Nyambung dari postingan Emas Fisika...
Mungkin saat ini mereka menyadari bahwa ternyat kecerdasan dan kepinta
ran itu buka barang bagus dan punya nilai jual yang bagus dibanding
dengan kontes kecantikan dan ketampanan.
Mudah2-an saja Mulyono dan Ni Komang Darmiani tidak putus asa dan
mengalihkan perhatiannya untuk memenangkan AFI yang penghargaannya 
ternyata jauh lebih bagus dan lumayan dan mereka lebih memilih untuk
ke tempat2 perwatan wajah daripada ke lembaga2 pendidikan.

Apa yang dialami oleh dua duta kita tersebut paling tidak sudah ter
cermin dalam pemilu presiden tokh yang menang adalah calon-2 yang
dapat memenuhi selera pasar (penonton) yg memang suka dengan penampi
lan yang menarik dan yang punya tahi lalat di dagu.

wassalam,
harman

****
Diterima di ITB Malah Kebingungan

PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega, sebab
setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman atau nyanyi dan
dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya dengan pemenang
Olimpiade Biologi Internasional.

Usai mendapat 'penghargaan' dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dikdasmen), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebesar Rp.5 juta
per orang, mereka tambah miris dengan masa depan mereka sendiri. Sebab,
bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun tawaran model iklan dari
berbagai produk yang berarti bakal dapat duit. Sang juara Olimpiade itu
harus berpikir keras bagaimana mencari duit untuk kelangsungan sekolah
mereka. Seperti yang dialami Mulyono, pemenang medali perunggu Olimpiade
Biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur (Jatim).

Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi Bandung
(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang diterapkan oleh
ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa yang orang tuanya petani
itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus membayar uang masuk yang
besarnya sekitar Rp.45 juta, tetapi untuk biaya kuliah serta biaya hidup
selama di Bandung masih tetap menjadi pikirannya.

"Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan
uang," katanya lirih. Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang
diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari
sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana bagi kelangsungan sekolahnya
kelak.

Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp.1,7 juta per
semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan pemantauannya
lebih dari Rp.400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa atau sponsor, mustahil
saya bisa kuliah di sana," kata Mulyono.

Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama dengan
Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa dalam
Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya. Darmi
mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana melalui
jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke
Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa
terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat bingung karena ia
diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp.11
juta. Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan uang
'penghargaan' sebesar Rp.5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah, masih kurang
Rp.6 juta lagi."

Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA, harus berusaha keras
menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya semester yang harus
dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak bila ia belajar di
Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman orang tuanya
di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja. Artinya, selama
menuntut ilmu ia harus indekos karena tidak ada famili di sana.

Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar, tetapi
mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu Olimpiade Sains cuma sebesar itu?

Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak bangsanya yang
telah membawa harum di dunia internasional? Jadi, kapan bangsa ini mulai
menghargai orang cerdas dan pintar?
[Nuzwardi Sjahwil] sampai kita lebih menghargai kecerdasan dibandingkan
kecantikan ... kalo gitu kapan dong? wah gak tau ya, mungkin gak akan pernah
selama cowok2 lebih memilih cewek cantik dibanding cewek cerdas, dan cewek2
lebih memilih cowok keren/tajir dibanding cowok pintar, selama masyarakat
kita lebih suka nonton AFI, sinetron daripada nonton LG prima,  wild thing ,
walking with cave men, selama orang kaya lebih dihargai daripada orang
pintar dan akhirnya selama materi selalu menjadi tujuan...


Sumber: Media Indonesia Online (22 Juli 2004).

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke