http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004082500175227
Gerakan Kembali ke Surau Romantisme Orang Minang
PADANG (Media): Gerakan Kembali ke Surau seperti yang didengungkan para pejabat, ulama, dan tokoh Minang di perantauan, beberapa tahun terakhir, hanyalah romantisme orang Minang akan kejayaan surau pada masa lampau. Gerakan tersebut tidak akan efektif karena kondisinya sudah berbeda.
Hal itu dikemukakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik dalam Paradigma Multikultural yang diselenggarakan Program Studi Sastra dan Budaya Minangkabau Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) di Padang, kemarin.
Menurut Rektor kelahiran Lubuk Alung, Pariaman, ini, surau pernah mengalami kejayaan setelah melahirkan ulama-ulama besar Minangkabau, seperti Buya HAMKA, Muhammad Natsir, AR Sutan Mansyur, Bey Arifin, dan HMD Palimo Kayo. Namun, kata Azyumardi, seiring dengan wafatnya ulama-ulama besar tersebut, terjadi kemerosotan surau secara kontinu.
"Surau sebagai lembaga yang pernah efektif dalam reproduksi ulama dan kepemimpinan masyarakat Minang tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan kebangkitan, bahkan surau kian tarandam (terendam)."
Kemerosotan surau ini, kata Azyumardi, seiring dengan penghapusan lembaga nagari pada masa Orde Baru yang menempatkan surau dalam posisi integral di dalamnya. Akibatnya, surau kehilangan basisnya dalam sistem dan kelembagaan sosial politik nagari.
Penyebab lainnya, katanya, struktur sosial masyarakat Minang yang semakin menjadi keluarga nuklir yang menempatkan ayah sebagai penanggung jawab keluarga, membuat laki-laki tidak harus lagi tidur di surau, mereka kini sudah punya tempat di rumah orang tua mereka masing-masing. Dengan menguatnya keluarga nuklir, maka tanggung jawab pendidikan agama, diambil alih keluarga, bukan oleh paguyuban adat dan lingkungan lebih luas yang disimbolisasikan surau.
Masalahnya menjadi runyam, sebutnya, jika keluarga tidak mempunyai kapasitas dalam pengetahuan agama dan tidak mendorong anaknya mengaji, atau mendatangkan guru mengaji, maka pengikisan keislaman berlanjut di kalangan generasi muda Minang.
Oleh karena kondisi sudah berbeda, Azyumardi mengusulkan, memperkuat pendidikan agama di lembaga keluarga dan pendidikan yang sudah ada. Atau bisa pula dengan membuat lembaga pendidikan modern, seperti Pesantren Modern Prof Dr Buya HAMKA di Pariaman, Sumatra Barat.
Pembicara lain, Kepala Pusat Studi Humaniora Unand, Herwandi, menyoroti tren penganugerahan gelar adat kepada tokoh-tokoh non-Minang, seperti Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati Soekarnoputri sebelum pemilu putaran pertama.
Taufik Kiemas yang mendapat gelar Datuk Basa Batuah, katanya, patut dipertanyakan, sebab ranji atau silsilah keturunannya masih kontroversial. Herwandi mencium aroma tak sedap di balik penganugerahan gelar adat untuk Taufik. "Pemberian gelar bernuansa politis, ekonomi, dan lain-lain," katanya. Ia mengharapkan tidak ada lagi rekayasa penghadiahan gelar adat, sebab akan merusak adat itu sendiri.
_________________________________________________________________
On the road to retirement? Check out MSN Life Events for advice on how to get there! http://lifeevents.msn.com/category.aspx?cid=Retirement
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

