Ronald P Putra writes:

Ctrl-F
Find Text "Islam"


Found ! :

Perlu dalil ? tinggal
copy-paste dari Al-Qur'an online.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.


Sejujurnya saya rasanya ingin menangis karena trenyuhnya hati ini. Ya akhiy, apakah bedanya hal-hal tersebut dengan program partai lain (bahkan PDS)? Apakah kalau seseorang bertekad memperjuangkan poin-poin itu cukup menjadikan dirinya 'Islami'? Rasanya bung Wady juga bisa ikutan tuh.

Belum lagi beberapa bagian yang dipaksakan. 'Demokratisasi'? Sudahlah, tidak perlu dibahas panjang lebar. Namun jika sungguh demokrasi bertentangan dengan Islam, semoga Allah menghancurkan usaha tersebut dan memberi petunjuk kepada para 'pejuangnya'.

Akan ditempatkan di mana aqidah Islam? Manakah poin Laa ma'buda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, substansi dari Laa ilaaha illallah)?

Rasanya kok kalau pun disertakan dalil tak lebih untuk menjustifikasi kepentingan kekuasaan. Mengapa? Karena sebagian diambil dan sebagian ditutupi dengan berbagai cara (istihsan yang paling laku biasanya). Seperti halnya bekerja sama dengan ahli bid'ah dijustifikasi dengan perintah bekerja sama dalam kebaikan padahal ada ayat yang memerintahkan untuk meninggalkan mereka. Bahkan para salaf mencontohkan memusuhi mereka dengan jelas. Namun ketika ada yang tidak setuju dengan hizb-nya langsung 'diserang' padahal ahli bid'ah menyerang agama mereka. Mungkin itulah hizbiyyah.

Apakah benar bahwa yang penting hanya 'substansi'? Bagaimana dengan substansi iman? Bukankah Abi Thalib merupakan orang yang dikenal baik di masyarakatnya? Bahkan ia turut melindungi Rasulullah dalam dakwahnya? Namun mengapakah ia tetap masuk neraka?

Mungkin perlu saya ceritakan sedikit pengalaman saya siang ini saat kami shalat Jum'at di masjid kampus. Khatib memulai khutbahnya dengan mengajak kita untuk bersyukur. Betapa Indonesia ini memperoleh banyak nikmat namun kita sangat kurang bersyukur.

Ia juga menjelaskan betapa pentingnya aqidah sebagai fondasi. Betapa penting kita menempatkan diri pada tempatnya bagaikan bangunan ada yang menjadi fondasi atau genteng.

Tiba-tiba khutbah beralih ke masalah politik. Seakan ia menyalahkan mayoritas rakyat Indonesia yang tidak memilih partai Islam (si khatib adalah aktivis PKS). Ia mengatakan umat Islam di Indonesia sebagai lidi yang tidak menyatu sehingga tak dapat digunakan untuk menyapu sampah.

Pertanyaan besarnya adalah? Apakah sidang Jum'at yang dihadapinya telah kokoh aqidahnya? Apakah jika ditanyakan pertanyaan dasar 'di manakah Allah?' mereka dapat menjawab dengan benar? Padahal dulu budak saja bisa menjawabnya. Mengapakah genteng mau dipasang saat fondasi belum kokoh? Entah rumah apa yang ingin dibangunnya.

Si khatib juga mengatakan bahwa ia pernah mengkritik kebijakan pemerintah dalam masalah pertanian. Ia juga mengatakan bahwa harusnya ilmuwan bersikap jika pertanian tidak menjadi platform ekonomi maka harusnya ia menolak menjadi menteri.

Sungguh sedih hati ini, bukankah Rasulullah menjelaskan kepada kita bahwa menasihati penguasa haruslah secara empat mata? Bukankah Rasulullah memerintah mendengar dan taat kepada penguasa kecuali dalam bermaksiat kepada Allah?

Mengapakah ia bersikeras pada 'platform ekonomi' sedangkan kata-kata aqidah Islam tidak menjadi hal yang penting? Mengapakah tidak ia katakan bahwa jika pemerintah tidak memberantas bid'ah dan khurafat maka saya tidak mau jadi menteri? Rasulullah dulu memperjuangkan aqidah Islam atau 'platform ekonomi' dulu?

Maafkan jika saya terlalu bodoh memahami. Rasanya kok kalau tidak milih partai dia (atau tidak taqlid pada 'ijtihad' partainya) seakan tidak berkontribusi kepada umat. Bahkan ada yang menyebut ulama ahlus sunnah yang jelas-jelas menyatakan bertentangannya demokrasi dengan Islam dengan ungkapan 'tidak mengerti realita' atau 'ulama yang tidak menyeluruh' atau bahkan dikatakan 'ulama haidh dan nifas'. Bahkan ada yang diserang hingga terbunuh (contoh Syaikh Jamilurrahman di Afghanistan).

Mohon maaf jika ada kesalahan. Mohon maaf juga saya menulis ini dengan agak emosi karena seperti saya katakan di awal, rasanya trenyuh hati ini. Segala kebaikan hanyalah dari Allah sedangkan kesalahan datang dari diri saya.

Semoga Allah memberikan petunjuk dan kebaikan kepada pemimpin serta segenap umat Islam di negeri ini.

Billahit taufiq. Allahu a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)


"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an-Nisaa' 4:115)

"dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (QS. al-Maa-idah 5:49)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke