Saya salut untuk Yesi dan sang suami yang memang berani ini. Saya sendiri mungkin akan terjebak ke "main damai" dalam kondisi seperti ini, seperti sudah terbiasa melihat ketimpangan dalam dunia ini akan mudah saja terjebak dalam "kolusi kecil", yang sebenarnya turut membiarkan atau memupuk terjadinya korupsi yang berkelanjutan. Ayo mulai dari sekarang, sebisa mungkin kita bangun rasa jijik untuk mendekati barang haram dengan berdasarkan prioritas.
 
Kalau kita meributkan atau mempersoalkan makanan yang tercemar babi. Kenapa kita tidak merasa berat atau jijik pada saat makanan kita tercemar ketika menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan oleh seorang "terhormat" yang sudah menjadi tersangka atau kita duga pelaku korupsi? Seperti jijiknya ketikan kita melihat daging babi berdampingan dengan makanan lain dipasar swalayan.
 
"> saya jijik dengan ajakan "perdamaian" itu. bukan tidak
> punya uang, tapi saya tidak mau memberi dengan cara
> seperti ini, lebih baik saya sidang.
 
Mudah-mudahan apabila kita berjuang terus akhirnya Allah akan membuka jalan kepada yang benar. Bukankah kita hanya akan diuji sebatas kemampuan kita? Apabila kita hanya mengambil jalan mudah atau jalan pintas saja, maka yang kita peroleh hanya sesuatu yang bernilai rendah. Seperti yang dialami oleh Yesi dalam peristiwa ini, alangkah besar hatinya memperoleh "kemenangan" dengan tidak memperburuk keadaan. Tidak hanya memperoleh sedikit reward dengan tidak perlu keluar uang.
 
> akhirnya polisi itu malu sendiri, dia memberikan SIM
> dan STNK suami saya yang di tahanya. uang tidak kami
> berikan, sidangpun tidak jadi dilakukan.
> (alhamdulillah selamat)
>
> walahualam

> =====
> "Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"
>
Wassalam,
 
Ridwan
 
 
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke