Carito ttg pemurtadan si Wawah, alah lamo diekspose di media massa. Tapi dek ambo, iyo indak jaleh baa kalanjutannyo. Sajauh mano aparat mausuik pakaro tu, indak jaleh di ambo. Mudah-mudahan ado urang awak di kampuang bisa manjalehkannyo.
 
Dunsanak kasadonyo....... , dunia taruih baputa. Modernisasi akan taruih malando nagari awak. Ke Islaman kito akan taruih diuji.  Tapi apo program kito untuak ma-ambek kristenisasi di Ranah Minang nan tacinto tu ?.
 
Apo kurikulum sakola anak-anak kito di ranah minang, mengenai palajaran agamo ?. Bara jam dalam saminggu inyo mandapek pelajaran agamo ?. Apo lembaga surau lai masih bajalan di nagari kito ?.
 
Ondehhhhh, sabana banyak kaba barito dari kampuang kito.  Tantang si Wawah dan dimurtadkan. Tantang busuang lapa nan malando. Tantang prosentase paliang randanh kelulusan UAN thn 2003 nan lalu.  Tantang anggota DPRD nan korupsi.
 
Ba dek baitu bana kampuang kito tu kini...?
 
Kama niniak mamak....?. Kama alim ulama....?. Kama cadiak pandai kito....? Alah marantau kasadonyo....?
 


Arlen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr.wb.
Sekilas info buat warga Muslim
smoga kita semua lebih waspada dan berhati-hati dengan orang yang baru dikenal,
Mudah2an kita semua terhindar dari kejadian serupa yang dialami warga kita dibawah ini.
Mohon disebarkan kepada warga kita yang lain.
Terimakasih
Wassalam,
AR.
-----Original Message-----
From: H.Umar [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 02, 2004 11:26 AM
To: Kemal; kuswara; H.Abdullah; BENNNY M.WIJAYA; Mawardi, Awang; ASWIN
Subject: Fw: Pemurtadan itu Ada di Minangkabau

SEKEDAR INFORMASI
 
Sumber : swaramuslim.net
Oleh : Fakta - 02 Jul 2004 - 2:29 am -
Forwarded by : Iwan Setiawan
 

Pemurtadan itu Ada di Minangkabau

imageDi Minangkabau ada postulat, Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah yang menunjukkan betapa Islam menjadi hal yang menyatu dalam kehidupan adat orang Awak. Karena itu, hampir tak terdengar bila orang Awak memeluk agama lain.

Namun, postulat itu tak lagi jadi jaminan. Pasalnya, lewat misi yang tergolong rahasia, tercatat 500 orang Minang dipindahkan ke agama lain, Kristen. Salah satu di antaranya adalah Wawah, panggilan akrab Khairiah Enniswati (17). Gadis manis yang berjilbab ini diculik, diperkosa, dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang dari kalangan Kristen. Saat peristiwa yang kemudian mengguncang masyarakat Minang itu terjadi, Wawah tercatat sebagai pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2, Gunung Pangilun, Padang. Setelah setahun mengendap, tanpa proses hukum, Mei 1999 lalu kasus ini mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Padang. Umat Islam, khususnya pelajar dan mahasiswa Muslim di kota ini pun turun ke jalan.

Gelombang unjuk rasa kemudian mengiringi persidangan kasus ini, hingga kini. Awal Malapetaka Peristiwa mengenaskan itu berawal pada Maret 1998. Wawah yang asal Sumatera Utara itu, kost bersama kakaknya, Wardah, mahasiswi IAIN Imam Bonjol, Padang. Kedua orangtua mereka, tinggal dan bekerja di Bengkulu sebagai dosen.

Sebenarnya, sang paman tinggal di Balaibaru, Padang, tak jauh dari kampus IAIN. Namun, dengan alasan belajar mandiri, keduanya tak tinggal bersama keluarga sang paman.

Suatu hari pada Maret 1998 itu, Wawah yang biasa bersekolah menggunakan angkutan kota (angkot) berkenalan dengan seorang gadis berjilbab, Lia namanya. Orangnya manis, semanis Wawah. Ramahnya bukan main. Esoknya, Lia bertemu lagi degan Wawah di atas angkot jurusan yang sama. Hari-hari berikutnya mereka sering terus bertemu. Keakraban terjalin sudah, maklum sama-sama gadis berjilbab.

Ternyata Lia musang berbulu ayam. Ia penganut Kristen Protestan. Ini diketahui setelah pada suatu hari Lia datang ke rumah kost Wawah. Saat itu, kakaknya, Wardah sedang pergi kuliah ke IAIN. Di sanalah Lia bercerita bahwa ia penganut Kristen Protestan. Ia kemudian bercerita betapa indahnya berkelana dalam dunia Protestan. Tak hanya itu, ia juga berkisah tentang dunia seks yang bagi Wawah teramat tabu. Bulu kuduknya merinding. Ia lalu mengajak Wawah pindah agama.

Kontan saja Wawah menolak. Sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi. Wawah mengunci mulutnya. Ia tidak memberi tahu siapa pun, termasuk kakaknya. Ia takut, teramat takut.

Pemurtadan

Beberapa bulan kemudian Lia datang lagi. Lagi-lagi, saat itu Wardah sedang tidak di rumah. Kali ini ia tak lagi bercerita soal agama, melainkan tentang hal-hal yang indah dan menarik. Ia ajak Wawah berkeliling kota. Wawah enggan, tapi entah setan mana yang berhasil membuatnya patuh. Mereka berdua menghabiskan waktu berkeliling kota Padang. Usai berkeliling kota, Wawah diajak ke suatu tempat. Itulah Gereja Protesten, di Jl Bagindo Aziz Chan, Padang. Di sini, seperti dituturkan paman Wawah, Abu Samah, Wawah sudah ditunggu puluhan jemaah dan Pendeta Willy.

Singkat cerita, Wawah dipaksa membuka jilbab, dipaksa menuju altar. Lalu dipaksa masuk Kristen, kendati gadis ini menangis dan meronta. Bagi Wawah, tidak pernah terbayangkan, bahkan dalam mimpi pun akan dipaksa mengakui Tuhan selain Allah SWT.

Pemaksaan pertama selesai. Kini, Wawah diserahkan kepada Salmon, seorang jemaat gereja yang bekerja di PDAM Padang. Wawah dititipkan di rumahnya di kawasan Telukbayur, Padang. Di situ ada Lisa Zuriana, istri Salmon. Lisa adalah warga Tangah Sawah, Bukittinggi, asli Minangkabau yang kini memeluk Kristen. Ia bendahara Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat (PKPSB). Organisasi ini menaungi sekitar 500 orang Minang yang sudah dikristenkan sejak lima tahun terakhir. Sebanyak 93 orang di antaranya berdomisili di Sumbar, sisanya di rantau. Angka 500 itu, belum termasuk yang sudah dikristenkan sejak 10 atau 15 tahun belakangan. Organisasi ini ketuanya, Yanuardi Koto, orang Lubukbasung, Agam, asli Minang.

Sejak tinggal bersama keluarga Salmon, Wawah didikte dengan ajaran-ajaran Kristen. Selama satu bulan, Wawah dipingit. Kemudian ketika suasana sudah agak tenang, Wawah diajak makan-makan ke restoran dan tempat-tempat wisata. Anehnya, kenapa Wawah tidak berontak? Ternyata, Salmon mengancam Wawah akan menghabisi keluarganya jika melaporkan keadaan dirinya. Juga, kenapa harus disekap di rumah Salmon? Salmon, pegawai PDAM Padang, sering ke Gunung Pangilun, sebab di sana ada bak penampung air PDAM untuk kebutuhan warga kota. Untuk sampai ke bak air itu, Salmon pasti melewati MAN 2 Gunung Pangilun, sebab jalan ke situ ada di sisi sekolah. Berat dugaan, Salmon lah yang membidik Wawah sejak awal, kemudian ia bekerjasama dengan Lia. Setelah berhasil Wawah diserahkan pada Salmon.

Diperkosa

Suatu ketika, Salmon ditinggal sendirian oleh istrinya. Setan pun merasuki jiwa Salmon yang kemudian memaksa Wawah memenuhi nafsu bejatnya. Di bawah ancaman, Wawah diperkosa. Salmon tak mempedulikan air mata Wawah yang bercucuran. Dua kali ia lakukan hal itu. Akibat semua itu, Wawah pucat pasi. Hari demi hari ia lesu dan menerawang. Sementara keluarganya di Padang sudah melaporkan ke polisi bahwa anaknya hilang.

Oleh Salmon, atas anjuran gereja, Wawah diganti nama dengan Indah Fitria. Kemudian dengan memakai ijazah palsu dari SMP 4 Muaro Bungo, Jambi, ia disekolahkan ke SMU Kalam Kudus, milik Yayasan Prayoga, Padang. Keberadaan Wawah di sana diawasi oleh Lisa sepanjang hari. Tapi, suatu hari, Wawah terlihat teman-temannya dari MAN 2. Hal itu segera dilaporkan kepada pamannya, Abu Samah. Sang paman segera memeriksa keberadaan Wawah, namun pihak sekolah berhasil mengelak dengan menyebut tak ada siswi yang bernama Khairiah Enniswati. Abu Samah pulang dengan langkah kecewa. Karena keberadaan Wawah sudah tercium keluarganya, ia pun dipindahkan ke sebuah sekolah Kristen, di Malang, Jawa Timur.

Terbongkar

Namun, polisi sudah terlanjur tahu. Robert, Kepala SMU Kalam Kudus yang melakoni semua itu diperiksa polisi. Ia mengaku dan polisi kemudian menjemput Wawah ke Jawa Timur serta membawanya pulang ke Padang. Sesampai di Padang, tangis dan pekik histeris telah menunggu. Wawah berurai air mata tak henti-hentinya. Kemudian ayahnya yang dosen IAIN di Bengkulu membawa anak kesayangannya itu ke Bengkulu. Di sini ia diislamkan kembali. Sejak itu, Wawah menyendiri, ia hanya beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah SWT.

Karena Wawah sudah sampai di Padang, kasusnya pun diproses polisi. Menurut sumber Republika, kasus Wawah diintervensi oleh oknum pejabat di Polda Sumbar yang kebetulan jemaat Protestan. Maka diamlah kasusnya berbulan-bulan lamanya, bagai lenyap ditelan bumi.

Suatu hari di tahun silam, Kapolda Sumbar (waktu itu) Kol (Pol) Boedi R Koestono, mengadakan pertemuan dengan tokoh agama se-kota Padang. Saat itulah, Ir Nasrun, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi Islam Padang menanyakan perihal kasus Wawah kepada Kapolda. Kapolda kaget dan berjanji akan menuntaskannya.

Kasus Wawah pun mulai diperhatikan dengan 'baik'. Kemudian diajukan ke Pengadilan Negeri Padang, dengan dua jerat hukum. Pertama jerat melarikan anak di bawah umur, kedua pemerkosaan. Kasus pemalsuan ijazah tidak disebut-sebut. Lebih tidak disebut-sebut lagi, pemaksaan pindah agama. Itulah sebabnya, muncul kecurigaan, oknum aparat Polda Sumbar campur tangan. Tapi Kapolda Sumbar, Kol (Pol) Dasrul Lamsuddin membantah kalau anak buahnya terlibat.

Setiap Sabtu kasusnya disidang di PN Padang, sejak Maret lalu. Sidang pertama sampai keenam, tenang-tenang saja. Tapi, setelah memasuki sidang ke tujuh, baru tersangkanya ditahan. Itu pun setelah diberitakan Tabloid (mingguan) Bijak, yang terbit di Padang. Tersangkanya adalah Salmon dan istrinya, Lisa. Sabtu besok, memasuki sidang ke-10. Belum diketahui kapan kasus ini akan diputus majelis hakim yang diketuai Marzuki SH. Sebab, di luar ruang sidang suasana mulai panas. Siswa MAN 2 Padang dan mahasiswa IAIN serta mahasiswa dari PTS/N lainnya sudah melakukan unjuk rasa. Mereka meminta kasus Salmon dibuat terbuka untuk umum dan pelakunya dihukum berat.

Dalam kasus Wawah, yang jadi tersangka hanya Salmon dan istrinya. Gereja menyatakan, semua adalah perbuatan Salmon dan menampik keterlibatan gereja. Lia, gadis yang pura-pura berjilbab dan tokoh penjerumus Wawah seharusnya menjadi tersangka pula. Tapi, ia entah di mana kini. Demikian pula Pendeta Willy, juga raib. Menurut pihak gereja, di sana tidak ada pendeta yang namanya Willy. Tapi menurut saksi, Yanuardi Koto, Willy kini sudah berada di Amerika.

Yanuardi Koto, adalah Ketua Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat (PKPSB). Atas semua itu, pihak gereja tutup mulut. Yang pasti, sidang di PN Padang itu, tampaknya jadi bom waktu, yang bisa meledak kapan saja.

Persidangan masih berlangsung, namun pada Rabu (24/6) lalu di Mapolda Sumbar berlangsung pertemuan tertutup antara Kapolda Kol (Pol) Dasrul Lamsuddin, keluarga Wawah di Padang dan para ulama, terutama dari MUI (Amir Syarifuddin), DDII (Masoed Abidn), dan Muhammadiyah (Nur Anas Djamil). Para tokoh ulama itu mendesak Kapolda mengusut tuntas kasus pemaksaan pindah agama tersebut. Ulama sangat sedih karena banyaknya orang Minang yang pindah agama ke Kristen Protestan.

Seperti dikatakan para tokoh agama itu, Pemuka agama Islam di Sumbar, sudah menahan diri. Sekaligus, meminta umat Islam untuk tidak bertindak sendiri-sendiri. Kasus Wawah diminta untuk jadi pelajaran, bahwa ada yang hilang dari masyarakat, yaitu keimanan yang kukuh. Bisa jadi ini, karena ulama kian langka di Ranah Minang. Dulu, meski suara Buya HAMKA hanya didengar di radio, namun bila Buya bicara, umat Islam Minang mematuhinya. Kini, sudah berbuih-buih ulama bicara di televisi, di masjid, umat cuek saja. Lalu siapa yang salah? ( Arsip RioL )

Balada Wawah di Ranah Minang

Dipaksa masuk Kristen, lantas diperkosa. Korbannya seperti kena hipnotis. Modus baru kristenisasi?

Kasus pemurtadan, perkosaan, penculikan, dan pemalsuan identitas atas diri Khairiyah Eniswah alias Wawah (18), siswi MAN 2 Padang, mulai tampak terang. Sampai berita ini disusun, Polresta Padang telah menetapkan delapan tersangka, yaitu Salmon, Zuliana alias Nenen, Yanuardi Koto, Robert, Pendeta Willy, Lia, Fajar, Yeni, Nita, dan Dachi.

Tragedi Wawah sempat menghentak Ranah Minang. Gadis lugu kelahiran Bengkulu 13 Februari 1981 itu pun tak pernah menduga akan jadi kembang cerita, lantaran penderitaan yang menimpanya. Petaka itu bermula pada 27 Maret 1998 saat Wawah bertemu Lia di bus kota. Lia, gadis berjilbab yang mengaku lulusan Ponpes Darunnajah Jakarta itu begitu baik, tutur katanya manis dan ramah. Wawah yang tengah terhimpit masalah dengan teman sekolah, serasa mendapat rekan bicara. Sama-sama berjilbab lagi.

Hubungan makin akrab. Dan suatu saat, gadis yang aktif di berbagai kegiatan sekolah itu terhenyak ketika Lia membuka jilbab, memperlihatkan kalung salibnya, menyodorkan foto seronok Lia, seraya mengancam akan menyebar fitnah lewat foto itu (28/3/98). Antara Lia dan Wawah memang seperti pinang dibelah dua. Lia kemudian mengaku dirinya Kristen. "Jilbab untuk mempermudah pergaulan saja," katanya.

Jelas, ancaman foto itu membuat pikiran Wawah cemas. Gadis yang beberapa puisinya pernah menghiasi surat kabar ini pun terpaksa menurut ketika Lia memaksa masuk Kristen (29/3/1998). Wawah lantas diajak ke Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) di Jl Bagindo Azis Chan Padang. Di sini ia bertemu Maryeni Paulina Mendrofa (Yeni). Di situ pula nama Wawah diganti menjadi Devina Fitria Amalia.

Wawah kemudian diajak ke Parak Gadang oleh orang yang mengaku bernama Nita dan Fajar. Di sana telah menunggu Pendeta Willy (75) beserta puluhan jemaat. Gadis berjilbab ini dipaksa ke altar. Dibaptis! Ia menangis dan meronta. Turut menyaksikan prosesi itu istri Willy, Yanuardi Koto dan istri, serta Salmon (39) dan istrinya: Zuliana (bendahara Persatuan Kristen Sumbar [PSKB]).

Dua hari berikutnya Wawah tak lagi tinggal di kos bersama kakaknya, Wardah. Ia yang kini sering berkacamata hitam dan tak lagi berjilbab tinggal bersama keluarga Salmon di Jl Palembang 11 Teluk Bayur. Satu bulan Wawah dipingit, didikte ajaran Kristen, termasuk harus siap menanggung segala risiko melawan orang tua.

Gadis manis yang aktif di Pramuka ini bak kerbau dicocok hidung. Jika berontak, Salmon akan menghabisi keluarganya. Ada dugaan kuat, Salmonlah yang sedari awal membidik Wawah. Pegawai PDAM Padang ini memang sering ke Gunung Pangilun dan lewat MAN 2 Padang, sekolah Wawah. Salmon pula yang memperkosa Wawah, 2 kali, saat rumahnya sepi.

Bingunglah Wardah --kakak Wawah, mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang. Dicari ke tempat pamannya, Abu Samah Siregar, nihil. Abu malah punya firasat buruk, jangan-jangan keponakannya diculik germo, hal yang memang sering terjadi. Tiga minggu setelah kepergian Wawah, Abu mencari keponakan kesayangannya di tempat-tempat hiburan Bengkulu, Batam, Medan, bahkan sampai Jakarta dan Surabaya. Merasa tak memperoleh hasil, akhirnya Abu melaporkan hilangnya Wawah kepada polisi (15-16/5/1998).

Abu dan Wardah tentu tak menyangka bahwa di saat yang sama, di sebuah ruko yang difungsikan sebagai gereja di Muaro, Wawah tengah "belajar" Injil, kebaktian, serta menyanyikan puji-pujian berirama rock dan dangdut. Sejak Juli 1998 Wawah dipindah sekolahnya ke SMU Kalam Kudus Padang. Dibuatlah ijazah palsu, nama: Indah Fitria, asal: SMPN 4 Muaro Bungo (Jambi).

Hatta, ketika berada di bus kota hendak ke kolam renang Teratai, Wawah sempat disapa teman dari MAN 2 Padang. "Niswah!" namun ia diam saja, takut! Dari situ keberadaanya mulai terkuak. Berdasar informasi teman Wawah itu, pamannya mencari informasi ke SMU Kalam Kudus. Ternyata hanya berbuah kecewa, di sana tak ada murid bernama Khairiyah Eniswah. Padahal sebenarnya Wawah sempat mengakui nama sebenarnya di depan Robert, kepala sekolah.

Rupanya gelagat tak menguntungkan segera ditangkap Willy cs. Dengan berbagai tipu muslihat akhirnya persekongkolan ini berhasil memindah Wawah ke SMU Kristen 1 Malang (Jatim), sebelum sempat bertemu pamannya. Wawah ditemani istri Robert tinggal di Jl Sawojajar Malang. Pukul 16.00 istri Robert mendapat interlokal dari Padang bahwa "situasi gawat" (22/8/1998).

Wawah yang penampilannya telah berubah diajak kembali ke Padang, ke rumah Salmon (24/8/1998). Ia diwanti-wanti agar mengakui bahwa perbuatan selama ini atas kemauan sendiri. Dan, akhir Agustus ia bertemu paman dan ayahnya (yang telah menunggu 2 hari 2 malam) di Polsek Teluk Bayur. Aneh, gadis ini justru menatap ayah dan pamannya dengan sinis, melotot, tak mau didekati. Baru setelah shalat Isya', Wawah yang begitu dirindukan itu mau pulang, ke Bengkulu. Di tengah keluarganya, ia sering berperilaku aneh: marah-marah, membentak, atau membanting benda pecah-belah. Ia baru sedikit tenang setelah diislamkan kembali. Sejak saat itu, kesehariannya dilewati dengan menyendiri, merenungi nasibnya.

Kasus ini sempat mengendap empat bulan di tangan aparat. Konon, ada interverensi pejabat Polda Sumbar yang kebetulan jemaat Kristen. Apalagi ketika kasusnya mulai ditangani, hanya ada dua jerat hukum, yakni melarikan anak di bawah umur dan perkosaan. Sampai sidang ke-12, kasus pemalsuan ijasah, apalagi pemurtadan, tak pernah disinggung. Orang-orang yang kini menjadi tersangka pun sempat raib, sementara pihak gereja enggan komentar.

Kejanggalan itu sempat memicu protes. Generasi muda Sumbar dan beberapa ormas Islam menggugat dan menuntut pembubaran PKSB yang dikomandani Yanuardi Koto. Yanuardi adalah orang Minang, lahir di Lubuk Basung Agam, alumnus Sekolah Theologi Injil Jakarta. Pria yang menjadi Ketua PKSB sejak 1995 ini diketahui aktif mencari anggota yaitu orang-orang Sumbar yang telah murtad.

Kepada Widia Dara, koresponden Sahid di Padang, Pdt M Tetelepta (Ketua Majelis Jemaat GPIB) mengakui Yanuardi sebagai jemaatnya. Namun ia menolak kaitan GPIB dengan PSKB. Tetelepta yang menjadi Ketua GPIB sejak Agustus 1998 --yang berarti setelah kejadian menimpa Wawah-- juga membantah adanya nama Khairiyah atau Indah atau Devi yang pernah dibaptis di GPIB.

Sementara itu para pemuka agama Islam dan Kristen telah berunding atas inisiatif Kapolda Sumbar Kol (Pol) Drs Dasrul Lamsuddin (19/7/1999). Di meja perundingan Mapolda Sumbar, Tetelepta juga menyangkal adanya gerakan Kristenisasi. Sedangkan Ketua MUI Sumbar Prof H Amir Syarifuddin berpandangan, pemaksaan agama merupakan tindak pelanggaran HAM.

Terlepas dari kasus yang tengah ditangani aparat ini, yang pasti kalangan ulama memang melihat gejala baru di Ranah Minang yang dikenal erat memegang adat ba sandi syara', syara' ba sandi Kitabullah (adat yang berpijak pada norma, yakni norma yang mengacu pada Al Quran). Gerakan pindah agama ke Kristen Protestan kian merebak. Tidak menutup kemungkinan, di tengah fenomena menyedihkan itu masih tersembunyi Wawah-Wawah yang lain. Wallahua'lam. ( Arsip Hidayatullah )

Widia Dara (Padang) dan Pam

Gerakan Pemurtadan di Sumbar
Dulu, Belanda Melarang Kristenisasi

Sebuah pertemuan dilangsungkan di Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Padang, pada 17 September 2003.

Hadir di situ Ketua MUI Sumbar, Prof Nasrun Harun; Sekjen PPIM, Najmuddin Muhamad Rasul; Ketua Forum Penegak Syariat Islam, Irfianda Abidin; Pimpinan Pesantren Ashaabul Kahfi, Afiif Abdul Hadi; dan dari Komite Peduli Umat Islam Bandung (KPUB), Jabar, yaitu A Rifki dan Hari Nugraha.

Selain mereka juga hadir 30-an peserta lainnya. Dalam acara itu dibicarakan upaya menghambat Kristenisasi di Ranah Minang, sebuah suku bangsa yang erat memegang prinsip adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Menurut KPUB, Kristenisasi di Indonesia saat ini didanai dengan uang sebesar Rp 100 triliun. Tidak dijelaskan asal uang sebanyak itu dan sumber informasinya. Yang dijelaskan, dana sebanyak itu dibagi untuk mengkristenkan masyarakat di tiga wilayah penting, yaitu Jawa Barat Rp 29 triliun, Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan, masing-masing Rp 10 triliun.

Sisa dana lainnya, tidak dijelaskan. Angka-angka ini memang sulit dilacak. Meski begitu, menurut Irfianda Abidin, kenyataan hari ini, bahwa Sumbar menjadi prioritas kedua setelah Jabar. Apa pun, kata Ketua MUI Sumbar, Nasrun Harun, kasus Kristenisasi di manapun tidaklah berdiri sendiri. "Ini terkait dengan kerusakan moral seperti narkoba, perjudian, pornografi, dan pornoaksi," katanya.

Karena derasnya upaya Kristenisasi itu, Nasrun Harun menyatakan MUI akan mendukung mati-matian DPRD Sumbar dalam membuat raperda penyebaran agama di daerah itu. Raperda ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kuatnya gerakan salibiyah di provinsi tersebut.

"Kita akan mendukung habis-habisan pembuatan raperda itu," kata Nasrun Harun kepada Republika.
Ketua Komisi E DPRD Sumbar, Abdul Manaf Taher, kepada pers menyebutkan raperda itu sebenarnya sudah ada, tapi 'terkubur' cukup lama di tangan eksekutif.

Karena tidak jelas kabarnya, maka DPRD akan membuat raperda tersebut. Menurut Abdul Manaf Taher, raperda tersebut hanya untuk memperkuat SK tiga menteri tentang penyebaran agama. Di situ disebutkan, tidak dibenarkan menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama.

Pemeluk Kristen sudah masuk ke Minangkabau sejak Plakat Panjang ditandatangani tahun 1833 silam. Beratus tahun berlalu, tidak ada upaya Kristenisasi yang dilakukan oleh gereja terhadap penduduk pribumi, kecuali terhadap penduduk Kepulauan Mentawai yang masih menganut animisme.

Pemerintah Belanda melarang keras aktivitas Kristenisasi terhadap pribumi. Dan itu ditaati. Tapi, kemudian ada empat orang pemuda Minang yang memeluk Agama Kristen tahun 1951. Inilah (mungkin) 'kecelakaan pertama' yang terjadi di Ranah Minang. Setelah itu sepi. Tapi, tahun 1999 Ranah Minang tersentak, ketika kasus Wawah, siswa MAN 2 Gunung Pangilun terbongkar.

Kristenisasi rupanya telah berlangsung lambat namun pasti. Belakangan diketahui bahwa seorang pemuda Lubuk Basung, Kabupaten Agam, telah menjadi pendeta. Sendi adat Minang goyah dibuatnya. Adat di sana menyatakan orang Minang pastilah beragama Islam.

Kalau ia Minang, kemudian pindah agama? 'Dia bukan orang Minangkabau lagi," kata Ketua Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Haji Kamardi Rais Datuk P Simulie. Tak soal, Minang lagi atau bukan, yang penting pindah agama dulu.

Di zaman penjajahan tidak pernah ada upaya Kristenisasi dilakukan oleh penginjil. Menurut buku Sumatera Tengah --sebuah buku paling lengkap tentang Sumatra Tengah sampai detik ini-- "Di daratan Sumatera Tengah ini boleh dikatakan tidak pernah diusahakan pengajaran Injil kepada rakyat Minangkabau karena larangan dari pemerintah kolonial Belanda dulu, oleh karena itu Agama Kristen hanya kedapatan di kalangan beberapa suku penduduk saja yang berada di Padang".

Masih menurut buku yang sama, di Sumatra Tengah (Sumbar, Riau, dan Jambi) rakyat asli tidak mau masuk agama Kristen, kecuali orang Mentawai. Di Mentawai, Kristen Protestan datang pada permulaan abad ke-20. Pendeta didatangkan dari kongsi Rheinisce Mission Gesellschaft dengan pendeta pertama bernama Let yang datang tahun 1910, disusul kemudian pendeta F Borger dan Finke.

Agama Kristen juga sudah masuk ke Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, pada permulaan abad ke-20 lewat orang Nias, Sumut. Penginjil pertamanya adalah seorang Jerman bernama Dorsaf. Orang Nias yang tinggal di Pariaman yang dikristen pertama kali terjadi 1907. Tapi, sampai sekarang, tidak seorang pun warga asli Pariaman yang masuk agama Kristen.

Dekat Bandara Internasional Ketaping, yang sekarang sedang dibangun, akan ditemukan sejumlah gereja. Di sana mula-mula didirikan sekolah Kristen tahun 1919. Sekarang wilayah yang masuk daerah Padangpariaman itu, didiami oleh warga asli beragama Islam dan warga Nias beragama Kristen.

Di Kota Padang telah dibangun gereja tahun 1936 oleh pemeluk Kristen pribumi dari suku lain (bukan Minang). Mereka adalah 'belanda hitam' yang bertugas di Padang waktu itu.

Masih di Padang, pemeluk Katolik Roma pada 1912 berjumlah sekitar 750 orang dan di seluruh Sumbar sekitar 1.300 orang, tersebar di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto.
Sebanyak 95 persen dari mereka adalah orang Eropa.

Pada 1929 pemeluk Kristen di Padang giat mendirikan sejumlah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan mereka maju pesat dengan siswa anak-anak Tionghoa dan Belanda. Sementara di Bukittinggi telah berdiri (kembali) gereja sekitar tahun 1916-1917 dengan pendeta Grammer.

Gereja Masehi Advent Hari Ke Tujuh yang pertama kali didirikan di Indonesia, ialah di Padang yaitu pada 1900. Pendirinya keluarga RW Manson. Orang yang pertama kali berhasil 'dipermandikan' kemudian memeluk agama ini adalah seorang pemuda Batak bernama Immanuel Siregar, disusul kemudian oleh beberapa orang pemuda Tionghoa.

Orang Minang yang pertama memeluk agama Kristen adalah Kristen Advent Hari Ke Tujuh. Mereka lama bermukim di Singapura. Pada 1950 mereka pulang kampung. Setahun kemudian perantau ini berhasil mengkristenkan orang kampungnya sebanyak empat orang dan 'dipermandikan' oleh M Siregar yang khusus didatangkan dari Palembang.

Hari ini, seperti juga abad lalu, pemeluk Islam (mayoritas) dan pemeluk Kristen di Minangkabau hidup berdampingan. Tidak ada cekcok dan pertengkaran. Dalam suasana damai itulah kemudian proyek Kristenisasi diluncurkan. Sulit membuktikannya, namun terasa adanya.

Apa hendak dikata, Kristenisasi memang jalan terus, yang bagi orang Minang telah jadi hantu yang menakutkan. Setidaknya hal itu, terjadi sejak Wawah, yang dipaksa memeluk agama Kristen, pada 1999 silam.

Inilah sebuah ketakutan yang datang dalam kelam. Sewaktu-waktu, anak, adik, kakak, famili dekat, atau dirinya sendiri bisa pindah agama, entah karena sebab apa. Kasus Wawah, dinilai olah pemeluk Kristen sebagai sebuah kasus yang didramatisir dengan dahsyat.

Jauh cerita dari fakta yang sesungguhnya. Mereka lewat internet membantah semua peristiwa itu. Republika dituduh sebagai media yang berandil besar mendramatisasi kejadian tersebut. khairul jasmi

Oleh : Fakta - 02 Jul 2004 - 2:29 am - Print/Cetak - Beritahu Teman - Baca Artikel!!
 
____________________________________________________
  IncrediMail - Email has finally evolved - Click Here
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
___________________________________________________


** Anakbangsa : EmErDe Palar **


Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke