Sebelum Malin Kundang meninggal dunia atau mati menjadi batu di Gunung Padang, dia telah menulis dan meninggalkan beberapa catatan mengenai fenomena yang telah terjadi di Ranah Minang kampung halamannya sendiri. Mungkinkah fenomena ini yang menyebabkan Malin Kundang durhaka kepada ibu kandungnya ? Berikut isi catatan Kumal si Malin Kundang bagian II (kedua) sbb :
II. Catatan si Malin mengenai merantau Cina Sewaktu aku akan pergi merantau, ibuku berpesan: "Malin, jangan lah kamu merantau Cina. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri awak, lebih baik juga negeri awak". Aku mengangguk mengiyakan. Tapi sewaktu orang-orang Cina sudah mulai membeli tanah pusaka kami, ibuku segera mengirim surat kilat khusus yang isinya: "Malin, merantaulah seperti Cina !. Beli tanah dimana saja. Tanah pusaka kita ternyata telah dikapling-kapling mereka !". Surat kilat khusus itu dibaca istriku, Puti Manih Talonsong (sebelum menjadi isteriku, nama kecilnya Cian Phao). Setelah surat itu dibacanya, dia tersenyum. "Jangan tanahmu, kau sendiri kan sudah ku kapling jauh sebelum itu" Maaf Datuk !, kata Malin kepada mamaknya, akau terpaksa kawin dengan Puti Manih Talonsong itu karena aku dulu jadi anak semang Baba Laweh, bapaknya (bersambung) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

