*Menguak Kisah Bangunan Bersejarah di Payakumbuh Air Mata Wanita Tumpah di Jembatan Ratapan I
Rabu, 15-September-2004, 04:36:45 96 klik http://padangekspres.com/ Jembatan Ratapan Ibu yang membentang di atas sungai Batang Agam, tepatnya di Jalan Ahmad Yani dianggap sebagai jembatan bersejarah oleh warga Kota Payakumbuh. Jembatan yang dibangun Kolonial Belanda sekitar tahun 1840 ini, awalnya menjadi lalu lintas kendaraan militer Belanda. Namun, ketika Perang Paderi meletus, jembatan ini berhasil dikuasai rakyat, dan hingga kini memiliki arti penting sebagai lalu lintas ekonomi warga. Pada tahun 1832, setelah Belanda menduduki Kota Payakumbuh, Belanda pun memperluas kekuasaannya ke arah selatan, tepatnya di sekitar dataran gunung Sago yang terkenal sebagai daerah pertanian subur. Dengan sistem kerja paksa, pemerintah Belanda membuka kebun kopi dan casiavera di kaki gunung Sago. Informasi yang berhasil dikumpulkan dari berbagai sumber, di penghujung tahun 1839, perkebunan kopi dan casiavera yang dipusatkan di kaki gunung Sago, sampai ke tingkat booming (puncak keberhasilan). Sehingga dibutuhkan sarana jalan dan jembatan yang memadai untuk mengangkut hasilnya ke pusat kota, untuk seterusnya dipasarkan ke Padang. Maka pada tahun 1840 Belanda membangun jembatan di atas sungai Batang Agam, yang kemudian dikenal dengan Jembatan Ratapan Ibu. Dalam catatan sejarah, pembangunan jembatan yang dilakukan dengan sistem kerja paksa tersebut, menelan banyak korban jiwa dari pihak rakyat, selama proses pengerjaannya. Setahun kemudian, antara tahun 1948-1949, darah kembali mengalir di jembatan tersebut, dan korban jiwa pun berguguran. Peristiwa bersejarah yang menyisakan duka tersebut berawal, ketika tanggal 23 Desember 1948, Belanda sudah menduduki Kota Payakumbuh. Sehari sebelumnya, pihak republik telah membumi hanguskan bangunan-bangunan vital, seperti, Markas Singa Harau, Kantor Tuan Luak, Bank Gonjong Limo, Pabrik Senjata Kubu Gadang, dan instalasi penting lainnya. Tindakan kaum republik, dibalas Belanda dengan pengumuman lewat selebaran dan pengeras suara, bahwa tentara Kerajaan Belanda sudah datang, rakyat diminta tenang. Siapa yang mencoba melakukan perlawanan, melarikan diri, dan membuat kekacauan, akan ditembak. Jam malam diberlakukan mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB pagi. Sejak pengumuman disebarluaskan, intelijen Belanda yang dikenal dengan Inlechting Dienst (ID) menyebar ke seluruh pelosok Luak Limopuluah Koto untuk mengintai jejak perjuangan yang tetap setia untuk menegakkan Republik Indonesia. Berkat kesigapan ID pula para gerilyawan dan markasnya ditangkap, kemudian para pejuang dikumpulkan di atas pagar jembatan itu, pejuang dibariskan menghadap ke timur. Peluru tajam pun menghujam punggung mereka. Setelah dilakukan serah terima dengan Republik Indonesia tanggal 2 Desember 1949, dan Belanda meninggalkan Kota Payakumbuh, masyarakat yang sebelumnya lari ke luar kota, akhirnya kembali. Mereka mencari sanak keluarganya yang hilang setelah ditangkap Belanda. Begitu mendapatkan informasi bahwa sanak keluarga mereka telah menjadi korban kekejaman Belanda di jembatan Batang Agam, para keluarga yang merasa kehilangan mendatangi jembatan itu dan menangis menumpahkan duka. Di jembatan Batang Agam pula puluhan ibu kehilangan putera tercinta, di sana isteri kehilangan suami mereka, tidak sedikit pula gadis-gadis yang kehilangan taruna tambatan hati yang terlanjur berikrar janji untuk sehidup semati. Saking banyaknya air mata para ibu-ibu yang tertumpah di Batang Agam, akhirnya masyarakat menamakan jembatan itu sebagai Jembatan Ratapan Ibu. * Tugu Labuah Basilang Tempat Berpisah Kamis, 16-September-2004, 05:41:45 105 klik Jika datang ke Payakumbuh, setelah melewati Jembatan Ratapan Ibu arah ke Labuah Basilang, akan ditemukan sebuah tugu yang kondisinya terbengkalai. Padahal tugu di perempatan Labuah Basilang tersebut, bukanlah sembarang tugu, karena keberadaan tugu tersebut dibangun untuk mengenang perpisahan Tentara Indonesia, pasca dideklarasikannya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Ampalu, Halaban. Sri Mulyati - Payakumbuh Di Bukittinggi tanggal 19 Desember 1948, dilaksanakan rapat di kediaman Mr T M Hasan, yang dihadiri Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mr M Rasjid dan sejumlah pejabat negara yang kebetulan sedang berada di Bukittinggi. Materi pembicaraan dalam rapat tersebut menyangkut usaha yang bisa dilakukan dalam rangka penyelamatan Republik Indonesia. Mr Sjafruddin mengusulkan pembentukan Pemerintahan Darurat. Pada saat yang sama, Belanda sudah datang dari Padang, bahkan dari Padangpanjang Belanda sudah menuju Bukittinggi. Sehingga pada malam tanggal 19 Desember tersebut, Mr Sjafruddin beserta rombongan mengungsi ke Halaban, sebuah kampung kecil di kaki Gunung Sago. Keesokan harinya, Residen Sumatera Tengah, Mr M Rasjid bersama rombongan menyusul ke Halaban. Pada tanggal 22 Desember 1948, pukul 03.40 WIB (dinihari), dideklarasikanlah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Ampalu, Halaban. PDRI diketuai Mr Sjafruddin Prawiranegara. Berdasarkan catatan sejarah, keesokan harinya, para pejuang dan pejabat negara itu meninggalkan Ampalu Halaban, untuk seterusnya menjalankan PDRI sebagai pemerintahan darurat, yang berpusat di Koto Tinggi. Di Labuah Basilang, rombongan berpisah, sebahagian melanjutkan perjalanan ke Riau, sebahagian lagi ke Situjuh, dan selebihnya melanjutkan perjalanan menuju Koto Tinggi. Sehingga perempatan Labuah Basilang benar-benar memiliki arti sejarah, yang patut dikenang. Kelak di kemudian hari, beberapa dasawarsa setelah peristiwa perpisahan itu terjadi, mucul ide dari para pejuang yang tersisa untuk mendirikan sebuah tugu di perempatan Labuah Basilang, yang dinamakan Tugu Perjuangan. Sekitar empat tahun lalu, tepatnya ketika pemeritahan Wali Kota Darlis Ilyas SH, pembangunan tapak tugu tersebut dilaksanakan. Namun dalam perjalanan, pembangunannya terhenti hingga sekarang. Konon penghentian pembangunan tugu bersejarah itu, lantaran ketidak tersediaan dana. Apapun alasan yang melatar belakangi penghentian pembangunan Tugu Perjuangan tersebut, telah menimbulkan kontra versi di tengah masyarakat. Tokoh tua Luak Limopuluah, yang juga seorang pelaku sejarah, Kapten (Purn) H Djunahar, mengharapkan agar Pemko Payakumbuh tetap melaksanakan pembangunan tugu tersebut, karena penting untuk mengenang keikutsertaan Payakumbuh dalam kancah sejarah menegakkan NKRI. "Sebagai tokoh tua yang masih tersisa, saya hanya berharap agar Pemko mengupayakan penyediaan dana untuk melanjutkan pembangunan Tugu Perjuangan di Labuah Basilang,"harap Djunahar, di kediamannya, kemarin. (tamat) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

