Tulisan Sanak IJP di Kompas hari ini.
-------------------------------------

Usai Politik, Giliran Nasi

Oleh Indra J Piliang
KCM - Opini - 21 September 2004

PEMILIHAN presiden dan wakil presiden putaran kedua, tanggal 20 September
2004 lalu, berakhir mudah. Sudah kian sedikit waktu yang bisa diberikan oleh
bangsa ini untuk (aktivitas) politik. Mesin politik mestinya kian
hari kian menghentikan aktivitasnya. Saatnya sekarang bekerja untuk
membangun kehidupan yang lebih baik.

Tuntutan terdepan tentulah nasi, bukan reformasi, atau nasionalisme.
Masyarakat butuh makan, dengan
kepercayaan diri penuh untuk memenuhi standar minimal konsumsi kalorinya.

Baru saja kita saksikan tragedi bom meluluh-lantakkan normalisasi kehidupan
publik yang mulai berjalan,
tanggal 9 September 2004 lalu. Bom itu menjadi pesan terakhir, betapa banyak
faktor di luar rekayasa
politik manusia-manusia politik yang bisa membajak seketika arah pergulatan
bangsa. Bom itu menanamkan
dengan sangat dalam ketakutan, dendam kesumat, juga desah kepasrahan dari
korban-korban yang sebetulnya
tak berdosa, tetapi dipaksa untuk mengucapkan sumpah serapah. Manusia sesuci
apa pun akan memiliki dan
memendam rasa marah akibat perlakuan yang tidak layak atas manusia dan
kemanusiaan. Ketika bom itu
diberangkatkan, sebetulnya tak ada jalan pulang untuk memulihkan lagi citra
humanisme yang terkoyak.

Lantas, apakah hasil pemilu 20 September 2004 kemarin akan berdampak juga
kepada kehancuran cita-cita
kemanusiaan yang tertuang dalam pahatan-pahatan sejarah pengorbanan ketika
bangsa ini masih berupa
cita-cita? Akankah ia berubah menjadi bom politik, ketika yang terpilih
bukanlah seorang presiden yang
diikat oleh sumpah jabatan dan aturan kontitusi, melainkan tumbuh menjadi
penguasa dan raja-diraja alam
raya? Pertanyaan itu akan terus dihunjamkan kepada presiden terpilih
nantinya, berikut kabinetnya selama
lima tahun pemerintahannya kelak.

PERTARUHAN sesungguhnya sebetulnya bukan terjadi pada masa kampanye, atau
ketika kotak suara dibuka,
dihitung, lantas ditentukan pemenangnya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Apa yang dinamakan sistem
politik baru bisa diukur tingkat kinerjanya ketika orang-orang yang terpilih
lewat pemilu legislatif dan
eksekutif dilantik, lantas menduduki kursi empuk mereka di gedung-gedung
yang sejuk dan nyaman. Ketika
sistem itu bekerja, harapan utama yang bisa dihasilkan sebagai output adalah
seberapa banyak roti atau nasi
bisa diproduksi, lantas bisa memberi makan rakyat banyak. Bahasa kerennya,
bagaimana ekonomi kerakyatan
berkembang pesat, menopang pilar-pilar harapan yang hendak roboh di haribaan
rakyat jelata.

Kebutuhan akan butiran-butiran nasi itulah yang kini terpampang di depan
mata, ketika jutaan mulut lapar
menganga untuk mendapatkan hak untuk tidak kelaparan di negeri merdeka ini.
Sesuap atau dua suap nasi yang
tersedia setiap hari jauh lebih penting, ketimbang menjejali publik dengan
slogan-slogan ideologi atau
pseudo ideologi seperti pembangunan, pemerataan atau keadilan.

Sudah kodrat alamiahnya, ketika kekuasaan makin terkonsolidasi di republik
ini, rakyat hanya jadi
pajangan. Kodrat itu harus diubah oleh pemerintahan mendatang, dengan cara
menelurkan kebijakan-kebijakan
otentik yang bersumber dari kehendak hakiki publik itu sendiri, yakni
keberlangsungan aliran darah di nadi
dan tiupan napas di hidung.

Hampir setiap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden telah
mengeluarkan pidato terbaiknya bahwa
mulai detik mereka memerintah, tidak akan ada lagi tangisan dari anak-anak
negeri yang selama ini
diabaikan oleh pemerintahnya sendiri. Baik atas nama perubahan atau
percepatan, komitmen itu meluncur dalam
setiap kalimat paparan visi, misi, dan program pasangan calon presiden-wakil
presiden. Tidak boleh
ada lagi anak-anak sekolah berkaki telanjang maju menghadapi ujian kenaikan
kelas, tanpa terlebih dahulu
sarapan pagi. Upaya menyingsingkan lengan baju untuk mengabdikan diri
terhadap kepentingan publik inilah
yang menjadi letak dari titik perubahan yang sebenarnya, bukan retorika
untuk perubahan atas nama
apa pun.

Potret demokrasi hari ini memperlihatkan betapa belum sejalannya antara
tingkat kesejahteraan dan "kenaikan"
indeks demokrasi di Indonesia. Atas nama demokrasi, kita masih menyaksikan
adanya intimidasi atas
pihak-pihak yang kalah yang notabene adalah rakyat di sebuah wilayah. Selama
Orde Baru, kita saksikan berapa
banyak desa-desa miskin yang terus dibiarkan miskin, hanya karena tidak
menghasilkan kemenangan bagi partai
pemerintah dan propemerintah. Kemiskinan akhirnya memelorotkan bangsa ini
menjadi ketinggalan di
berbagai bidang, ditambah kebodohan kolektif, atau minimal tersebarnya
kantong-kantong daerah yang
infrastruktur pembangunannya sangat minim.

Parade demokrasi selama kampanye ini juga memperlihatkan gejala serupa.
Sebuah jembatan yang
dibangun oleh sekelompok donatur dari kalangan politisi tertentu kemudian
dirubuhkan kembali, hanya
karena partai politik tersebut kalah di daerah pemilihan itu. Bayangkan
apabila rakyat melakukan
tindak serupa, melakukan pembangkangan politik ketika rezim yang dulu
berbusa-busa berjanji kepada rakyat
kenyataannya mengkhianati janji-janji itu. Tapi memang rakyat selalu ada
dalam tingkat kesabaran tertinggi,
yakni tak hendak melakukan kegiatan-kegiatan yang sebetulnya haknya, karena
hanya akan menambah panjang
aktivitas politik, ketika mestinya aktivitas itu berhenti mempersolek
dirinya sendiri.

PENTINGNYA komitmen untuk meningkatkan standar hidup minimum masyarakat juga
taruhan atas kepercayaan publik pada demokrasi. Demokrasi bisa runtuh,
ketika tidak bisa memberikan jaminan penyelesaian atas perkara-perkara besar
bangsa ini, mulai dari terorisme sampai hilangnya social capital dan kohesi
sosial.
Kerinduan untuk hadirnya kembali kolonisasi dan otoritarianisasi yang mampu
memberikan jaminan
kebutuhan hidup minimal akan mulai berkecambah di tengah masyarakat, ketika
sistem demokrasi hanya
menyebabkan munculnya kelas elite (lama dan baru) yang menari di atas
penderitaan rakyat.

Dalam sejarahnya, masyarakat Indonesia jarang hidup dalam suasana kebebasan
berpendapat. Sebagian besar
pernah ditindas oleh sistem kerajaan besar dan kecil, pendudukan kekuatan
kolonial, sampai rezim politik
otoriter. Ketika musim demokrasi tiba, namun beban hidup mengimpit,
masyarakat sempat kehilangan arah dan
pegangan. Makanya, kita banyak saksikan beragam bentuk anomali dalam
transisi demokrasi sekarang, ketika
tribalisme menguat, juga kalangan elite secara intensif mendekati
simbol-simbol tradisi dengan cara
menyematkan berbagai gelar kebangsawanan dan gelar adat di bahu mereka.

Kita tentu berharap akan lahirnya masyarakat sehat dengan pemerintahan
sehat, dan negara sehat. Berbagai
penyakit sebagai negara yang mengalami transisi sebetulnya bisa diobati,
ketika penyelenggara negara
mengutamakan sisi pelayanan. Inisiatif pertama dan utama tetap berada di
tangan penyelenggara negara,
karena secara mampu hidup secara normal, lewat fasilitas yang didapatkan,
sekalipun dengan cara
berhutang atau menggadaikan aset negara.

Warga negara mestinya mendapatkan insentif besar, dengan cara dilayani oleh
pemerintahan hasil pemilu.
Bukan sebaliknya, warga negara menjadi pelayan kepentingan penyelenggara
negara, sebagaimana terlihat
selama ini.

Indra J Piliang Peneliti Departemen Politik dan
Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/21/opini/1278509.htm



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke