============================================

Terletak di antara dua lautan besar dan dua benua. 
Terdiri atas ribuan pulau yang mengambang di Khatulistiwa. 
Diberkahi sumberdaya alam tropis yang melimpah. 
Berpenduduk hampir seperlima milyar, dari beragam suku dan budaya.... 


Loekman Soetrisno, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, membuat 
bulu kuduk saya berdiri. Menyoroti korupsi, kolusi dan nepotisme yang 
kian merambah kemana-mana, dia khawatir Indonesia akan 
menjadi ''Vampire State'' alias Negeri Drakula. 

''Korupsi sudah merambah sampai ke desa-desa,'' katanya dalam sebuah 
diskusi. Begitu parah korupsi di negeri ini, kata dia, sedemikian 
parah sehingga dana bantuan bencana alam pun ikut dikorup. ''Para 
aparat negara menyedot habis-habisan kekayaan negara sementara rakyat 
menonton dengan apatis.'' (Jawa Pos, 5 Januari 1996). 

''Vampire States'' adalah salah satu istilah yang dipakai Majalah 
Newsweek edisi akhir tahun lalu ketika menurunkan laporan 
tentang ''Korupsi ala 1996'' (Republika, 24 Desember 1995). 

Di Republik Drakula, para warganya tak lagi sadar apakah dia drakula 
atau bukan. Berbeda dengan drakula tradisional, mereka beroperasi di 
siang bolong, tanpa malu menyeringaikan taringnya di tempat-tempat 
terang, di layar televisi maupun di halaman muka koran-koran. Mereka 
tak takut salib, mantera maupun doa; mereka bahkan termasuk yang 
setia memenuhi masjid, mengunjungi gereja dan berdoa di pura. 

Drakula tidak hanya jahat karena mencucup darah korbannya. Dia juga 
menularkan penyakitnya. Drakula yang besar menjadi predator bagi 
drakula yang lebih kecil. Dan yang lebih kecil menularkan penyakitnya 
pada yang gurem, dan seterusnya dalam lindungan ''hukum rimba'' yang 
sempurna. 

Korupsi, kata Loekman, sulit diberantas karena ''makin tipisnya 
jumlah penguasa Indonesia yang tidak pernah melakukan korupsi''. Di 
Republik Drakula, konsep pengawasan melekat tak berjalan karena para 
atasan cukup korup sehingga mustahil mencegah korupsi para bawahan. 
Para bawahan takut mengritik atasan yang korup karena mereka sendiri 
menikmati sistem korup yang diciptakan. 

Di Republik Drakula, para penguasa melahap suap atau mengutip komisi 
dari lisensi monopolistik kalangan bisnisman. Mereka bahkan dengan 
satu atau dua cara memaksakan kolusi dan nepotisme lewat penguasaan 
saham perusahaan. Para pengusaha, pada gilirannya, tak mungkin 
memprotes. Bukan karena tak mau, mereka menikmatinya: lebih mudah 
buat mereka menghisap ''darah'' konsumen yang tanpa daya ditinggalkan 
penguasa negeri yang sudah terlebih dulu mabuk darah. 

Kelompok Studi Ekonomi Pusat Antar Universitas (PAU) UGM, Yogyakarta, 
belum lama ini membeberkan hasil penelitiannya: Harga 33 komoditas 
strategis di Indonesia -- seperti kertas, semen, terigu, minyak 
goreng, dan tekstil rata-rata lebih mahal sekitar 22% dari harga di 
pasaran internasional. Dengan kata lain: untuk memperoleh 33 jenis 
komoditas yang dibutuhkan sehari-hari tadi, masyarakat harus 
mensubsidi para pengusaha swasta sebesar lebih dari Rp 20 trilyun 
setahun! Dengan cara itu pula, rakyat menyumbangkan darahnya untuk 
kaum birokrat. 

Proses pendrakulaan tak berhenti di kalangan 
pejabat. ''Drakulanisasi'' menjalar ke profesi-profesi yang selama 
ini dipandang sebagai pilar-pilar moral: hakim, pengacara, ulama, 
pendeta, intelektual dan wartawan. Bahkan rakyat pun -- para korban --
menjadi drakula-drakula baru yang haus akan korban-korban 
berikutnya. 

''Rakyat tak hanya menonton. Mereka menunggu kesempatan untuk juga 
merampok kekayaan negara,'' kata Loekman. Penyakit ''haus darah'' 
kini menyebar secepat epidemi virus AIDS. Seantero negeri tercemar. 
Di Republik Drakula, korupsi menyebar tanpa kendali karena setiap 
warga berpikir bisa menemukan peluang lebih bagus dengan membiarkan 
tindakan laknat itu berlangsung. Secara historis, gejala seperti ini 
muncul di bawah sistem tirani, dimana rakyat hanya memiliki 
kemungkinan kecil untuk melindungi hak-haknya. Sedemikian kecil 
sehingga membuat mereka tak peduli dan berpikir bahwa cara terbaik 
yang bisa mereka lakukan hanyalah dengan bergabung dalam perilaku 
korup. 

''Pemerintah yang tak bermoral ditandingi oleh rakyat yang rusak 
moralnya,'' kata seorang pendeta dalam El Filibusterismo 
(Merajalelanya Keserakahan) karya Jose Rizal. ''Tata pemerintahan 
yang tanpa hati nurani akan dibarengi oleh warganya yang serakah di 
kota-kota, oleh gerombolan perampok di pegunungan,'' tambah 
Rizal. ''Hamba sahaya itu pencerminan tuannya. Warga negara 
mencerminkan pemerintahnya.'' 

Welcome to the Republic of Vampire! 
Loekman Soetrisno membuat bulu kuduk saya menari-nari. Tak hanya itu. 
Setiap bangun tidur, kini saya terbiasa meraba pipi sendiri, istri 
saya dan anak-anak saya. Adakah taring-taring yang mulai menonjol... 
( Oleh Farid Gaban/RioL)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke