Kompas Seni & Budaya
Minggu, 13 Juni 2004

Membeber Peta Lukisan Minangkabau

JIKA pada dunia kesusastraan para sastrawan Minangkabau setidaknya pernah
begitu mendominasi peta sastra Indonesia, tidak begitu dengan dunia seni
rupa. Pernah memang ada nama-nama seperti Wakidi, Oesman Effendi, Nashar,
Mochtar Apin, dan Zaini. Tetapi boleh dibilang, setelah generasi ini tak
banyak yang mengenal lagi perupa-perupa dari daerah itu.

Kalau kemudian sekarang muncul pameran seni rupa "Mempertimbangkan Tradisi,
Karya Perupa Minangkabau se-Indonesia", 3-12 Juni 2004 di Galeri Nasional
Indonesia (GNI), pastilah di antaranya untuk menjawab "kekosongan" yang
lebih dari dua dekade itu.

Tak main-main, pameran yang baru pertama kali diadakan dalam lingkup
Indonesia ini tak kurang membeber 118 karya yang berasal dari 111 perupa
asal Minang. Para pesertanya bisa bertempat tinggal di Sumatera Barat atau
bisa pula tidak menetap di daerah asalnya secara geografis.

Berpameran secara ramai-ramai seperti ini tentu saja mengandung beberapa
risiko. Pertama, barangkali ia hanya akan jatuh pada semangat reuni. Dalam
semangat ini tentulah sejenak pencapaian-pencapaian estetik bisa dilupakan
atau setidaknya dikendurkan. Kedua, karya-karya yang dibeber menyerupai
fragmen-fragmen yang sangat sulit dirunut benang merahnya. Meski
penyelenggara memasang tema mentereng "Mempertimbangkan Tradisi Karya Perupa
Minangkabau se-Indonesia", boleh jadi tema ini menjadi kehilangan tautannya
dengan karya-karya yang dipamerkan.

Sebenarnya risiko ini sangat disadari oleh Mamannoor yang melakukan kerja
kuratorial. Oleh karena itulah ia mencoba memenggal sejarah (waktu) sebagai
langkah pembatas untuk kemudian mereka-reka peta seni rupa Minang yang
berkonsep modern. Pembatasan ini pada awalnya bermaksud menyempitkan ruang
sejarah agar mudah menemukan pola-pola seni rupa modern Minang.

Rupanya, ketika melakukan aktualisasi terhadap upaya itu Mamannoor tetap
menemui kesulitan. Semangat reuni tadi tak bisa menghindarkannya untuk tetap
menampilkan karya-karya yang secara kualitas sangat tidak meyakinkan.
Sementara di sisi lainnya, ditampilkan pula karya-karya perupa kontemporer
dengan karya-karyanya yang telah banyak menyerap kecenderungan seni rupa
dunia. Perupa seperti Rudi Mantovani dengan karya-karyanya yang jauh dari
kategori konvensional harus berdampingan dengan para perupa yang untuk
menundukkan media pun masih tergagap-gagap.

Seharusnya, semangat reuni tidak kemudian mengalahkan
pertimbangan-pertimbangan kualitas karya. Karena hal itu justru mengaburkan
"cita-cita" untuk merunut peta seni rupa Minangkabau setelah sekian waktu
seperti lowong.

Forum ini seharusnya dijadikan momentum untuk menunjukkan betapa karya-karya
para pelukis Minang selama ini telah "turut campur" menghidupkan geliat seni
rupa di Tanah Air. Bahwa Minang tak hanya berhenti pada Wakidi atau Zaini,
tak hanya sampai pada Oesman Effendi atau Mochtar Apin, tetapi masih
bertaburan para perupa lain yang kini sebagaimana warung padang, tersebar di
berbagai pelosok Indonesia. (CAN)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke