lalu. Rupanya Prangg RN tidak belajar dari komik Kakek Bejo
yg banyak dikritik karena lelucon joroknya.
Sayang sekali, sebetulnya komik ini digarap secara visual dengan baik dan pada
awalnya cerita dibangun dengan baik, namun ending
cerita yg terasa dipaksakan dan lelucon-lelucon yg tidak pas membuat
komik ini jadi kurang enak dibaca. Juri mengganjar komik ini dengan
skor terendah dibanding komik2 yg bertarung lainnya yaitu 50 namun
ditempatkan sebagai komik pembuka oleh Pragat Comic.
Komik yg kedua berjudul Scarlet Hood karya Slence.
Gambar di komik ini bergaya manga dan ceritanya sangat sederhana dan
datar, berkisah tentang seorang laki-laki yg hendak membalas dendam
atas kematian ayahnya. Si lelaki itu mendatangi rumah seorang gadis yg
bernama Scarlet untuk mencari informasi kemana
perginya si pembunuh itu. Si lelaki itu ternyata dikuasai oleh roh
jahat sehingga ia bisa menjadi berubah seperti manusia serigala. Scarlet
mencoba mengalahkan kekuatan roh itu dengan ilmu Soul Detached namun sia-sia
sampai akhirnya pamannya datang dan menyelamatkan si gadis.
Memperhatikan
gambar di komik ini dan menyimak ceritanya, nampaknya si komikus sangat
terpengaruh oleh komik-komik horor manga yg banyak bercerita soal roh.
Pada awalnya cerita berjalan dengan lancar. Penokohan masing-masing
tokoh juga sudah bagus namun ada beberapa hal yg kurang jelas dan perlu
dijelaskan kepada pembaca komik. Misalnya apa yang dilakukan oleh si
paman sehingga tiba-tiba si lelaki yg semula berujud manusia serigala
menjadi manusia kembali atau apa yg dilakukan si gadis utk menyerang si
lelaki itu. Dan mengapa tiba2 lelaki itu meninggalkan si gadis dan
pamannya? Di sinilah pentingnya logika bercerita. Meskipun ceritanya
datar bukan berarti boleh saja memasukkan adegan yg tidak ada alasannya
alias ”ujug-ujug”. Ujug-ujug si lelaki itu pergi meninggalkan mereka
tanpa alasan yg jelas. Cerita yg seperti ini tentunya terasa janggal
dan mengganjal keasyikan pembaca yg membaca komik ini. Komik ini
diganjar oleh juri dengan score yg cukup tinggi yaitu 82.
Komik ketiga berjudul Team Online karya Fyd Russel.
Komik ini diawali dengan narasi yg cukup panjang sebagai pembukanya.
Membaca narasi itu pembaca seakan-akan dijanjikan sebuah cerita yg seru
dan dahsyat namun jika pembaca meneruskan ceritanya barangkali akan
kecewa karena imajinasi yg sudah terlanjur dibangun oleh narasi itu
menjadi hancur berkeping-keping. Bangunan cerita yg sudah bangus itu
hancur karena si komikus tidak mampu menjabarkan cerita itu menjadi
sebuah cerita komik yg menarik. Jadinya seperti hangat-hangat tahi
ayam, bagus diawalnya tapi gagal dalam hal eksekusinya kedalam cerita.
Storytelling
komik ini juga kurang baik. Tidak jelas si komikus mau gambar adegan
apa. Dibandingkan kedua komik sebelumnya, kedua komik itu unggul dalam
hal storytelling meskipun komik yg kedua Scarlet,
ceritanya lebih sederhana dan datar daripada komik yg ketiga. Memang
membuat komik yg bagus tidak harus berpijak pada cerita-cerita yg luar
biasa dan hebat-hebat. Dari cerita yg sederhana dan bercerita tentang
kejadian sehari-hari yang ringan namun menarik juga bisa menjadi sebuah
komik yg bagus. Ibarat orang membikin lagu, tidak harus membuat lagu
dgn kisaran nada-nada lebar dan tingkat kesulitan yang tinggi. Dengan
melodi yang easy listening dan nada-nada yg datar, dapat juga disusun komposisi
lagu yg bagus.
Dari
segi visualisasi pun, kedua komik sebelumnya juga lebih unggul. Komik
ketiga ini digambar dengan garis-garis yang tidak tegas dan lettering yang
buruk sehingga pembaca menjadi malas untuk meneruskan membaca komik ini.
Lettering
dalam komik seharusnya menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dgn
gambar dan merupakan salah satu komponen penting dalam komik. Lettering
yg buruk membuat pembaca kesulitan membacanya dan secara otomatis akan
mengganggu pembaca utk menikmati ceritanya (kecuali komik bisu, komik
tanpa teks sama sekali). Juri mengganjar komik ini dengan score 78, masih di
bawah komik Scarlet namun jauh di atas komik pertama, Legenda Kutukupreth!
Komik yg keempat berjudul Bon Journee yg digambar oleh Aldyy dan cerita oleh
Dhitaa. Komik ini bercerita tentang kisah cinta segitiga remaja perkotaan
antara Rachel dengan Ryo dan Glenn.
Sebuah kisah dengan tema yang ringan, sederhana dan dapat terjadi
kepada siapa saja. Meskipun komik ini digambar dengan sederhana namun
pembaca dapat mengikuti ceritanya dengan lancar. Dibanding ketiga komik
sebelumnya, komik inilah yang menurut saya memiliki struktur cerita
yang utuh, ada pembukannya, ada probelamatikanya dan ada juga
penutupan. Kejadian Rachael bertemu dengan Glenn juga terasa cukup logis dan
tidak ”ujug-ujug”. Komik ini ditutup dengan adegan dramatis di bandara dimana
Ryo melepas Rachael sebelum ia terbang meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan
sekolahnya di Singapura.
Storytelling
komik ini sudah cukup baik dimana cerita mengalir dengan lancar.
Karakter tokohnya sudah cukup kuat. Hanya saja penggarapan komik ini
secara visual masih terasa lemah. Adegan dramatis di bandara ketika Ryo memeluk
Rachael sebelum melepas pergi mengingatkan saya kepada adegan film yg sangat
terkenal Ada apa dengan Cinta? Memang sangat sulit untuk membuat cerita yg
benar-benar orisinil dan terbebas dari pengaruh yg lain. Komik ini diganjar
score 78 oleh juri sama seperti komik Team Online.
Komik yg keempat berjudul Mahera dan Kitab Maharaja karya Studio Rojolele.
Inilah komik jawara pada tarung komik kali ini. Juri mengganjarnya dengan score
90 jauh di atas score komik Legenda Kutukupreth. Mungkin Pragat Comic sengaja
memasang komik jawara sebagai komik terakhir agar menjadi ”gong”-nya pada buku
Tarung Komik 2.
Kita sering lihat pada saat mengumuman kejuaraan suatu lomba atau lomba
Ratu Sejagad atau Putri Indonesia, biasanya pemenang lomba disebutkan
paling terakhir agar menjadi ”gong”-nya bahkan tidak jarang pengumuman
itu di ulur-ulur agar penonton menjadi semakin penasaran. Lalu seperti
apakah komik yg jadi jawara kali ini? Apakah komik ini memang
benar-benar pantas menjadi jawara dan mendapat nilai setinggi itu?
Kisah komik ini bersetting
di jaman dulu, mungkin di jaman kerajaan. Mengisahkan tentang seorang
pendekar yg penasaran ingin berguru dengan seorang mpu yg sangat sakti.
Si pendekar akhirnya dapat mengalahkan musuhnya dengan ilmu dari Kitab
Maharaja, yang secara tidak sengaja dipelajarinya ketika ia membantu si mpu
menyusun kitab itu.
Sama seperti komik yg keempat, Bon Journee, cerita komik ini dibangun dengan
cerita utuh. Selain ide ceritanya yg seru, storytelling
cerita ini juga sudah cukup baik. Struktur cerita ini sudah dibangun
dengan baik. Meskipun dari segi cerita komik ini sudah baik namun
kelemahan utama komik ini justru pada gambarnya, meskipun si komikus
sudah mampu membuat gambar yang mudah dicerna pembaca komik, namun
gambarnya kurang bagus. Menurut saya, gambarnya Prangg RN dari komik Legenda
Kutukupreth, justru yg paling bagus. Namun gambar yang bagus tidak selalu
menjamin komik yg bagus pula. Di halaman terakhir komik Mahera dan Kitab
Maharaja
ini, si komikus sempat membuat ”pengait” yg dapat menghubungkan komik
ini dengan komik-komik yang (mungkin) akan dibuat oleh si komikus.
Alhasil, komik ini diganjar dengan skor tertinggi yaitu 90 oleh Juri dan
menjadi jawara pada tarung komik kali ini.
Pada Tarung Komik ke-2
ini, umumnya para komikus sudah cukup baik ketika mengawali cerita
komiknya namun beberapa komikus ada yg kedodoran ketika mulai memasuki
pertengahan cerita dan ada yg seperti dipaksakan untuk menyelesaikan
komiknya (Legenda Kutukupreth dan Scarlet Hood). Sedangkan dari segi visual yg
paling parah adalah komik Team Online. Selain gambarnya rumit dan tidak jelas
mau gambar apa, lettering
yang buruk juga membuat pembaca semakin malas untuk membaca komik itu
meskipun komik ini punya ide cerita yang hebat. Kalau komikus tidak
punya tulisan tangan yg bagus, seharusnya lettering itu diganti saja dgn
tulisan komputer.
Point-point yang bisa kita petik dari pergelaran tarung komik ini al :
1. Para peserta Tarung Komik
semuanya membuat komik pendek dengan maksimal 20 halaman. Komik pendek
bukan berarti komik panjang yg dipendek-pendekin. Bukan cerita panjang
yg dipotong pendek. Komik pendek harus mempunyai struktur cerita yg
utuh seperti komik panjang misalnya ada pembukaannya, introductionnya,
permasalahannya, penyelesaian masalahnya, penutupannya dan sebagainya.
Dengan ruangan yg lebih sempit (20 halaman) si komikus harus membangun
komik yg utuh spt komik panjang dan banyak komikus yg gagal membangun
cerita komik pendek yg utuh karena sempitnya ruang.
2. Membuat komik yg bagus tidak harus selalu dimulai dengan ide cerita yg
hebat-hebat. Komik Bonn Journee
sudah membuktikan bahwa dengan ide cerita yg ringan dan sederhana yaitu
kisah cinta segitiga anak remaja perkotaan, dapat membuat komik yg
menarik. Banyak juga komikus senior yg membuat komik yg menarik yg
beranjak dari ide cerita yg sederhana. Contohnya adalah komik Curhat Tita karya
mbak Tita Larasati.
3.
Sebuah ide cerita yg hebat tidak akan pernah menjadi komik yang menarik
jika pada saat eksekusinya kurang digarap dengan baik misalnya lemah
dalam pengembangan ceritanya, lemah dalam storytellingnya, lemah dalam aspek
visualisasinya atau lemah dalam letteringnya. Komik Team Online,
dengan ide ceritanya yg hebat, sepertinya menjanjikan komik yang
menarik namun karena tahap eksekusinya lemah maka ide cerita yang hebat
itu hanya tinggal di awang-awang saja tidak turun ke bumi.
Demikianlah sekilas resensi saya tentang Tarung Komik Kedua ini. Harapan saya,
kita bisa belajar banyak dari karya-karya para Petarung Komik dan tidak
mennyurutkan semangat mereka untuk bikin komik. Saya mengucapkan terima kasih
kepada Pragat Comic, yang dengan kesederhanaannya, tetap terus bersemangat
mengadakan acara Tarung Komik. Ucapan terima kasih saya sampaikan juga kepada
mas Alvanov Zpalanzani yg sudah bersedia menjadi juri Tarung Komik dan Jagoan
Comic yang sudah menjadi pendukung di TarKom 2.
Saat ini Tarung Komik ke-3
tengah berlangsung. Mari sama-sama kita tunggu seperti apa komik-komik
yang akan tampil nanti. Mudah-mudahan karya-karya mereka lebih baik
daripada para Petarung Komik ke-2 ini. Diresensi oleh Sandy :
www.sandyjatmiko.multiply.com
Dari :
http://pragatcomic.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=28&Itemid=27
ahmadzeni
Dua Komik Terbaru yang bisa dipesan :
"Komik Bangor dari Bandung
dan komik SIJI (Serikat Jagoan Indonesia)"
PragatComic.com
Ada 16 Komik Cetak
Ada 6 Komik Fotokopi
Ada 3 Flash Komik
Semuanya bisa dipesan!
Dan akan terus bertambah,
termasuk info seputar komik ter-update...
Jatiwangi.Net
Tempat Komunitas Jatiwangi!