Judul         : A.A. Navis : Karya dan Dunianya
Pengarang : Ivan Adilla
Penerbit    : Grasindo, 2003
Tebal        : ix + 227 halaman
 

Berbinarnya dunia sastra sejak dekade terakhir ini tidak diimbangi dengan munculnya 
apresiasi pembaca secara memadai. Karena itu, pemetaan terhadap wilayah pembaca secara 
geografis maupun dari strata pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, tidak diketahui 
secara jelas. Padahal, kejelasan wilayah pembaca akan memungkinkan distribusi karya 
sastra menjadi lebih lancar. 
Mencermati hal itu, untuk merangsang tumbuhnya apresiasi aktif dalam arti tidak 
sebatas melakukan pembacaan tetapi juga memahami melalui diskusi dan memaknai secara 
kontekstual karya-karya para pengarang, perlu disiasati oleh para pemerhati dan ahli 
sastra agar kehadiran karya sastra benar-benar menyentuh aras kemanusiaan. Dalam 
konteks inilah, ulasan terhadap karya sastra yang beredar di masyarakat menjadi 
penting untuk menjembatani karya sastra dengan pembaca awam. Dengan demikian, pembaca 
awam dapat dipandu untuk memetik nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Memang 
diakui, ulasan terhadap karya sastra yang beredar di masyarakat tidak sebanding dengan 
jumlah pengarang yang melahirkan karyanya. Dari yang sedikit itu, pembaca karya sastra 
yang kreatif dapat berguru ke Universitas Andalas Padang. Ivan Adilla dosen Fakultas 
Sastra Universitas Padang telah berupaya membedah secara komplet karya-karya Ali Akbar 
(A.A.) Navis melalui buku ini. 
Kehadiran buku ini setelah meninggalnya A.A. Navis pada 22 Maret 2003, dapat dimaknai 
sebagai monumen atau tugu peringatan bagi almarhum yang telah berjuang melalui olah 
intelektual dan olah rasa di medan sastra Indonesia. Sebagaimana tugu atau monumen 
yang didirikan secara profan di sudut-sudut kota, karya-karya Navis juga tidak luput 
dari cercaan dan makian berbagai pihak. Karyanya yang menghebohkan "Robohnya Surau 
Kami" (RSK) merupakan gerbang maut bagi dunia kepengarangannya karena cerpen itu 
mengundang pro-kontra di kalangan umat Islam. Dibagi dalam 11 bab, diawali dengan bab 
pendahuluan yang berisi gambaran umum tentang karya Navis (objek ulasan buku ini), 
diakhiri dengan bab penutup yang merupakan rangkuman terhadap hasil ulasan pada 
bab-bab sebelumnya, ditambah satu bab khusus tentang sekilas biografi Navis, maka buku 
ini secara tegas menampilkan 8 bab ulasan tentang buku sastra karya Navis dari 
berbagai genre. 
Dari 8 bab itu, 5 bab membicarakan antologi cerpen dalam lima buku berbeda, dua bab 
membahas novel, dan satu bab khusus menyoroti puisi plus karya-karya nonfiksi Navis. 
Itu menandakan Navis adalah pengarang yang produktif dan serba bisa. "Navis adalah 
seniman yang komplet dan pribadi penuh vitalitas dengan minat yang luas. Hampir semua 
bidang kesenian pernah ia cicipi" (hal.1). 
Jika melihat dari meroketnya nama Navis, ulasan yang dilakukan Ivan dalam buku ini 
dimulai dengan judul "Gerbang Panorama Cerita : RSK" tentu sangat tepat. Melalui 
RSK-lah dunia kepengarangan Navis mulai berkibar. Bahkan, RSK merupakan karya puncak 
yang membawanya ke jagat sastra Indonesia. Tidak hanya itu, banyak pejabat mengaku 
terpengaruh sikap beragamanya setelah membaca RSK. Keberhasilan mengubah pola pikir 
dan pola tindak masyarakat membuat RSK menjadi guru suci (religius). "Kesan itulah 
yang menyebabkan Gus Dur, Presiden RI ke-4, menyumbangkan satu tulisannya dalam 
biografi Navis dan membesuk ketika pengarang itu dirawat di rumah sakit" (hal.24). 
Selanjutnya, bagian lain buku ini juga menyoroti kemunafikan yang berdimensi ganda, 
kemunafikan yang disebabkan oleh kesombongan dan kemunafikan yang dilakukan untuk 
menyelamatkan diri/jabatan. Sikap mental hipokrit itu dituangkan Ivan setelah menelaah 
antologi cerpen "Hujan Panas dan Kabut Musim" dalam ulasan berjudul "Orang Kecil di 
Hadapan Kekuasaan'' (hal.49). 
Sementara itu, dimensi historis juga menjadi kajian dalam buku ini. "Ironi Kemanusiaan 
di Masa Perang" dirajut dari antologi cerpen "Kabut Negeri Si Dali" secara gamblang 
mengkritisi militerisasi zaman revolusi. "...hampir sebulan seluruh stasiun televisi 
menyiarkan para pejuang dengan segala atribut di bahu dan di dada mengisahkan 
pertempuran dalam menegakkan kemerdekaan. Seolah tidak ada orang selain dari mereka 
yang berjuang" (hal.103). 
Berikutnya, sorotan terhadap situasi kehidupan berbangsa secara sinis dari orde ke 
orde hingga zaman reformasi tak luput dari perhatian penulis buku ini. Melalui 
antologi "Bertanya Kerbau pada Pedati" Ivan secara kritis dengan nada sinis membedah 
karya-karya Navis yang tetap aktual dari segala zaman. Mulai dari bobroknya birokrasi, 
suburnya KKN, sifat feodal, dan berbagai penyakit sosial yang mendera bangsa. 
Kecuali membedah antologi cerpen, buku ini juga membedah 4 novel Navis -- "Kemarau", 
"Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi", "Gerhana" dan "Di Lintasan Mendung". Dua novel 
pertama memperlihatkan Navis adalah sosok manusia biasa yang hidup mengikuti gelombang 
pasang-surut dari pesimistis ke optimistis. Jika dalam antologi cerpennya, ia lebih 
banyak sinis dan gelisah, maka dalam dua novel ini, ia justru optimis dengan 
mengakhiri ceritanya dengan happy ending. "Ia melihat hidup lebih optimis sehingga 
kedua novel itu berakhir dengan kebahagiaan tokohnya. Bahasa sarkastis, pandangan yang 
sinis, dan cemooh yang pedas menghilang dari kedua karya ini. Navis optimis bahwa 
hidup dapat diperbaiki melewati kerja keras"' (hal.166). 
Sebelum penutup, Ivan menyajikan judul "Sebuah Puisi, Setumpuk Buku" yang mengurai 
tentang karya-karya puisi Navis plus karya-karya nonfiksinya. Dari sini, jelaslah 
bahwa Navis tidak hanya sebagai sastrawan tetapi juga sosok budayawan paripurna yang 
mengawinkan imajinasi (rasa) dan fakta (rasio) sehingga dapat melihat sisi-sisi 
manusia dan kemanusiaan secara lebih jernih dan proporsional. "Perpaduan antara 
kesadaran intelektual dan kepiawaian bercerita itu membuat karya Navis tampil memikat. 
Melalui karya itu, pembaca tidak hanya memperoleh sebuah kisah, tetapi juga pikiran, 
sikap, dan pandangan penulis menyangkut masalah kemanusiaan" (hal.220). 
Begitulah, dengan terbitnya buku ini akan memperkaya batin pembaca sekaligus menambah 
wawasan kesastraan masyarakat sastra Indonesia. Karena itu, buku ini pantas dijadikan 
referensi tidak hanya oleh guru bahasa dan sastra Indonesia, mahasiswa Fakultas 
Sastra, tetapi juga bagi masyarakat umum yang mencintai bangsanya melalui karya 
sastra. Melalui buku ini, pembaca akan menemukan dirinya dan bangsanya. 
Namun demikian, sebagai pemandu dalam menjelajahi karya-karya Navis, kehadiran buku 
ini tak luput dari kekurangan. Saking lancarnya aliran bahasa, sampai-sampai 
penulisnya lupa melakukan pergantian paragraf. Selain itu, sebagai penulis buku, Ivan 
terkesan sebagai pemborong, tanpa melibatkan orang lain untuk memberikan kata 
pengantar, misalnya ( * ) 
* i nyoman tingkat ( balipost )


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke