Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarahatuh,

ngomong-ngomong, dek Ahmad kemaren nyoblos apa nggak ?


wassalaam,
Ronald





                                                                                       
                                               
                      [EMAIL PROTECTED]                                                
                                       
                      id                               To:       [EMAIL PROTECTED]     
                                    
                      Sent by:                         cc:                             
                                               
                      [EMAIL PROTECTED]        Subject:  [EMAIL PROTECTED] Re: 
Duh...engkang... (kesedihanku untuk Amien dan umat  
                      ntaunet.org                       Islam)                         
                                               
                                                                                       
                                               
                                                                                       
                                               
                      07/08/2004 09:44 AM                                              
                                               
                      Please respond to palanta                                        
                                               
                                                                                       
                                               
                                                                                       
                                               




Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarahatuh,

Mungkin sering terbetik dalam pikiran kita mengapa umat Islam tidak kunjung
bersatu. Mungkin sering kita heran melihat pertentangan antarmazhab atau
antargolongan. Mungkin kita sering berkeinginan untuk bersatu dan maju
seperti sebagian umat non-Islam. Mungkinkah dan bagaimanakah umat Islam
dapat bersatu?

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah mengabarkan kepada kita tentang
persatuan musuh-musuh Islam (yang artinya):

"Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam
kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara
sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati
mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah
kaum yang tiada mengerti." (QS. al-Hasyr 59:14)

Bahkan Allah telah mengabarkan tentang keadaan mereka yang lain, yakni rasa
takut terhadap umat Islam dalam ayat sebelumnya.

"Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang
demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." (QS. al-Hasyr
59:13)

Ternyata persatuan mereka dibangun di atas kesesatan dan perpecahan. Mereka
mendiamkan kesalahan di antara mereka dalam rangka 'bersatu' karena mereka
lebih takut kepada musuh ketimbang kepada Allah. Apakah kita ingin seperti
itu? Bukankah kita diperintahkan untuk tidak hanya amar ma'ruf namun juga
nahi munkar? Tidakkah kita cinta pada saudara-saudara seiman kita sehingga
kita membiarkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan bahkan dalam aqidah?

Oleh karena itu, mengapa umat Islam masa kini 'kalah' dari orang-orang
kafir?

Rasulullah telah mengabarkan kejadian ini dalam sabda beliau :

"Dikhawatirkan umat - umat (selain Islam) akan mengerumuni kalian
sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni (hidangan dalam) piring
". Seorang (lalu) bertanya :"Apakah karena kami sedikit ketika itu ?" Beliau
menjawab :"Bahkan kalian ketika itu banyak, akan tetapi kalian (ibarat) buih
seperti buih di lautan. Sungguh Allah mencabut rasa takut musuh kalian
terhadap kalian dan meletakkan pada hati kalian penyakit Al-Wahn" Orang itu
bertanya lagi :"Apa itu Al-Wahn?" Beliau menjawab :"(Al-Wahn) adalah cinta
dunia dan takut mati" (H.R. Ahmad, Abu Dawud,Abu Nuaim, dan Ath-Thabani
dengan sanad hasan)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kalian jual beli
dengan 'inah (salah satu bentuk jual beli riba) dan kalian ridho dengan
bercocok tanam (menyibukkan diri dengannya) dan menyibukkan diri dengan
peternakan, kemudian kalian meninggalkan untuk berjihad di jalan Allah, Dia
akan menimpakan kehinaan atas kalian, tidak akan mengangkatnya dari kalian
hingga kalian kembali kepada agama kalian." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan yang
lainnya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma).

Periksalah keadaan kita, apakah sesuai dengan yang disebutkan Rasulullah?
Bagaimanakah kita akan melepaskan kehinaan ini dari kita jika kita tidak
kembali kepada Islam? Bagaimana kita ingin meraih kejayaan para shahabat
jika kita enggan mengikuti jejak mereka?

Bagaimana dengan pertentangan antarmazhab? Ternyata para imam tidaklah
pernah memerintahkan orang untuk bertaklid buta pada mereka. Mereka pun
tidaklah memerintahkan umat untuk mengikuti pendapat mereka namun dengan
tegas memerintahkan umat untuk mengikuti al-Qur'an dan Sunnah.

Berikut ini sebagian ucapan para imam yang dapat dilihat pada mukadimmah
Shifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karya al-Albani.

Perhatikanlah ucapan Imam Abu Hanifah:

1. "Apabila hadits itu shahih, maka hidits itu adalah madzhabku." (Ibnu
Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)

2. "Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah
dan kabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah
perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

Perhatikan pula ucapan Imam Malik bin Anas:

1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka
perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan
sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah,
tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)

2. Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang
menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal
itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia
berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di
dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad
dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi
Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah
memberikan hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa
yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya
hadist ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku
mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk
menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi
Hatim, hal. 32-33)

Begitu juga Imam asy-Syafi'i:

1. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di
dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)

2. "kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan
orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah
ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam,
sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya." ( Al-Khathib di
dalam Al-Ihtijaj bisy-SyafiI, 8/1)

3. "Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi
Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku
katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati."
(Al-Harawi, 47/1)

serta Imam Ahmad bin Hanbal:
1. "Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik,
Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil."
(Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)

2. "Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam,
maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182).

Perbedaan pendapat di antara mereka muncul karena antara lain perbedaan nash
yang sampai kepada mereka. Sesungguhnya mereka berjalan pada manhaj yang
sama yakni manhaj ahlus sunnah wal jama'ah.

Bagaimana menyikapi perbedaan? Tentunya tidak dapat dipukul rata dengan
memusuhi semua orang yang berbeda atau menerima semua perbedaan.

Ada perkara-perkara yang bersifat ijtihadiyah dan ada pula perkara-perkara
yang tidak patut berijtihad di dalamnya. Harus diingat bahwa tidak semua
orang patut berijtihad dan tidak semua hasil ijtihad itu benar.

Ada penyimpangan-penyimpangan yang akan menjadikan seseorang keluar dari
barisan ahlus sunnah dan ada kesalahan-kesalahan yang dimaafkan. Namun tetap
saja yang namanya kesalahan adalah salah dan tidak dapat dikatakan benar.
Tentunya tidak menafikkan ada masalah-masalah yang memang sulit untuk
ditentukan antara yang rajih (lebih kuat) dan marjuh (kalah kuat).

Perpecahan adalah sesuatu yang tidak disukai (QS. 3:103, 105). Bahkan
Rasulullah pernah mencela pada shahabat yang berpencar-pencar saat
beristirahat di tengah perjalanan. Begitu juga shaf dalam shalat yang harus
diluruskan dan dirapatkan.

"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah
celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa
yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa
memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya". [HR. Abu Dawud dan
dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]

"Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak
panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan
kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau
keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan
bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau
bersabda:"Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf
atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian". [HR. Muslim]

Mari meluruskan shaf shalat kita agar Allah tidak memperselisihkan kita.

Akan tetapi perselisihan adalah sesuatu yang memang ada.

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu,
tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.
Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan
memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya."
(QS. Hud 11:118)

Begitu juga hadits Rasulullah tentang perpecahan umat ini menjadi 73
golongan dan hanya 1 yang benar-benar selamat telah sampai kepada kita.
Apakah kita ingin memaksakan diri untuk menggabungkan seluruh golongan itu
dan menganggap sama mereka?

Hanya kepada Allahlah kita meminta agar dijauhi dari perselisihan. Usaha
kita untuk bersatu sampai-sampai saling menghormati perbedaan aqidah tidak
akan ada artinya jika Allah tidak memberi rahmat. Bagaimanakah agar kita
mendapat rahmat?

"Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. Aali Imraan
3:132)

Dengan demikian bagaimana mungkin kita dapat diberi rahmat jika kita
memaklumi dan membiarkan perbedaan yang bertentangan dengan perintah Allah
dan Rasul-Nya? Apakah cara terbaik menyelesaikan perselisihan pendapat?

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS.
an-Nisaa' 4:59)

Jadi, marilah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Allah menolong kita.
Jelaslah bahwa para imam menghendaki persatuan dengan ucapan-ucapan mereka
di atas.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan menjadikan kita bagian dari
Firqatun Najiyyah (golongan yang selamat) yang mengikuti jejak golongan
terbaik umat ini. Bagaimana mungkin kita selamat tanpa mengikuti petunjuk
Allah dan Rasul-Nya?

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an-Nisaa'
4:115)

"Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan
Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang
penolong." (QS. al-Baqarah 2:107)

Mohon maaf dan koreksi jika ada kesalahan. Segala kebaikan hanyalah dari
Allah sedangkan keburukan datang dari saya dan syaithan. Semoga Allah
memberikan ampunan.

Allahu a'lam bish shawab.

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
___________________________________________________






____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke