Assalaamu’alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
 
Alhamdulillaah di kampung awak Datuknyo adalah urang yang komitmen dengan adat basyandi syarak, syarak basandi kitabullah. Semoga dengan kepemimpinan beliau Ranah Minang dapek kembali menjadi masyarakat nan komitmen dengan nilai-nilai keislaman sebagai dasar-dasar adatnyo.

Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"
 

Edisi 1/XVII 2004 - Profil

Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie: Pagar Ranah Minang

Penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang seronoknya berencana tampil di Kongres Kebudayaan Nasional di Bukittinggi. Kamardi Rais menentang habis-habisan. “Bertentangan dengan budaya Minang,” katanya

Sungguh tak mudah menemui sosok Pak Datuk yang satu ini. Jika tak ditemukan di rumah atau di kantornya, pastilah ia sedang berkelana ke daerah-daerah.

Begitu pula ketika Hidayatullah bertandang ke rumahnya yang sederhana, tak jauh dari bantaran Sungai Batang Panjalinan yang mengalir tenang di pinggiran kota Padang. Satu kali disambangi gagal. Dua kali pun gagal. Barulah yang ketiga berhasil.

Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, nama lengkap datuk ini, adalah Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat. Lembaga adat tertinggi di Ranah Minang. Dia membawahi para pucuk adat dan ninik mamak. Merekalah benteng terakhir pertahanan adat-istiadat dan budaya Minangkabau dari gempuran budaya luar yang tak Islami.

Jabatan sebagai Ketua Umum LKAAM diembannya sejak 1999 hingga sekarang. Tak heran bila dia jarang di rumah. Sehari-hari dia harus pergi ke kabupaten, kota, dan nagari-nagari di Ranah Minang. Belum lagi pertemuan rutin dengan para ninik mamak (petinggi kaum/suku), pucuk adat (pemimpin adat), bundo kanduang (kaum ibu), dan jajaran pemerintah daerah/nagari.

Setiap pekan nyaris selalu ada acara-acara ritual adat, seperti batagak (pelantikan) dan malewakan gelar (peresmian) penghulu di berbagai suku. Sebenarnya acara-acara tersebut bisa saja diwakili pengurus yang lain. Tapi selalu saja Pak Datuk tak dapat menolak jika ada masyarakat yang mengundangnya. Dia tak ingin mengecewakan anak kemenakan para datuk yang akan
dilantik itu. Bagi mereka, prosesi adat rasanya tak afdhal jika tak dihadiri Pak Datuk.

“Kemarin saya ke Solok. Sebelumnya ke Payakumbuh,” Kamardi menggambarkan kesibukannya.

Kendati usianya sudah lanjut, laki-laki kelahiran Nagari Aia Tabik, Kabupaten 50 Koto, 12 Maret 1933 ini tampaknya belum bisa tenang melewati hari tuanya. “Bagi saya, selagi badan sehat, insya Allah tugas-tugas akan tetap saya tunaikan. Tak ada istilah bersantai-santai di hari
tua.”

Mengapa budaya dan adat istiadat Minangkabau harus dipertahankan?

Serangan global
Kekhawatiran Kamardi akan susutnya adat Minang bukan tanpa alasan. Kamardi menilai budaya Barat, yang dimotori Amerika Serikat, sudah gencar mengguncang Ranah Minang. Pergaulan bebas remaja, salah satunya. Yang lain,
makin tercampaknya agama dari kehidupan sehari-hari.

Tak cuma itu, Islam yang menjadi akar budaya masyarakat Minang sering dikaburkan oleh orang-orang yang tak mengerti, baik disengaja atau tidak. Peringatan kenaikan Isa al-Masih misalnya, ditayangkan oleh RCTI satu paket dengan acara adat batagak penghulu di Payakumbuh.

“Kita langsung melayangkan protes keras. Ini bisa berakibat fatal.

Sebab, pemirsa RCTI akan menduga acara batagak penghulu termasuk bagian dari misa Kristen,” kata Kamardi. Protes yang dilayangkan LKAAM kemudian menjadi berita utama media-media lokal di Sumatera Barat.

Penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang seronoknya pernah mau tampil di Kongres Kebudayaan Nasional baru-baru ini di Bukittinggi. Pak Datuk kembali bersuara lantang, menolak habis-habisan. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan budayawan-budayawan terkemuka nasional.

Para budayawan menilai, larangan itu tak pernah ada dimanapun. Namun Pak Datuk menimpali, “Tolong hargai budaya lokal. Realitasnya, budaya lokal (Minang) tak bisa menerima kedatangannya. Silakan jika budaya lokal lain tak mempermasalahkan goyang ngebor-nya. Tapi budaya lokal Minang tak dapat disesuaikan begitu saja.”

Tak anti-perubahan
Sebagian orang menilai, sikap seperti Pak Datuk dianggap sebagai anti-perubahan. Namun bagi Pak Datuk, adat, budaya, dan orang-orang Minang sama sekali tak menolak kemajuan. Namun tidak juga menerimanya mentah-mentah.

Adat Minang, kata ayah 12 anak ini lagi, sangat fleksibel dan egaliter. Ibarat sebatang pohon, adat Minangkabau punya tiga cabang dengan satu akar tunggang. Ketiganya adalah adat istiadat, adat nan-diadatkan, dan adat teradat. Ketiganya boleh berubah bila memang itu sudah kehendak zaman.

Misalnya, boleh makan dengan sendok, mendengarkan radio, menonton televisi, dan menggunakan internet. Semua itu adalah produk dari globalisasi dan memiliki nilai positif jika dipergunakan secara baik.

Bila suatu adat harus diubah, maka musti diputuskan melalui musyawarah, tak boleh secara individu. Tentu saja musyawarah tersebut harus bersumber dari kebenaran Islam.

Tetapi, tetaplah ada adat Minang yang tak boleh berubah sedikit pun. Inilah yang dinamakan adat nan sabana (adat yang benar-benar adat), yakni adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah. Inilah adat yang sudah ditentukan oleh Sang Khalik. Sama seperti matahari yang harus terbit dari timur dan terbenam di barat.

Kata Kamardi, Islam tak bisa dilepaskan dengan orang Minang. Jika seseorang sudah melepas Islam (menjadi murtad), maka orang tersebut bukan orang Minang lagi.

Masuknya budaya berpakaian ketat para gadis-gadis Minang dan serbuan Kristenisasi seakan-akan telah menampar wajah para Datuk di Minangkabau. Ibarat pepatah, arang tercoreng di kening sendiri. Entah ke mana muka akan disembunyikan. Sayangnya, pengaruh negatif globalisasi ini tak disadari oleh para orang tua. Mereka berpendapat, membendung pengaruh negatif itu adalah tugas para datuk, pucuk adat, dan Ninik Mamak.

Seorang perantau Minang dari kota Bandung, cerita Kamardi, suatu hari pernah datang ke kantor LKAAM seraya marah-marah. Rupanya, anak kesayangannya tak lagi beradat kepada orang tua. Sang anak telah terkena sihir globalisasi. “Ini semua terjadi karena para Ninik Mamak dan pemuka adat di Minang tak bisa membendung masuknya budaya luar yang negatif,” kata orang itu.

Ketika diteliti, ternyata keteledoran ada pada diri sang bapak sendiri. Sebagai kepala keluarga ia tak membiasakan membaca Al-Quran di rumah, bahkan jarang shalat berjamaah. “Kalau faktanya begitu, bagaimana bisa menyalahkan para Datuk dan Ninik Mamaknya yang tinggal di kampung Air Tabit sana?” tanya Kamardi.

Memang, menurut Kamardi, keteladanan orangtua dalam mendidik anaknya sudah semakin surut di Minang dan di perantauan. Padahal merekalah orang yang paling dekat dengan anak. Sementara para datuk dan Ninik Mamak tak tinggal bersama mereka, bahkan jauh di kampung halaman.

“Bagaimana mungkin seorang ibu bisa marah kepada anak gadisnya yang berpakaian ketat, bila di rumahnya sendiri sang ibu masih mengenakan jilbab mini yang tampak dada?”

Antara dua karang
Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie sejak kecil rajin mengaji. Tak heran jika Datuk yang punya nama asli Kamardikaan ini sudah khatam Al-Quran saat duduk di kelas tiga Sekolah Nipon Indonesia (setingkat SR).

Ia suka tidur di surau (mushalla) seperti halnya anak muda Minang kala itu. Di surau pula ia banyak belajar pepatah Minang yang sarat dengan pesan-pesan agama. Pepatah-pepatah itu sering ia selipkan dalam berceramah, atau tulisan-tulisannya.

Selain mengaji, Kamardi kecil hobi membaca. Nyaris semua bahan bacaan habis dilahapnya, kecuali cerita-cerita mistik dan fiksi. Ia tak suka mistik karena dekat dengan syirik, sementara fiksi lebih banyak mengajak orang untuk berkhayal.

Kegemarannya membaca dibarengi dengan kegemaran menulis. Bakat tulis-menulis ini mengantar Kamardi memasuki dunia jurnalistik pada 1956. Ia sempat memimpin sejumlah surat kabar dan tabloid lokal. Ia pernah ikut penataran wartawan senior Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bidang ke-Islaman di Pondok Modern Gontor pada 1974. Karir jurnalistiknya kemudian melasat hingga dipercaya menjabat Ketua PWI Cabang Sumatera Barat selama dua priode (1981-1985 dan 1985-1989).

Ayah Kamardi, semasa hidupnya, pernah memiliki sebuah majalah Islam bernama Pedoman Masjarakat. Majalah yang terbit di Medan inilah yang mengenalkan Kamardi pada jurnalistik. Setelah ayahnya meninggal, kumpulan majalah itu dijilidnya, lalu dibaca berulang-ulang sampai lusuh.

Dari majalah
Kamardi mengenal nama Buya Hamka yang sempat menjadi pemimpin redaksi majalah itu. Demikian juga Natsir, A Hasjmi, Buya ZA Ahmad, dan M Yunan Nasution. Karya-karya tokoh Minang tersebut banyak mempengaruhi gaya penulisan Kamardi di kemudian hari.

Selain dunia jurnalistik Kamardi juga rajin mengikuti pelatihan dan kursus adat. Kecintaannya pada pelestarian adat Minangkabau membuat tamatan Madrasah Islamiyah ini ikut mempelopori berdirinya LKAAM pada 1966 bersama para tokoh adat. Saat itu Kamardi dipercaya mengurus LKAAM tingkat Kabupaten 50 Kota.

Beberapa tahun kemudian ia hijrah ke Padang dan diamanahi sebagai Humas LKAAM. Beberapa periode kemudian ia menjadi sekretaris umum, dan akhirnya dipercaya sebagai ketua umum hingga sekarang.

Ketika menjadi wartawan, Kamardi sempat beberapa kali mewawancarai Dr Mohamad Hatta. Dari beberapa pertemuan tersebut muncullah kekaguman Kamardi pada sosok proklamator kemerdekaan RI asal Sumatera Barat ini. Salah satu semangat yang diteladaninya dari Hatta adalah apa yang ia sebut “berlayar di antara dua karang.”

Karang yang dimaksud adalah dua negara adidaya pada masa itu, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sementara berlayar artinya bangsa yang terus melaju. Jadi, berlayar di antara dua karang berarti keteguhan sikap untuk terus melaju, yakin dengan percaya pada kemampuan dan jati diri tanpa harus menjadi budak dua negara adikuasa. Membudak bisa berarti mengekor budaya. Seharusnya, kata Kamardi, bangsa Indonesia berani menentang arus budaya Barat dengan kepala tegak.

Hatta benar dengan pepatahnya. Namun fakta sekarang, kata Kamardi, Indonesia telah “singgah” pada salah satu karang. “Ini karena kehormatan kita telah sumbing,” kata Kamardi lagi. *** Dodi Nurja/Hidayatullah

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke