Rabu, 13 Oktober 2004

BERITA UTAMA
EDITORIAL: Konsistensi Keteladanan dari PKS


PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) kian mengukuhkan keteladanannya dalam
politik nasional kita. Setelah menjadi partai yang paling solid dan militan
dalam memperjuangkan ideologi partai, PKS juga menjadi partai yang paling
konsisten menghindari rangkap jabatan. Senin (11/10), Hidayat Nur Wahid
mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PKS, beberapa hari setelah ia terpilih
sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Setelah pengunduran itu, Hidayat pun menjadi anggota biasa partai yang
paling tertib setiap kampanye itu.

Sebagai gantinya, Majelis Pertimbangan Partai menunjuk Ketua DPP Wilayah
Dakwah I Tifatul Sembiring sebagai pejabat sementara. Pemilihan pengganti
tetap baru akan dilakukan pada Musyawarah Nasional PKS pada April 2005.

Pengunduran diri yang sama, dulu juga dilakukan Nurmahmudi Ismail selaku
petinggi PKS ketika ia diangkat menjadi Menteri Pertanian dan Perkebunan di
era Abdurrahman Wahid. Alasannya: karena rangkap jabatan menurut amanat
AD/ART PKS memang tidak dibenarkan. Dan, kader-kader partai ini melaksanakan
amanat itu tanpa debat panjang dan obral wacana yang melelahkan.

Penghindaran rangkap jabatan itu jelas tujuannya agar tidak ada conflict of
interest sebagai kader partai dan pejabat publik. "PKS ingin memberikan
sinyal bahwa rangkap jabatan tidak baik, sebab menimbulkan konflik
kepentingan selain mematikan kaderisasi," tegas Hidayat.

Semangat memisahkan jabatan partai dan jabatan publik itulah dulu menjadi
semboyan negarawan Inggris Winston Churchill. Bahwa, ketika pengabdian
kepada negara dimulai, maka berakhirlah pengabdian kepada partai.
Konsistensi PKS dalam memisahkan jabatan publik dan jabatan partai, sungguh
sebuah kultur politik yang baru di negeri ini. Dan, jujur saja, baru PKS-lah
yang berani memulai tradisi itu. Sebab, secakap dan sejujur apa pun manusia,
rangkap jabatan antara urusan publik dan partai berpotensi menimbulkan
penyelewengan. Dan, PKS melakukan langkah-langkah pencegahan karena
menyadari bahwa manusia memang bukan malaikat.

Inilah pendidikan politik yang segar dan amat berdimensi jauh ke depan. Ia
tidak saja mencegah konflik kepentingan, melainkan cara sehat melakukan
regenerasi partai. Ia bisa menjauhkan ada kader partai yang memegang jabatan
strategis terlalu lama.

PKS kini menunjukkan kepada publik, partai inilah yang paling siap
menghadapi perubahan zaman. Inilah partai modern yang tahu bagaimana urusan
partai dan urusan publik harus diletakkan. Sebab, bukankah masyarakat memang
sering mempertanyakan aktivitas para pejabat publik yang secara kebetulan
juga orang partai? Dan, jawabnya selalu tidak pernah memuaskan.

Sebagai partai kader, PKS kian menunjukkan betapa sebagai lembaga politik
dengan platform partai yang jelas, ia tidak pernah takut kehilangan tokoh.
Dan, memang PKS-lah partai yang sama sekali tidak tergantung kepada figur,
tetapi kepada program.

Sayang, contoh-contoh bagus pendidikan politik PKS tidak menarik
partai-partai lain. Karena itu, wajar jika partai inilah yang paling banyak
menikmati keuntungan politik: kenaikan suara yang amat signifikan pada
Pemilu Legislatif. Bukan mustahil lima tahun mendatang, PKS akan menggeser
eksistensi Partai Golkar dan PDIP.


http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2004101301005306





--

This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are not the 
intended recipient (or have received this e-mail in error) please notify the sender 
immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized copying, disclosure or 
distribution of the material in this e-mail is strictly forbidden.



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke