78 Tahun Put On:
Si Malang yang Fenomenal

Khalayak pencinta sekaligus pemburu komik akhir-akhir ini boleh berbangga hati. 
Pertengahan tahun 2008 dan awal 2009 komik Put On yang merupakan komik strip 
pertama di Indonesia berhasil diterbitkan kembali oleh penerbit Pustaka 
Klasik-pewaris karya Kho Wan Gie yang notabene masih keluarga almarhum Kho Wan 
Gie. Tidak hanya satu jilid melainkan 2 jilid sekaligus yang masing-masing 
terbit di bulan November 2008 untuk jilid pertama dan bulan Februari 2009 untuk 
jilid kedua.

Komik karya Kho Wan Gie (kadang ditulis Kho Wang Gie-pen) ini kembali ke dunia 
pustaka Indonesia setelah sekian lama publik hanya mengetahui dan "mencium"  
aroma komik yang digadang-gadang sebagai pelopor komik strip pertama di 
Indonesia ini lewat tangan kolektor, pengamat, pemerhati, dan kritikus komik 
Indonesia, diantaranya lewat buku Marcel Bonneff Komik Indonesia 
(KPG,1998-diterbitkan kembali tahun 2008) dan Hikmat Darmawan Dari Gatotkaca 
hingga Batman:Potensi-Potensi Naratif Komik (Orakel, 2005).

Kho Wan Gie sang pencipta Put On lahir di Indramayu, Agustus 1908 dan wafat di 
Jakarta pada 1983—tahun yang kebetulan sama dengan wafatnya Georges Remi alias 
Herge pencipta komik legendaris Tintin. Komikus sahabat pencipta lagu Indonesia 
Raya WR Supratman yang juga mahir bermain saksofon dan piano ini melahirkan Put 
On yang artinya "Si Gelisah" pada 17 Januari 1931 di harian Sin Po. Komik Put 
On muncul di harian tersebut setiap hari Jumat atau Sabtu. Perjalanan  komik 
Put On sendiri pun cukup panjang. Setelah Sin Po dibredel, Kho Wan Gie 
memindahkan serialnya ke majalah Pantja Warna dan Warta Bakti sampai kedua 
media tersebut betul-betul "diberangus" pasca peristiwa G30S.

Sebagai "media hiburan ringan"-meminjam istilah komikolog Hikmat Darmawan-komik 
Put On dianggap pula sebagai komik dengan potret sosial di masanya lantaran 
tokohnya Put On sendiri adalah gambaran tokoh yang mewakili rakyat kecil di ibu 
kota-mirip serial Doyok karya Keliek Siswoyo yang masih ada sampai sekarang di 
harian Pos Kota sejak 1980-an sampai sekarang. Bedanya Put On tidak menyentil 
kondisi terkini pada zamannya seperti Doyok melainkan ia muncul dengan kisah 
kemalangannya sebagai warga ibu kota. Ia berbicara dengan dialek Jakarta dan 
hidupnya sederhana. Put On ditampilkan sebagai warga negara yang sering menjadi 
korban dari peraturan yang simpang siur.   

Sopoiku nama lain Kho Wan Gie semasa hidupnya juga menciptakan komik lain yang 
tak kalah lucu dan menarik-persis Herge yang juga menciptakan tokoh lain di 
luar Tintin yang fenomenal (diantaranya petualangan Yo, Susi dan Yoko dan Kwik 
dan Flupke). Sebutlah Si Pengky di majalah Ria Film, Ria Remaja dan Varia Film, 
Nona A Gogo, Jali Tokcer dan Si Lemot- sebagai "anak-anak" Sopoiku lainnya 
selain Put On.

Fenomenal

Oleh penggambarnya Put On digambarkan sebagai tokoh yang selalu sial (sweesiao) 
seperti Si Lebai Malang dari Sumatera. "Walaupun nasibnya buruk ia selalu 
tampil menyenangkan," tulis Marcel Bonneff dalam bukunya Komik Indonesia 
(KPG,1998). Perjalanan kesialan dan kemalangan Put On tidak sendirian. Bersama 
tokoh-tokoh lainnya seperti Nee, ibunya, dua adik laki-lakinya, Si Tong dan Si 
Peng, para sahabatnya Si A Liuk, Si On Tek dan "pacarnya" Dortji yang selalu 
tidak pernah sempat atau ketiban sial mendengar "deklarasi" cinta Put On, 
menghiasi seri ini dengan lelucon-lelucon segar. Konon hadirnya Put On sendiri 
di dunia komik Indonesia dari dulu sudah fenomenal setelah sekian lama pembaca 
Indonesia hanya terpuaskan kegemarannya pada komik terjemahan karya Clinge 
Doorendos (Flippie Flink) di harian De Java Boode (1938) dan tentu saja komik 
strip Flash Gordon yang terbit di mingguan De Orient.

Munculnya Put On dianggap fenomenal karena selain ini karya asli pertama karya 
komikus dalam negeri sendiri (Kho Wan Gie- yang notabene peranakan China) yang 
terbit di media massa yang juga dianggap besar saat itu (Sin Po). Adapun Sin Po 
adalah koran media komunikasi China peranakan yang berbahasa Melayu.     

Satu hal lain lagi yang juga patut disebut fenomenal selain komik Put On 
sendiri berumur panjang (30 tahun—satu rekor yang belum dipecahkan oleh komik 
Indonesia lainnya sepanjang sejarah komik Indonesia) adalah popularitas Put On 
sendiri yang di zaman itu memunculkan pula epigon-epigon komik humor tentang 
peranakan China lainnya. Sebutlah Oh Koen yang terbit di mingguan yang juga 
cukup besar di masanya, Star Weekly. Atau Si Tolol yang terbit di mingguan Star 
Magazine (1939-1942). Meski demikian, kedua epigon Put On tersebut nyatanya 
pada zamannya tak berhasil menyaingi popularitas Put On.

Untuk Put On jilid pertama ejaan lama Ophyusen yang menghiasi balon kata-kata 
dipertahankan sehingga langgam bahasa Melayu peranakan yang digunakan Put On 
jadi terasa di samping gambarnya yang lucu. Sedangkan untuk jilid kedua diganti 
ejaan baru lantaran oleh penerbitnya dapat lebih mudah dimengerti untuk pembaca 
generasi sekarang sehingga pembaca generasi sekarang tidak "telat ketawa" lagi 
menyimak kelucuan lelucon Put On.

Beberapa Masalah

Tentunya untuk menyimak kelucuan lelucon Put On, khususnya di jilid pertama 
untuk pembaca generasi sekarang tidak mudah jua. Bahasa Melayu peranakan yang 
dipakai tokoh-tokoh komik Put On walau digunakan di Jakarta dengan dialek 
Betawi nampaknya tak mudah dipahami pembaca sekarang.

Sayangnya penerbit kembali serial Put On ini tidak mencantumkan semacam catatan 
kaki-satu hal yang semstinya dilakukan untuk mengembalikan "roh" kelucuan komik 
ini untuk pembaca sekarang. Misalnya di halaman 18 jilid pertama tatkala Put On 
mengucapkan kalimat yang lazim digunakan pada acara Tahun Baru Imlek kepada 
orang yang lebih tua (dalam komik ini Put On berbicara dengan salah satu 
kakeknya), yaitu "Thiokong, Sin Tjun Kiong Hie, Thiam Hok Siu,". Tentu saja 
jika penerbitnya lebih "teliti" akan lebih baik mencantumkan catatan kaki untuk 
memudahkan pembaca sekarang yang tidak paham bahasa China. Selain itu tentu 
saja banyak bertebaran kosa kata lama seperti "trausa", "tuter", (hlm.16), atau 
"kerdja butek" (hlm.20).

Tapi hal mencantumkan catatan kaki dalam sebuah penerbitan komik juga tidak 
mudah karena untuk kasus Put On bisa-bisa komik ini jadi begitu bertaburan 
catatan kaki yang kurang menyamankan mata pembaca. Meski begitu, alangkah 
baiknya penerbitan ini dilengkapi sedikit catatan kaki yang kalau diletakkan 
dalam ejaan yang sekarang sudah tidak digunakan lagi tentunya dapat memudahkan 
pembaca generasi sekarang. 

Untuk penerbitan seri keduanya yang terbit Februari 2009 pun bukan berarti 
tidak ada masalah. Kualitas cetaknya bahkan kurang baik dibandingkan dengan 
jilid pertamanya sehingga gambar yang terlihat di jilid kedua kurang terang 
mirip hasil sebuah fotokopi yang mutunya kurang baik. Hasil scanning dari koran 
lama  yang memuat Put On terlihat dengan gambar yang kurang proporsional 
(garis-garis gambar yang tidak lurus seperti ada getaran) dan kurang terang.

Tokoh Dortji "pacar" Put On dalam jilid pertama seri ini juga tidak muncul. Hal 
ini mungkin disebabkan tidak mudahnya pendokumentasian kembali serial Put On 
yang barangkali diambil secara acak di tiga media yang memuatnya: Sin Po, 
Pantja Warna dan Warta Bakti. Sehingga boro-boro dicantumkan sumber 
publikasinya, catatan kaki saja tidak ada sehingga sayangnya terjadi dalam 
usaha penerbitan kembali serial Put On ini menyimpan pelbagai masalah yang 
lumayan pelik-terutama dalam kasus penerbitan ulang karya lama.     

Walaupun demikian terlepas dari kekurangannya penerbitan kembali dua jilid 
serial Put On ini patut dihargai sebagai ikhtiar mulia mengembalikan salah satu 
karya maestro komik ini ke ranah pustaka Indonesia.

Terlebih-lebih bagi generasi sekarang yang akhirnya berkesempatan kembali 
menyimak salah satu komik strip pertama Indonesia setelah sekian lama hanya 
membaca berita maupun ulasannya saja yang dibuat oleh para kolektor, pengamat 
cum kritikus komik Indonesia di buku maupun media massa yang memuat artikel 
sejarah komik Indonesia.


Buah Inspirasi

Kendati Put On digadang sebagai komik strip pertama di Indonesia, nyatanya 
tokoh ini adalah buah hasil inspirasi Kho Wan Gie dari tokoh Jigg dalam serial 
strip  Bringing Up The Father karya George McManus yang terbit di Amerika pada 
awal abad ke-20 (tepatnya pada tahun 1913). Jadi walau Put On digadang sebagai 
"komik strip pertama Indonesia" komik ini toh belum sepenuhnya  orisinal 
sehingga untuk menyebut komik yang benar-benar orisinal Indonesia kita masih 
bisa menyebut Si Buta dari Gua Hantu-nya Ganes TH yang terbit -walau toh Si 
Buta digosipkan juga terinspirasi dari tokoh Zatoichi, pendekar buta Jepang 
dari film The Tale of Zatoichi (1962).

Konon semasa Ganes TH masih hidup ia menampik karyanya terinspirasi dari 
pendekar buta dari negeri Sakura itu. Ia mengaku terisnpirasi dari sebuah film 
koboi –tentunya tentang koboi buta—yang sudah tak ia ingat lagi judulnya. Konon 
yang diambil hanya sebatas penampilan dan kebutaannya saja (Tempo, 13 Februari 
2005).

Semoga langkah penerbitan ulang komik-komik lama karya maestro komik Indonesia 
tidak berhenti pada penerbitan serial Put On saja melainkan juga karya-karya 
Sopoiku lainnya yang pernah berjaya mewarnai sejarah komik nasional.

* Donny Anggoro, pencinta komik, tinggal di Jakarta.


Kirim email ke