Konvensi Dunia Melayu Dunia Islam 5 Oleh Shofwan Karim Oleh Redaksi Padang Ekspres Senin, 11-Oktober-2004, 15:56:50 10 klik
Hasil Lokarkarya dilaporkan di dalam rapat pleno terakhir Konvensi DMDI, pada pagi hingga tiba waktu sholat Jumat (8/10) siang. Setelah menggambarkan secara singkat produk Biro Dakwah, Pendidikan dan Iptek, pada tulisan sebelum ini, penulis selanjutnya ingin melukiskan produk atau dalam konvensi ini disebut resolusi biro ekonomi, pelancongan (pariwisata), wanita, belia (pemuda) dan budaya. Semua resolusi dibuat berdasarkan masukan sebelumnya dari berbagai secretariat DMDI subregional atau provinsi. Sekretariat Sumbar, misalnya, telah memasukkan 18 usulan untuk semua biro. Resolusi juga merangkumi output (hasil) lokakarya sehari penuh sebelumnya (Rabu, 6/10). Lalu ditambah dengan statement atau pidato (Kamis, 7/10) masing-masing Gubernur dari provinsi dan negara DMDI. Di antara gubernur yang memberikan pidato adalah Tengku Rizal Nurdin Sumut, Gubernur Bangka Belitung, Gubernur Kepulauan Riau dan Gubernur Riau Rusli Zainal, Wakil Gunernur Sumsel serta Gubernur Mindanau Filipina Selatan. Yang terakhir ini adalah gubernur yang tetap bertahan bersama seluruh delegasinya, memberikan masukkan pada pagi sampai Jumat siang itu. Mereka bicara dalam bahasa Inggris karena tak bisa bahasa Melayu dan tidak dalam bahasa Tagalog karena hadirin tak mengerti Tagalog. Kembali ke Biro Ekonomi. Pelapor biro ini adalah Puan Suriyati Abdullah peserta dari Kantor (di sini disebut jabatan) Pelajaran Melaka. Pada dasarnya resolusi bidang eknomi ini melahirkan beberapa agenda konkrit dalam trading-business. Untuk hal ini, delegasi Sri Langka menginginkan ada pertemuan khusus DMDI . Akan tetapi dari delegasi Indonesia seperti dikutip oleh Puan Suriyati menginginkan hal itu diserahklan ke masing-masing negara. Namun Indonesia setuju diperlukannya kelembagaan semacam Business-Council. Di Dewan Bisnis itulah dikembangkan jaringan bisnis antar negara DMDI. Lembaga ini diharapkan bertanggungjawab memberikan bimbingan dan info serta perta pembinaan kepada pebisnis DMDI. Kenyataan yang tak bisa ditampik ialah adanya kasus pada beberapa negara DMDI keadaan birokrasi yang agak berbelit. Dengan tidak menyebut negara mana, resolusi meminta bahwa lembaga itu harus memberikan bimbingan kepada pebisnis DMDI untuk mempelajari secara seksama birokrasi, peraturan dan proses bea-cukai serta pengetahuan lintas-batas antar negara. Berikutnya, ada agenda peningkatan kerjasama Dewan Perniagaan Melayu Melaka dengan Kamar Dagang dan Industri di negara DMDI. Di samping hal-hal yang ideal, dicanangkan pula beberapa bentuk bisnis kecil dalam membantu komunitas negeri DMDI. Kita di Indonesia mungkin menyebutnya Usaha Kecil Menengah (UKM). Misalnya modal bergulir untuk keluarga DMDI miskin seperti peternak dan penggemukan lembu (sapi). Seperti banyak biro lain yang memberikan perhatian kepada kaum Melayu Muslim di Kamboja, pada biro ekonomi hal itu juga nampak menjadi focus. Misalnya, diharapkan DMDI membuat proyek pelatihan bisnis kecil bagi keluarga miskin di negeri ini. Memberikan bantuan alat-alat produk kerajinan rumah tangga. Peranan pebisnis kalangan wanita juga diminta untuk ditingkatkan di samping penggalakkan pameran pada tahun depan. Tahun ini pameran itu cukup besar. Digelar sejak berlangsungnya DMDI dengan berbagai acara pendahuluan sejak 1 Oktober lalu. Di lantai dasar MITC terdapat sekitar 500 stand berbagai produk negeri-negeri DMDI. Dari Sumbar ada 3 daerah yang ikut pameran. Ketiganya Kabupaten Agam, Kota Bukittingi, dan Kabupaten Solok Stand Agam yang sempat penulis tinjau berisi contoh-contoh sulaman, produk tani dan tanaman tradisional termasuk kasia vera dan lain-lain. Akan halnya dunia pelancongan (Pariwisata), Sawahlunto mengambil manfaat cukup besar dalam hal ini. Pada dinding ruangan lokakarya bidang ini, terpajang secara lengkap diorama dan skema kegiatan proses apa yang sekarang sedang dikembangkan oleh Sawahlunto dengan Sekretariat Pusat DMDI di Melaka. Prof Madya Dr Amran bin Hamzah, Pensyarah (Dosen) Fakulti (Fakultas) Alam Bina, UTM, Skudai sebagai Pimpro proyek ini membentangkan kertas kerjanya. Konsep ini dikaitkan dengan Kota Wisata Tambang Sawahlunto yang sudah digerakkan oleh pemerintah kota ini sejak beberapa tahun lalu. Belajar dari Melaka, tampaknya negara- DMDI lain, tidak perlu konsep-konsep muluk dalam pembangunan dunia wisata sebagai salah satu andalan pertumbuhan eknomi. Melaka menjual wisata budaya seperti mitos Hang Tuah . Wisata sejarah seperti benteng Portugis. Taman burung, dan kebun buah, beberapa univeristas dan Kolej Teknologi Islam. Dan beberapa lainnya lagi. Semua itu dibungkus menjadi objek wisata. Sarana dan prasarana amat menunjang. Kotanya bersih. Jalan-jalannya lebar. Keamanan terjamin. Tranportasi cukup. Terminal Bus, baik. Pelabuhan laut dan udaranya cukup memadai. Harga-harga barang bersaing dan dapat ditawar dengan kualitas yang cukup baik. Hotel-hotel tersedia. dan lebih dari itu Melaka menjadi tujuan wisata kesehatan pada beberapa tahun belakangan ini. Tata ruang antar dan k objek-objek sepertinya tidak berjauhan. Antara pelabuhan laut dengan stasiun bus berdekatan dan pusat belanja segala ada atau supermarket dan mall terasa seperti ditata demikian rupa. Yang satu arah ke kiri dan satu arah ke kanan. Bahkan kepada pusat belanja mall raksasa bisa dicapai dengan jalan kaki dari pelabuhan. Begitu pula ke Terminal Bus yang sedikit agak jauh dari mall tadi, tetapi masih bisa dicapai jalan kaki Akan halnya wisata kesehatan, terutama dari Indonesia, orang berbondong-bondong berobat, melakukan general check-up dan treatment kesehatan di sini. Hospital (rumah sakit) di mana-mana mempunyai fasilitas yang cukup bahkan memiliki hotel sendiri. Layanannya terasa baik. Apa yang digambarkan orang pelayanan oleh tenaga medis dan non-medis, administrasi, apotik dan dokternya terasa betul bedanya dengan di negeri kita. Bahkan dokter menerangkan secara teliti tingkat demam yang penulis alami dan mengapa obat yang diberikannya hanya obat demam dan vitamin dan tidak perlu pakai antibiotic. Katanya, demam seperti ini belum perlu anti biotic. Ada juga dokter kita yang ramah seperti ini. Tetapi jumlahnya boleh dihitung jari. Cara pembayaran dan pengambilan obat juga sangat menyenangkan. Dan harga? Penulis membayar 27 setengah ringgit setara dengan Rp 63250. (enam puluh tiga ribu dua ratus lima puluh rupiah) seluruhnya. Selasa, 12-Oktober-2004, 10:54:34 5 klik Datuk Seri Mohd Ali Mohd Rustam, konseptor, tokoh di balik dan di atas layar serta pentas DMDI. Beliau memimpin pleno akhir ini dengan cekatan. Lebih dari itu, setiap usulan tambahan dari floor (peserta pleno) atas resolusi sembilan Biro Pembangunan Sekretariat DMDI, langsung bisa diterima atau dia tolak dengan alasan masuk akal. Misalnya ketika Gubernur Mindanau, Filipina meminta Sekretariat DMDI mencetak terjemahan kitab suci Al-Qur'an ke Bahasa Tagalog. Terjemahan ajaran-ajaran dasar Islam fardhu ain ke bahasa utama 10 juta pemeluk Islam di negeri Presiden Arroyo Macapagal itu. Langsung beliau sanggupi seperti hal yang sama terhadap Kamboja, tahun depan akan dicetak 2.000 eksemplar untuk Mindanau. Lalu, Kamus Bahasa Melayu-Tagalog yang amat diperlukan. Selanjutnya, ada usulan dari Pemuda Muhammadiyah Riau supaya DMDI menerbitkan Ensiklopedi Budaya Melayu. Hawari Sidik dari Sumbar mengusulkan menghidupkan dan memasyarakatkan kembali pemakaian aksara Arab Melayu atau Huruf Jawi serta festival Budaya Melayu DMDI pada setiap Konvensi DMDI sekali setahun. Tahun ini, agaknya yang dimaksud oleh Hawari tentang festival budaya itu baru terlaksana dalam batas tertentu. Misalnya pertunjukan seni, seminar dan pameran songket. Kain songket dianggap produk budaya asli Melayu yang perlu dipromosikan. Begitupula setiap malam pada beberapa even sejak 2 sampai 7 Oktober malam ditampilkan berbagai pertunjukan dan atraksi budaya dari berbagai delegasi DMDI seluruh dunia. Dari tari-tarian Minang oleh Dinas Pariwisata Tanadatar dan Sawahlunto, tari dan seni Melayu dari Riau, Kepulauan Riau, Babel, Sumsel, Sumut, peragaan busana tradisional Melayu sampai ke pertunjukan debus, ilmu kebal oleh delegasi Nanggro Aceh Darussalam. Tak kalah pula pertunjukan seni dari Melaka sendiri. Negeri yang mempunyai motto : "Melawat Melaka Bersejarah Berarti Melawat Malaysia", menampilkan pertunjukan kolossal pada setiap malam, pada pembukaan dan penutupan dengan iringan sebuah orkestra Harmoni yang menggabungkan alat musik klasik, modern dan tradisional Melayu. Kembali ke tokoh sentral DMDI, pada Munas (General Assembly) UMNO akhir Agustus lalu, Ketua Menteri Melaka Ali Rustam promosi menjadi lapisan pertama kepemimpinan di dalam Partai Berkuasa UMNO. Ali Rustam pada deretan Naib Presiden UMNO sekarang ini. Tokoh yang siang malam sepenuhnya aktif di dalam acara bersama peserta Konvensi DMDI ini, berada pada deretan ke-4 setelah Presiden UMNO PM Malaysia Abdullah Badawi, Timbalan Peresiden Najib Tun Abd Razak, dan Naib Presiden Dato'Seri Shamad. Satu posisi yang berpeluang untuk menjadi PM Malaysia pada 5 atau 10 tahun ke depan. Melanjutkan wacana biro wanita, Belia dan Budaya yang penulis rangkum ini agak kepepet waktunya dengan shalat Jumat. Pada intinya fokus Biro Wanita adalah penguatan posisi wanita di dalam pembangunan. Baik di dalam keluarga, maupun komunitas DMDI pada sekala regional dan internasional. Beberapa program tahun-tahun lalu yang belum maupun yang sudah terealisir dilanjutkan dan ditingkatkan. Seperti plan tindakan industri kecil dan menengah perempuan, termasuk pengembangan pembinaan tenaga kerja wanita yang diputuskan di Bukittinggi tahun lalu. Peningkatan upaya pebisnis wanita di dalam penunjang pertumbuhan ekonomi DMDI akan diupayakan berdirinya one shop-stop centre dan pameran. Tempatnya di mana masih harus dipelajari. Dilanjutkan lalu-lintas perdagangan produk pebisnis kalangan perempuan dengan Medan, Padang, Palembang, Bangka dan Australia. Sayang, penulis tidak melihat pebisnis kalangan perempuan dari Sumbar yang tahun lalu hadir seperti Ibu Elly Rajilis dan Ibu Jas Anton atau lainnya. Terhadap rancangan biro wanita yang cukup banyak dipaparkan, Ali Rustam memberi komentar, mengaitkannya dengan konsep Islam Hadhari Abdullah Badawi yang VCD peluncurannya di Selangor 30 Januari 2004 lalu dibagi-bagikan ke semua delegasi dan peserta. Islam sangat menghargai perempuan dan menempatkan posisi perempuan pada status yang mulia. Inilah Islam yang ber-tamaddun, berperadaban dan berbudaya tinggi. Sebelum Islam, oleh peradaban Arab, perempuan direndahkan dan dilecehkan. Bahkan pada satu zaman anak-anak perempuan dibunuh karena dianggap akan menjadi beban keluarga dan aib-sumber fitnah. DMDI, dengan demikian harus meningkatkan derajat dan martabat perempuan. Akan halnya resolusi konvensi biro belia (pemuda) nampaknya masih berkisar tentang keinginan untuk memperkuat kelembagaan. Di antaranya keinginan supaya belia DMDI dapat bergabung dengan World Assembly of Youth atau Majelis Pemuda Sedunia yang menjadi komponen utama pemuda dunia di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Keinginan tahun lalu, diteruskan untuk tahun depan seperti perbaikan citra diri pemuda Islam yang selalu dicurigai pihak Barat sumber terorisme. Perlunya yayasan khusus di DMDI yang mengelola soal-soal kepemudaan. Bagaimana pemuda menghadapi tantangan untuk meningkatkan kualitas SDM, kesempatan pendidikan lebih lanjut, dan perolehan pekerjaan yang layak bagi pemuda di negeri-negeri DMDI dan seterusnya. KNPI yang merupakan peserta dominan dari pemuda Indonesia sejak 5 tahun lalu aktif di DMDI. Tahun ini mereka tinggal di rumah keluarga sebagai anak angkat pada keluarga keluarga yang dipilih di Melaka. Tentu saja kegiatan mereka sepekan di Melaka di isi dengan berbagai acara. Hanya pada sidang pleno terakhir, termasuk menyimpulkan resolusi biro kepemudaan, tak seberapa di antara mereka yang tampak hadir. Mungkin sudah lelah, atau lebih mementingkan acara pesiar dan jalan-jalannya. Padahal, wanita, belia dan budaya merupakan sumber inspirasi pengembangan DMDI hari ini dan ke depan *** *Shofwan Karim, ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumbar ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

