" kalianlah yang paling mulia ? "

      Dalam lamunannya, pemuda dari mesir ini dikejutkan oleh suara berat dari arah 
belakang. Dia menoleh mencari-cari asal suara tersebut, tapi tak seorangpun ada 
disana. Sesaat suara itu terdengar lagi dan, telinga dan mata pemuda ini tertuju pada 
sebuah batu. Dia seperti tidak percaya, ia melangkah mendekati sebuah batu besar lalu 
menempelkan telinganya.

       " faizaa sawwaituhuu ? " Kembali suara itu terdengar, dan pemuda ini semakin 
yakin bahwa batu itulah yg berbicara.

      " faizaa sawwaituhuu, telah Allah percantik rupa kalian sehingga kalian adalah 
makhluk terindah yang ada di muka bumi ini ...

      " apakah engkau sedang berbicara kepadaku, wahai batu ? " Tanya si Pemuda.

      " wanafaghtu fiihi mirruuhi, Allah jualah yang langsung meniupkan Ruh-Nya ke dlm 
diri kalian sehingga kalian hidup dan dapat menikmati kehidupan di dunia ini ..."
      Batu itu kembali bersuara. Tanpa menjawab pertanyaan si pemuda tadi,

      " faqho'uu lahuu saajidiin, duhai manusia, lihatlah, Allah telah perintahkan 
para malaikat untuk tunduk dan sujud pada bapak kalian Adam alaihissalaam, sebagai 
tanda penghormatan akan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada kalian ? "

      " Apa maksudmu, wahai batu ? ?" Tanya si pemuda lagi.

      Kembali terdengar suara dari batu itu : " Kalian adalah makhluk termulia yang 
diciptakan Allah, Sang Pencipta seluruh makhluk. Kalian adalah seutama - utama 
makhluk. Dengan kasih sayang-Nya, kalian dianugerahi berbagai kemampuan yang tidak 
dimiliki oleh makhluk lain. Tapi, sayang sekali, anugerah yang kalian terima itu tidak 
kalian gunakan untuk mendekatkan diri kalian pada-Nya?
      Bukankah telah Allah berikan kepada kalian rezki yang baik, anak-anak yang 
sehat, sahabat dan kerabat, harta, pangkat dan jabatan, dan segala sesuatu yang tidak 
didapatkan oleh makhluk lain ? "

      Hening?

      si pemuda juga terdiam.  Dalam diamnya, ada yang bergemuruh terasa di dada... 
Suara ini telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya. Ada air mata yang 
menganak-sungai dan meleleh di pipi. Air bening yang bagaikan cermin itu,  sepertinya  
menayangkan kembali kilas balik dirinya selama ini.

      Diri yang selalu lalai, yang menghabiskan waktu untuk hal-hal duniawi belaka. 
Diri yang terhanyut oleh pesona  musik dan berlalu jika mendengar alunan ayat-ayat 
suci.  Diri yang menghabiskan waktu di bioskop dan caf�-caf�, seakan tak tersisa waktu 
untuk merenung di masjid-Nya. Diri yang selalu gembira, bersenda gurau dengan teman 
dan sahabat, tanpa ada waktu untuk membayangkan gejolak api-Nya yang dahsyat. Bahkan 
tak tersisa sebulir air matapun untuk memintakan ampunan-Nya.

      Duhai diri?
      Kemanakah ruh ini akan terbang jika sang pencabut kenikmatan dunia telah datang??
      Ke indahnya Firdaus ...
      atau terjungkal ke dalam api yang bergejolakkah? ?

      " qholaqtu bidayya... " ya Robbi, bahkan Engkau sendiri yang telah menciptakan 
diri-diri kami ini dengan tangan-Mu. Lalu dengan apa kami balas kemuliaan ini ?

      Si Pemuda masihlah terus menangis...

      ======

      (RPP,   inspired by QS Shaad : 71-88)






____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
___________________________________________________

Kirim email ke