Assalamualaikum.Wr.Wb.

Kiriman dari teman juga,baik buat para Ortu.


From: "maya permadi" <[EMAIL PROTECTED]> 
To: [EMAIL PROTECTED] 
CC: [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED] 
Subject: FW: [pitulas_sekdilu] hari anak nasional
(renungan) 
Date: Wed, 28 Jul 2004 11:25:00 +0700 

Plain Text Attachment [ Download File | Save to my
Yahoo! Briefcase ] 




>From: sony witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
>>Dear all..
>
>Marilah kita merenung sejenak untuk Peringatan Hari
Anak Nasional 23 
Juli 
>2004 yang lalu.
>
>Begini ceritanya:
>
>Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan
>perenungan bagi para ORANG TUA...
>
>Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD
>Budi Mulia Bogor.
>Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4
>di SD itu. Waktu itu Saya memang harus berurusan
>dengan wali kelas dan kepala sekolah.
>Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala
>sekolah, Dika yang Duduk di kelas unggulan, tempat
>penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu
>justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
>
>Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala
>sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah
>sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan
>sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk
>melamun.
>
>Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah
>lembut saya tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu
>inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
>
>"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya
>
>"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
>
>Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan
>kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun
sudah
>sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya
>kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang
>psikolog.
>
>Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika
>meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa
>persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi
>soal dalam hitungan menit.
>
>Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil
bersahaja
>namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil
>testnya. Angka kecerdasan
>rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
>dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan
>pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti,
>penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada
>angka 140 - 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor
>untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115
>(Rata-Rata Cerdas).
>
>Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan
yang
>berbeda itulah Yang menurut Psikolog, perlu dilakukan
>pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab
>Itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
>mengantar Dika kembali Ke tempat itu seminggu lagi.
>Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
>
>
>Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika
>kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.
>Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan,
>setidaknya Psikolog Itu telah menarik benang merah
>yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa
>factor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya
>saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban
>yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu
>membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu
>yang masih jauh dari ideal.
>
>Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin
>ibuku :...."
>Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka
>hatiku, sebentar saja"
>Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
bahwa
>selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika
>untuk bermain bebas.
>Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam
>permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa
>perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan
>waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain
>basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan
>waktunya main game di computer dan sebagainya.
>
>Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi
>masa depannya, Dika perlu menikmati
>permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
>luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian
>besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti
>berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing
>memikirkan
>jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
>Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
>diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati
>masa kanak-kanaknya.
>
>Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku
>ingin Ayahku ..."
>Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun
>kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa
saja
>seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"
>Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
>bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi
>diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya
ingin
>melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari,
>seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika
ingin
>ayahnya bangun pagi-pagi kemudian
>membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum
>tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV
>secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis
>dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang,
>tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan
oleh
>kebanyakan orang tua.
>
>Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin
ibuku
>tidak ..." Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti
>dirinya" Dalam banyak hal saya merasa
>bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,
>disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang
>saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik
dan
>bijaksana.
>Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis
>seperti diri saya.
>Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin
>menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau
>bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa
>dalam bentuk sachet kecil.
>
>Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin
>ayahku tidak : .."
>Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan
>orang lain.
>Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang
>aku buat adalah dosa"
>
>Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk
>selalu bersikap dan bertindak benar, hingga
>hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
>berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa
>setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar
>dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
>berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah
>dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul
>karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
>yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan
>apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau
>menghentikannya.
>
>Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu
>diberi kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian iapun
>bisa belajar dari kesalahannya.
>Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah
>adakalanya bisa menjadi pelajaran
>berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat
>kesalahan yang serupa.
>
>Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku
>berbicara tentang ....."
>Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang
>penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya
>justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit,
>sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang
>menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran
dan
>PR yang diberikan gurunya.
>Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting,
>bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
>
>
>Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya
>dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari
>pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran
>tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
>pengetahuan.
>
>Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
>.....",
>Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara
tentang
>kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu
>merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat
>salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya
>dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal,
>orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang
>tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika
>sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya
>sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
>meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang
>diajarkan orang tua kepadanya.
>
>Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku
>setiap hari........"
>Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya
>dengan lancar " Aku ingin ibuku mencium dan memelukku
>erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
>Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang
hampir
>setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk,
>apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah,
>pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
>dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah.
>Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang
>tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
>oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang
>tidak adil atau pilih kasih.
>
>Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin
>ayahku setiap hari....."
>Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik
>dengan satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi
>seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
>senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal
>kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun
>tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa
>menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam
>melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari
>ayahnya setiap hari.
>
>Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan
>"Aku ingin ibuku memanggilku...." Dikapun menuliskan
>"Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama
>yang bagus"
>Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami
>telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti,
>yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang,
>tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan
>Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil
>dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan
>Le dari kata "Tole", kependekan dari kata "Kontole"
>yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya
>merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja,
>karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di
>kalangan masyarakat Jawa.
>
>Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi
"Aku
>ingin ayahkumemanggilku .."
>Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
>Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan
>sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara
>dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
>logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur
>keliling" kata suami saya.
>
>Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu,
>saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja
>disebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
>hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
>pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai
>dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak
>ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect
>Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah
>seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak
>adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari,
>saya telah melanggar hak anak saya karena telah
>memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan
>bermartabat.
>
>Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan
>dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua
>kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel,
>ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
>
>Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka
>tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada
>ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk
>menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang
>tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
>anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di
>dalam ajaran dan nasehat Tuhan.
>
>Untuk Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli
2004, Saya ingin 
>mengingatkan kembali kepada
>para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan
>melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan Yang Maha
Kuasa.
>
>(Ditulis oleh : Lesminingtyas)
>




                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke