Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarahatuh,
Mungkin sering terbetik dalam pikiran kita mengapa umat Islam tidak kunjung bersatu. Mungkin sering kita heran melihat pertentangan antarmazhab atau antargolongan. Mungkin kita sering berkeinginan untuk bersatu dan maju seperti sebagian umat non-Islam. Mungkinkah dan bagaimanakah umat Islam dapat bersatu?
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah mengabarkan kepada kita tentang persatuan musuh-musuh Islam (yang artinya):
"Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti." (QS. al-Hasyr 59:14)
Bahkan Allah telah mengabarkan tentang keadaan mereka yang lain, yakni rasa takut terhadap umat Islam dalam ayat sebelumnya.
"Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." (QS. al-Hasyr 59:13)
Ternyata persatuan mereka dibangun di atas kesesatan dan perpecahan. Mereka mendiamkan kesalahan di antara mereka dalam rangka 'bersatu' karena mereka lebih takut kepada musuh ketimbang kepada Allah. Apakah kita ingin seperti itu? Bukankah kita diperintahkan untuk tidak hanya amar ma'ruf namun juga nahi munkar? Tidakkah kita cinta pada saudara-saudara seiman kita sehingga kita membiarkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan bahkan dalam aqidah?
Oleh karena itu, mengapa umat Islam masa kini 'kalah' dari orang-orang kafir?
Rasulullah telah mengabarkan kejadian ini dalam sabda beliau :
"Dikhawatirkan umat - umat (selain Islam) akan mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni (hidangan dalam) piring ". Seorang (lalu) bertanya :"Apakah karena kami sedikit ketika itu ?" Beliau menjawab :"Bahkan kalian ketika itu banyak, akan tetapi kalian (ibarat) buih seperti buih di lautan. Sungguh Allah mencabut rasa takut musuh kalian terhadap kalian dan meletakkan pada hati kalian penyakit Al-Wahn" Orang itu bertanya lagi :"Apa itu Al-Wahn?" Beliau menjawab :"(Al-Wahn) adalah cinta dunia dan takut mati" (H.R. Ahmad, Abu Dawud,Abu Nuaim, dan Ath-Thabani dengan sanad hasan)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kalian jual beli dengan 'inah (salah satu bentuk jual beli riba) dan kalian ridho dengan bercocok tanam (menyibukkan diri dengannya) dan menyibukkan diri dengan peternakan, kemudian kalian meninggalkan untuk berjihad di jalan Allah, Dia akan menimpakan kehinaan atas kalian, tidak akan mengangkatnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan yang lainnya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma).
Periksalah keadaan kita, apakah sesuai dengan yang disebutkan Rasulullah? Bagaimanakah kita akan melepaskan kehinaan ini dari kita jika kita tidak kembali kepada Islam? Bagaimana kita ingin meraih kejayaan para shahabat jika kita enggan mengikuti jejak mereka?
Bagaimana dengan pertentangan antarmazhab? Ternyata para imam tidaklah pernah memerintahkan orang untuk bertaklid buta pada mereka. Mereka pun tidaklah memerintahkan umat untuk mengikuti pendapat mereka namun dengan tegas memerintahkan umat untuk mengikuti al-Qur'an dan Sunnah.
Berikut ini sebagian ucapan para imam yang dapat dilihat pada mukadimmah Shifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karya al-Albani.
Perhatikanlah ucapan Imam Abu Hanifah:
1. "Apabila hadits itu shahih, maka hidits itu adalah madzhabku." (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)
2. "Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)
Perhatikan pula ucapan Imam Malik bin Anas:
1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)
2. Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya hadist ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
Begitu juga Imam asy-Syafi'i:
1. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)
2. "kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya." ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-SyafiI, 8/1)
3. "Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati." (Al-Harawi, 47/1)
serta Imam Ahmad bin Hanbal:
1. "Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil." (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)
2. "Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182).
Perbedaan pendapat di antara mereka muncul karena antara lain perbedaan nash yang sampai kepada mereka. Sesungguhnya mereka berjalan pada manhaj yang sama yakni manhaj ahlus sunnah wal jama'ah.
Bagaimana menyikapi perbedaan? Tentunya tidak dapat dipukul rata dengan memusuhi semua orang yang berbeda atau menerima semua perbedaan.
Ada perkara-perkara yang bersifat ijtihadiyah dan ada pula perkara-perkara yang tidak patut berijtihad di dalamnya. Harus diingat bahwa tidak semua orang patut berijtihad dan tidak semua hasil ijtihad itu benar.
Ada penyimpangan-penyimpangan yang akan menjadikan seseorang keluar dari barisan ahlus sunnah dan ada kesalahan-kesalahan yang dimaafkan. Namun tetap saja yang namanya kesalahan adalah salah dan tidak dapat dikatakan benar. Tentunya tidak menafikkan ada masalah-masalah yang memang sulit untuk ditentukan antara yang rajih (lebih kuat) dan marjuh (kalah kuat).
Perpecahan adalah sesuatu yang tidak disukai (QS. 3:103, 105). Bahkan Rasulullah pernah mencela pada shahabat yang berpencar-pencar saat beristirahat di tengah perjalanan. Begitu juga shaf dalam shalat yang harus diluruskan dan dirapatkan.
"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya". [HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]
"Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda:"Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian". [HR. Muslim]
Mari meluruskan shaf shalat kita agar Allah tidak memperselisihkan kita.
Akan tetapi perselisihan adalah sesuatu yang memang ada.
"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (QS. Hud 11:118)
Begitu juga hadits Rasulullah tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang benar-benar selamat telah sampai kepada kita. Apakah kita ingin memaksakan diri untuk menggabungkan seluruh golongan itu dan menganggap sama mereka?
Hanya kepada Allahlah kita meminta agar dijauhi dari perselisihan. Usaha kita untuk bersatu sampai-sampai saling menghormati perbedaan aqidah tidak akan ada artinya jika Allah tidak memberi rahmat. Bagaimanakah agar kita mendapat rahmat?
"Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. Aali Imraan 3:132)
Dengan demikian bagaimana mungkin kita dapat diberi rahmat jika kita memaklumi dan membiarkan perbedaan yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Apakah cara terbaik menyelesaikan perselisihan pendapat?
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisaa' 4:59)
Jadi, marilah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Allah menolong kita. Jelaslah bahwa para imam menghendaki persatuan dengan ucapan-ucapan mereka di atas.
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan menjadikan kita bagian dari Firqatun Najiyyah (golongan yang selamat) yang mengikuti jejak golongan terbaik umat ini. Bagaimana mungkin kita selamat tanpa mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya?
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an-Nisaa' 4:115)
"Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong." (QS. al-Baqarah 2:107)
Mohon maaf dan koreksi jika ada kesalahan. Segala kebaikan hanyalah dari Allah sedangkan keburukan datang dari saya dan syaithan. Semoga Allah memberikan ampunan.
Allahu a'lam bish shawab.
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

