Panti Asuhan Al-Barkah Koto Tangah (1) * Buah Impian Janda Tua Oleh redaksi http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=386& PHPSESSID=c645a9ff5316007b47cdfca2cdd8a249 Kamis, 09-September-2004, 06:50:45 20 klik
Di tengah perobahan zaman yang ditandai dengan pola pikir rasional dan lebih mengandalkan pikiran ketimbang perasaan, serta kesibukan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sendiri yang lebih individual, ternyata masih ada orang yang menaruh rasa iba dan peduli terhadap nasib orang-orang terlantar. Amfreizer-Padang Adalah sosok Hj Bainal Hamzah, nenek tua yang berusia 71 tahun, yang kini menjalani kehidupannya penuh dengan kesederhanaan, memiliki hati yang mulia. Ia selalu bergetar dan sedih melihat orang-orang dalam keadaan terlantar. Janda tua yang hidup pas-pasan dan tinggal di pinggir Kota Padang, tepatnya di Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah, akhirnya tergerak dengan ikhlas berbagi rezeki dengan anak-anak terlantar. Padahal dalam kesehariannya, ia tidak memiliki pekerjaan tetap sejak ditinggal suami. Semula, Bainal hanya suka berbgai rezeki dengan anak-anak yatim yang tinggal di panti asuhan di sekitar kampung halamannya, di Koto Tangah. Namun, semakin hari kepedulian yang berpadu dengan rasa iba dan kasihan memunculkan niat dan impiannya untuk memiliki panti asuhan yang bisa dikelola sendiri. Niat tersebut baru bisa terlaksana setelah Bainal pulang dari tanah suci. "Waktu saya naik haji, terbersit dalam hati saya untuk menyampaikan hajat kepada Yang Maha Kuasa, memiliki panti asuhan sendiri," tutur Bainal mulai menceritakan sejarah berdirinya Panti Asuhan Al-Barkah di Balai Gadang Lubuk Minturun Kecamatan KotoTangah. "Alhamdulillah, do'a tersebut dikabulkan, sehingga saya sudah memiliki sebuah panti asuhan untuk mengumpulkan anak-anak yatim yang terlantar," ujarnya. Panti asuhan miliknya itu sudah ada sejak tahun 1980, namun anak-anak ditempatkan di rumah keluarga suaminya, sekitar 200 meter dari lokasi Panti Al-Barkah, sekarang. Setelah suaminya meninggal, rumah yang ditempati anak-anak panti tersebut "diambil" oleh pihak keluarga masing-masing. "Mau tidak mau, sebanyak 22 orang anak panti harus mengungsi dari rumah tersebut. Satu-satunya tempat bagi anak-anak untuk berteduh, ya, di rumah saya ini," ujarnya sambil menunjuk ke rumah milik Bainal yang berada di depan bangunan Panti Al- Barkah. Pada malam hari, pada awalnya anak laki-laki terpaksa tidur di teras rumah. "Untuk menghindari mereka dari terpaan angin, saya tutupi teras dengan terpal plastik agar mereka tidak kedinginan. Sementara yang perempuan tidur di dalam rumah. Kondisi ini sangat terpaksa, karena keadaan rumah yang memang kecil dan tidak bisa memuat seluruh anak-anak. Selama anak-anak tidur di teras, selama itu pula saya tidak bisa tidur dan makan. Meskipun anak-anak kandung saya selalu mengirim makan dan meminta saya untuk menjaga kesehatan. Bagaimana saya bisa makan dan tidur bila anak-anak yang saya asuh dalam kondisi tersiksa demikian. Batin saya sedang sakit sehingga tidak merasa lapar dan ngantuk," ungkap Bainal. Untungnya, berselang waktu seorang pemuda Koto Tangah juga menaruh perhatian dan bersedia membantu membangun bangunan untuk panti di belakang rumah Bainal. "Dalam waktu 40 hari bangunan itu sudah siap. Bangunan ini di dirikan tahun 2000 yang lalu. Anak-anak pun sudah menempatinya meskipun bangunan belum tuntas seluruhnya," ujarnya. (bersambung) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

