Dibawah ini ada tulisan buya Syafi'i, hmm...saya juga berharap bebera pa tahun kedepan SUMBAR akan kembali melahirkan tokoh-2 yg moralis, religius dan idealis.
wassalam, harman === Republika Online : http://www.republika.co.id 06 Juli 2004 08:58:17 Koran � Resonansi Selasa, 06 Juli 2004 Pragmatisme Orang Minang Oleh : Ahmad Syafii Maarif Ada pepatah Minang yang menggambarkan kecerdikan dan sekaligus barangkali kelicikan: "terkurung hendak di luar, terhimpit hendak di atas". Pengalaman empiris manusia mengatakan bahwa orang yang terkurung pasti di dalam, tidak mungkin di luar, terhimpit tentu di bawah, tidak mungkin di atas, tetapi orang Minang dalam imajinasi kreatifnya ingin membuyarkan pengalaman empiris itu. Ada lagi pepatah yang langsung bersifat pragmatisme: "biar kepala berkubang, asal tanduk mengena". Ini dikiaskan dengan kelakuan kerbau atau sapi sewaktu menanduk tebing, kepalanya tentu kotor berlumur tanah, tetapi tanduknya pasti menikam tebing itu. Jadi asal tujuan tercapai, kotor-kotor sedikit tidak apalah. Tentu pernyataan ini jangan diartikan bahwa orang Minang suka main kotor, kecuali mereka yang punya bakat untuk itu, seperti halnya juga anggota suku- suku yang lain di Nusantara. Tetapi, bahwa orang Minang setelah kekalahan mereka dalam pemberontakan PRRI menjadi semakin pragmatis mungkin didukung oleh data empirik. Ambillah contoh misalnya otak-otak besar suku itu misalnya lebih memilih menjadi dokter spesialis tinimbang menjadi budayawan, pemikir, atau tokoh agama. Pergilah Anda ke RS Harapan Kita dan hitunglah berapa persen dokter spesialis bersuku Minang yang berkarier di sana. Pasti lebih besar jumlahnya bila dibandingkan dengan dokter yang berasal dari suku- suku lain. Karena otak-otak besar sudah semakin pragmatis, maka Anda jangan berharap lagi akan lahir manusia piawai semisal Agus Salim, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Natsir, Hamka, dan yang setaraf dengan mereka ini dalam tempo yang dekat ini. Nama-nama ini semua adalah kaum idealis sampai mereka berkalang tanah, bukan idealis musiman yang tergantung kepada kondisi dan situasi, seperti umumnya politisi Minang pasca-PRRI yang banyak dikeluhkan oleh berbagai pihak di daerah itu. Pada musim kampanye pemilihan presiden/wakil presiden sekarang ini, beberapa tokoh senior Minang yang menjadi tim sukses calon tertentu yang sesungguhnya dirasakan tidak mewakili budaya Minang yang mengkristal dalam: "adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah". Keikutsertaan mereka dalam pesta kampanye ini menurut pengamatan saya lebih dipicu oleh pragmatisme politik, bukan oleh idealisme, karena idealisme itu sudah merupakan barang langka. Jika idealisme masih bersarang di kalbu mereka, tentu mereka akan mendukung capres/cawapres yang tidak banyak punya beban masa lampau, berani, dan relatif bersih. Bukankah keterkaitan antara ruh adat, syarak, dan Kitabullah akan mengarahkan orang untuk memilih pemimpin yang mendekati cita-cita otentik orang Minang sebelum arus pragmatisme menggempur mereka? Tetapi sekiranya dalam Pemilu 5 Juli 2004 ini mayoritas suara orang Minang diberikan kepada pasangan yang relatif bersih, maka itu mungkin sudah menjadi pertanda bahwa masa depan budaya Minang akan kembali kepada otentisitasnya, sekalipun tentu akan mengalami proses yang agak lama. Mudah-mudahan aparat penegak hukum yang telah menangkap beberapa anggota DPRD daerah itu merupakan langkah awal sebagai protes budaya Minang asli yang mulai muak menyaksikan perilaku peyimpangan dari adat mereka yang mengacu kepada syarak dan Kitabullah. Kasus penangkapan anggota DPRD ini telah menjadi berita nasional dan dipuji oleh berbagai kalangan, seakan-akan budaya Minang telah mulai kembali kepada jati dirinya. Dalam Pemilu 1955, Minang dikenal sebagai kantong partai moralis Masyumi, di mana Natsir, ZA Ahmad, Isa Anshary, Hamka, dan Abu Hanifah adalah di antara tokoh utamanya. Setelah Masyumi menghilang dari permukaan sejarah modern Indonesia dan PRRI berantakan, maka peribahasa: "biar kepala berkubang, asal tanduk mengena" rupanya menjadi semakin diikuti orang Minang, khususnya politisi dan pengusaha mereka. Tidak hanya sebatas itu, ada pula orang Minang yang memakai nama dengan ujung huruf o, demi pragmatisme dalam menghadapi rezim Soekarno atau Soeharto yang otoritarian. Bahkan, yang agak menggelikan adalah kebiasaan sebagian elite Minang yang mengucapkan akhiran kan dengan ken dan pemakian perkataan daripada yang tidak pada tempatnya. Apakah ini pertanda pragmatisme atau budaya kalah? Saya tidak tahu! � 2003 Hak Cipta oleh Republika Online Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari Republika ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

