Dear All,
Jika sedang ada kesempatan berjalan-jalan di Citywalk Sudirman, Karet - 
Jakarta, silahkan istirahat sejenak untuk melihat kota Jakarta dalam gambar 
kartun, yang bukan hanya dibuat dari sudut pandang kartunis profesional seperti 
Jitet Koestana atau Thomdean, namun juga dari sudut pandang ibu rumah tangga, 
karyawan, dosen, anak-anak 12 tahun, mahasiswa dan berbagai macam profesi serta 
usia lainnya.
Sastrawan Radhar Panca Dahana dan Budayawan Eros Djarot, turut memilih karya 
yang mereka sukai dari total 80 karya yang terkumpul menjadi 39 karya (sisanya 
ditampilkan pada giant screen dengan cara looping). Jika anda berkesempatan 
hadir, lihat di label karya tanda (R) untuk Radhar dan tanda (E) untuk Eros 
Djarot, jika ada tanda contreng pada huruf itu, maka itu adalah kartun yang 
mereka sukai. 

Jakartun08-18 Juni 2009Citywalk SudirmanJl Hj Mas Mansyur, Karet - Jakarta Pusat

Terimakasih
Selamat berapresiasi..

-------------------------------------------------
Pameran ini diselenggarakan oleh Citywalkdan Akademi Samali
---------------------------------------------------------------------------------
JAKARTUN; MERANGKAI JAKARTA DENGAN KARTUN 

 

Melihat Jakarta sejatinya melihat 3 periode yang berbeda, yaitu
pra-kolonial, kolonial dan pasca-kolonial. Ketiganya mempunyai kisah yang
berbeda dengan karakter budaya yang berlainan pula, didalam setiap periode
terdapat banyak peristiwa yang sangat historis seperti bagaimana interaksi
budaya antar suku bahkan ras hingga terbentuknya Jakarta seperti sekarang ini.

 

2 periode seperti pra-kolonial dan kolonial ternyata hingga sekarang telah
memberi warna kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat Jakarta.
Tak dipungkiri, bahwa didalam kehidupan itu begitu banyak jalinan isu yang
kerap melahirkan berbagai reaksi seperti ketegangan, kelucuan, keberbedaan,
optimis, pesimis hingga keterpautan dalam harmoni. Namun disisi lain, Jakarta
memiliki keragaman budaya yang kerap terabaikan dalam keseharian kita. Untuk
meneropongnya, banyak cara yang bisa kita pakai salah satunya melalui dunia
kartun. 

 

Jakartun, menempatkan Jakarta sebagai subjek yang hidup, penuh dinamika
yang berlapis lapis dan saling bertautan, atau dengan kata lain, Jakarta selalu
dalam jalinan sebab-akibat. Oleh karena itu, sejujurnya para kartunis tidak
akan kehilangan sumber gagasan untuk membuat kritikan (political cartoon) dan
humor (gag cartoon). Beberapa contoh pemicu gagasan sebut saja kesemrawutan
atribut pemilu yang baru lalu, kondisi lalu lintas, belitan masalah lingkungan,
pembangunan fisik yang serba seolah-olah, kaum marjinal diantara kelas menengah
dll. Hemat kata, Jakarta adalah multi makna multi perspektif, bagi para
kartunis itu semua adalah fakta sehingga kartun yang dilahirkan terasa begitu
menohok publik ketika para kartunis peka menangkap fakta. Ada tantangan besar
memang dalam membaca Jakarta, persoalannya adalah dihadirkan secara implisit
atau eksplisit. Keduanya memang memberi penilaian publik yang beragam,
seberagam Jakarta.  

 

Tentunya, melalui Jakartun, kita tidak harus mengharapkan suatu perubahan
kondisi ketidak-adilan atau ketimpangan yang terjadi di Jakarta menjadi lebih
baik, karena kartun dihadirkan tidak lebih sebagai refleksi realitas yang
dikemas dalam bingkai kritik dan humor, walaupun tidak semua hal dapat
ditangkap namun upaya mengkartunkan Jakarta sudah merupakan upaya kreatif. Bagi
publik, dunia kartun menjadi alat untuk merenungkan kembali nilai-nilai kita
sebagai masyarakat plural. 

 

Melihat Jakartun, kita tengah meneropong Jakarta sekaligus merangkai
kalimat  tentang ibukota negara dikepala
kita...

 

Adikara, penggiat budaya rupa(Komunitas Maros)


 

 

 

 

 

 




      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke