MENYOAL KBK

Oleh:
Drs. Fekrynur, M.Ed.*

Mutu pendidikan menjadi keluhan berbagai pihak. Sementara prestasi belajar
individual anak didik kita, ternyata, tidak jelek-jelek amat. Ini terbukti
dengan munculnya anak Indonesia menjadi juara berbagai lomba mata pelajaran
tingkat Asia, bahkan tingkat dunia.
Kenyataan ini bisa berarti akar rumput dari sumberdaya manusia Indonesia
tetap potensial, tidak mati oleh gersangnya panas. Lemahnya penanganan
pendidikan kita secara nasional seperti dianggap banyak pihak, telah membuat
Indonesia jauh terpuruk di bawah negara lain, walaupun tidak semua orang
setuju dengan hipotesa ini. Terlepas dari setuju atau tidak kita dengan
hipotesa itu; logikanya, bila diadakan pembenahan institusi dan proses
belajar mengajar (PBM) di semua sekolah, maka mutu pendidikan di SD sampai
dengan SLTA akan bisa lebih membaik.

Pembenahan institusi dan manajemen persekolahan melalui program peningkatan
mutu berbasis sekolah (PMBS), di mana kepala sekolah dan komite pendidikan
bersama-sama membuat rencana sekolah, dan dikucuri dana bantuan block grant
yang pantas, telah dirintis semenjak tahun 1998/1999, walaupun di tahun
1999/2000 anggaran untuk pendidikan (secara nasional) turun dari 8% menjadi
hanya 6,7% saja dari APBN. Bantuan langsung ke sekolah itu digunakan untuk
mendanai kegiatan yang akan memacu mutu.

Untuk tingkat propinsi,-ambil contoh propinsi Sumatera Barat, tahun 2004 ini
saja--mempunyai berbagai kegiatan keproyekan yang dirancang khusus untuk
memacu mutu melalui PMBS yang disebut sebagai: Basic Education Project (BEP)
Rp 1,61 miliar, Proyek Peningkatan Mutu SMP Rp17,52m , SMA Rp16,12m dan SMK
Rp 9,4m, dan berbagai bahagian proyek lain yang mendukungnya, seperti PADU
(Pendidikan Anak Dini Usia, dengan dana Rp 1,16 m),  berbagai program
beasiswa, kepemudaan dan olahraga.
Di atas kertas, grand design , rencana program induk usaha peningkatan mutu
itu sudah memadai bila dilihat dari besarnya dana anggaran yang disediakan
untuk ketiga proyek induk mutu itu.

Akan tetapi dalam implementasinya di tingkat propinsi, ambil contoh
pelaksanaan berbagai lomba guru dan siswa berprestasi, belum memperlihatkan
ko-ordinasi** yang baik. Belum ada penjadualan kegiatan tahunan, yang
tersosialisasi dan terprogram secara rapi.

Kegiatan, perlombaan siswa untuk memacu mutu, yang semestinya diikuti oleh
semua sekolah secara bertingkat mulai dari kecamatan sampai ke propinsi dan
nasional, karena kurang ko-ordinasi dengan kabupaten dan kota, belum
diketahui oleh semua sekolah di seluruh kecamatan. Makanya, kegiatan itu
terkesan terburu-buru. Idealnya, masing-masing kabupaten dan kota mengadakan
lomba atau seleksi serupa terlebih dahulu, di tingkat II, untuk mendapatkan
utusannya ke tingkat propinsi. Dengan begitu yang menjadi juara dipastikan
yang terbaik dari kabupaten-kotanya.
Kini, pemenang lomba belum tentu dari anak binaan  yang paling pintar,
produk PBM di sekolah secara riil. Bisa saja, mereka dari anak binaan les
privat, yang kebetulan berasal dari sekolah tertentu, di perkotaan.

**Hal ini menjadi salah satu pekerjaan rumah kepala dinas untuk masa yang
akan datang. Bagaiman kita mendayagunakan anggaran yang ada di propinsi dan
kabupaten kota untuk sebesar-besar usaha peningkatan mutu PBM di
kelas-kelas. Dinas Pendidikan Propinsi, walaupun secara structural, tidak
lagi membawahi langsung persekolahan, namun seluruh kepala dinas terkait
semestinya berkoordinasi, duduk bersama membuat agenda program berbagai
kegiatan tingkat kabupaten-kota dan propinsi sebagai tindak lanjut dari
usaha peningkatan mutu  PBM yang dilaksanakan di kelas oleh semua sekolah.
Bukankah dana untuk itu ada dan cukup besar?

Pembenahan Mutu Pendidikan melalui KBK

Usaha pembenahan mutu pendidikan yang lain yaitu dengan perbaikan proses
belajar mengajar bagi semua mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah.
Semenjak tahun 1980-an telah silih berganti dikembangkan berbagai metoda.
Ada yang disebut sebagai: program cara belajar siswa aktif (CBSA), kemudian
system pemantapan kerja guru (PKG) mulai tahun 1985, pendekatan
kebermaknaan, contextual learning, semua itu belum terbukti mampu mengangkat
mutu pendidikan (?). Lalu sekarang yang sedang gencar diuji-cobakan melalui
kurikulum 2004 adalah pendekatan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Akankah KBK mengalami nasib yang sama?
Kiranya, polemik tidak perlu ada tentang berhasil tidaknya pendekatan
terdahulu.

Suatu kenyataan dari dahulu sampai sekarang adalah; bahwa kita belum
berhasil menciptakan masarakat yang gemar (membaca) belajar. Apakah tidak
sebaiknya dana yang masih ada diusahakan untuk membuat program yang riil
untuk membuat siswa kita pandai (gemar) membaca dan menulis sambil kita
memasarakatkan KBK itu?
Saya berkeyakinan, tidak ada satu pendekatanpun, termasuk KBK, akan bisa
membuat siswa jadi pintar kalau tidak disejalankan dengan usaha meningkatkan
keterampilan membaca dan menulis peserta didik. Bukankah sudah sejak lama
dikatakan bahwa; membaca adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan.
Kita seolah-olah tidak percaya dengan slogan ini, sehingga membaca hanya
diajarkan sampai siswa bisa membunyikan huruf saja di kelas satu dan dua SD.
Walaupun menulis diajarkan sedikit lebih lama sampai SMA, tetapi itupun
terkesan hanya basa-basi sekedar untuk memberikan waktu untuk guru istirahat
dari menerangkan tatabahasa.

Saya hanya menyoal KBK, tidak bertujuan menghalangi. KBK yang telah
diprogramkan secara nasional, dengan menatar beberapa birokrat dan guru
tentang ke-KBK-an tentu telah melalui pertimbangan matang para ahli.
Harapan kita semua adalah; KBK cepat tersosialisasi dengan baik di kalangan
para guru, dimengerti, terimplementasi dan mampu meningkatkan mutu
pendidikan persekolahan di negeri kita.  Selamat berKBK.

Padang, 8 September 2004

 _______________________
*Penulis adalah mantan guru, sekarang staf Dinas Pendidikan Propinsi
Sumatera Barat.
 Tanggapan Anda terhadap tulisan ini bisa disampaikan lewat
<[EMAIL PROTECTED]>
http://www.geocities.com/pakguruonline/menyoal_kbk.html




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke