dari republika, bagus juga buat bahan renungan kita.

Rabu, 18 Februari 2004

Sebuah Perjuangan Terbesar

Penulis :



Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A
Leader!
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
faksimile: 021-7983623

Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun
keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut
air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras
bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya,
''Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?''
Orang bijak menjawab, ''Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi
mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku.
Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat.
Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini
untuk membunuh perasaan sombongku itu.''
Para pembaca yang budiman, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi
kita semua yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Di tingkat
terbawah, sombong sering disebabkan karena faktor materi. Kita merasa lebih
kaya, lebih cantik, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong sering disebabkan faktor kecerdasan. Kita merasa
lebih pintar, lebih kompeten, lebih bijaksana dan lebih berwawasan
dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong sering disebabkan faktor kebaikan. Kita
seringkali menganggap diri kita lebih berakhlak, lebih bermoral, lebih
pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan ini, semakin sulit pula
kita mendeteksinya. Sombong karena materi akan sangat mudah terlihat tetapi
sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih yang halus di dalam
hati kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan dan tidak pada
tempatnya. Pada tataran yang wajar, ego menampilkan dirinya dalam bentuk
harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Namun,
begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada
sangat dekat dengan kesombongan. Bahkan, seringkali batas antara bangga dan
sombong tak terlalu jelas.
Diri kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
diri sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita sepenuhnya
berada dalam kutub diri sejati, kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak
punya apa-apa. Kita sama sekali bebas dari materi apapun. Tetapi, seiring
dengan berjalannya waktu, kita mulai memiliki berbagai kebutuhan materi.
Bahkan, lebih dari sekedar yang kita butuhkan dalam hidup, kelima indra kita
selalu mengatakan bahwa kita membutuhkan yang lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup seringkali mengantarkan kita menuju kutub ego. Perjalanan
inilah yang memperkenalkan kita kepada kesombongan, kerakusan, serta iri dan
dengki. Ketiga sifat ini adalah akar segala permasalahan yang terjadi dalam
sejarah umat manusia.
Perjuangan melawan kesombongan sebenarnya adalah perjuangan menarik diri
kita ke kutub diri sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala
bentuknya ada dua perubahan paradigma yang perlu Anda lakukan. Pertama, Anda
perlu menyadari bahwa hakikat manusia adalah diri sejati, kita bukanlah
makhluk fisik tetapi makhluk spiritual.
Diri sejati kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah syarat
kita untuk hidup di dunia. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan kita mati
pun tanpa membawa apa-apa. Pandangan seperti ini akan membuat Anda melihat
siapapun sebagai manusia yang sama. Anda tidak akan lagi tertipu oleh
penampilan, kecantikan, dan segala ''tampak luar'' yang lain. Yang kini Anda
lihat adalah ''tampak dalam.'' Pandangan seperti ini sudah pasti akan
menjauhkan Anda dari berbagai kesombongan.
Kedua, Anda perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang Anda lakukan,
semuanya itu semata-mata adalah untuk diri Anda sendiri. Anda menolong orang
untuk kebaikan Anda sendiri. Anda memberikan sesuatu kepada orang lain
adalah untuk Anda sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi: Energi yang Anda berikan
kepada dunia tak akan pernah hilang. Energi itu akan kembali kepada Anda
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang Anda lakukan pasti akan kembali kepada
Anda dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun
kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik pada orang lain,
kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu,
apalagi yang harus kita sombongkan?
Dewis, 34
www.cimbuak.com
#Kampuang Nan Jauah Dimato Dakek Di Jari#


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke