Baru-baru ini setelah lama bertugas, saya menyempatkan diri membaca
inbox. Kebetulan yang cukup menarik adalah postingan seputar ke-Maha-an
Allah. Saya baca juga begitu banyak tanggapan yang juga seolah-olah
menempatkan diri penanggap seolah-olah begitu agamis. Ada juga yang
seakan-akan merasa diserang dan berbalik menyerang dgn maksud utk
melindungi.

Itulah kita yang selama ini didoktrin oleh sifat kemahaan Allah. Akal
yang seharusnya dipergunakan dgn sebaik-baiknya terpaksa dikekang karena
harus menelan doktrin kemahaan Allah. Seolah-olah akal tidak mendapat
tempat dalam "mencari", "mengerti" dan "memahami" Allah.

Apakah anda ingin menutup akal anda untuk tidak bertanya? Coba renungkan
beberapa firman Allah berikut;
Terjemahan QS. 2:269,
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang
banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang
yang berakal.
Terjemahan QS. 3:7,
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur'an) kepada kamu. Di antara
(isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur'an
dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. ... . Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Terjemahan QS. 14:52,
(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia dan supaya
mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar
orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

Tidak tahukah anda, bukankah Nabi Ibrahim menemukan Sang Penciptanya
dengan akal?. Percayakah akal anda begitu saja pada sesuatu yg dikatakan
orang lain sebagai tuhan? Tentu tidak.

Melalui pelajaran berupa perumpamaan di dalam Al-Quran, akal tidak akan
berhenti mencari hal yang benar. Bila kebenaran itu telah diperolehnya,
maka akal serta merta akan tunduk. Penyimpangan perilaku ini tetap ada
ditunjukkan oleh perilaku iblis, engkar.

Allah tidak butuh "kemahaanNya" diakui oleh manusia, kecuali Allah itu
adalah makhluk. Kata "Maha" seyogyanya ditempatkan untuk MAKHLUK.

Jadi tidak benar terjemahan Allah itu MAHA pengasih, MAHA penyayang,
MAHA maklum, Maha pencipta, Maha mendengar, Maha melihat, Maha kuat
dlsb. Menjelaskan seberapa pengasih Allah sama tololnya dengan
menjelaskan seberapa manisnya gula. Sifat Allah hanya bisa dirasakan
oleh orang berakal yg ingin benar-benar merasakannya.

Bila anda ingin tahu bagaimana dan seberapa kuasa Allah untuk mencipta,
pelajari dan rasakan sendiri, mudah-mudahan Allah memberi hikmah.

Iqra' ... jan baciloteh se dipalanta mengkafirkan urang lain dan
mambuang tanago mamikiakan strategi kristenisasi.

Wassalam
YULMIZAR






____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke