Banda urang pulo nan ambo bandakan...
Dari Dunsanak Edizal di Minangnet

Wassalam,
Wady (30th)
=========


Jumat, 4 Mei 2001, kompas

Kabupaten 50 Kota

MENURUT tukang kaba, sebutan dalam bahasa Minangkabau bagi penutur
cerita, dalam salah satu tambo-cerita historis tentang asal-usul dan
silsilah nenek moyang orang Minangkabau-di Sumatera Barat terdapat
sebuah kerajaan Pariangan yang dipimpin oleh Datuak Bandaryo Kayo. Ia
memiliki saudara seayah bernama Datuak Ketumanggungan dan Datuak
Perpatih Nan Sabatang. Suatu hari, kedua saudara ini bertemu Datuak
Bandaryo Kayo guna membicarakan masalah kepadatan penduduk di kerajaan
tersebut. Dalam pertemuan itu disepakati untuk memindahkan sebagian
penduduk kerajaan ke daerah permukiman baru.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan dijadikan permukiman baru,
mulailah pemindahan sebagian penduduk ke tiga arah yakni Utara, Barat,
dan Timur. Daerah permukiman baru di sebelah Barat kemudian diberi nama
Luhak (daerah) Agam. Daerah sebelah Timur dinamakan Luhak Tanah Datar.
Sementara itu, Datuak Sri Maharajo Nan Banego memimpin 50 orang menuju
ke arah utara, daerah Payakumbuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan
nama Luhak Limo Puluah yang dalam perkembangannya menjadi Kabupaten 50
Kota. Untuk mengenang sejarah asal-usul nama kabupaten ini, pada
lambang daerahnya kemudian dicantumkan angka 50.

Kabupaten 50 Kota terletak di bagian timur wilayah Provinsi Sumatera
Barat atau 124 km dari Kota Padang, ibu kota provinsi. Luas wilayahnya
3.354,30 km persegi, terbagi dalam delapan kecamatan dengan 180 desa
dan 505 dusun. Payakumbuh, ibu kota Kabupaten Limapuluh Kota dapat
dicapai dalam waktu setengah jam dengan mencarter taksi dari
Bukittinggi yang berjarak 33 km.

Jumlah penduduk kabupaten ini sekitar 311.000 orang. Pendapatan per
kapita tahun 1999 daerah yang menjadi salah satu cikal bakal ranah
Minang ini besarnya Rp 4,8 juta, di atas rata-rata Sumatera Barat yang
mencapai Rp 4,5 juta.

Dari jumlah penduduk tersebut, pada tahun 1999 terdapat sekitar 70 ribu
orang yang masuk dalam kelompok umur di bawah 10 tahun. Menurut data
yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat bulan Juli
2000, di kabupaten ini masih terdapat 273 balita yang menderita gizi
buruk dan kurang energi protein (KEP).

Jika tidak menyaksikan sendiri keadaan desa-desa di kabupaten ini,
sulit mempercayai bahwa di kabupaten penghasil gambir (Uncaria gambir)
terbesar di Indonesia, masih ditemukan balita bergizi buruk dan KEP. Di
pelosok Desa Mahat Kecamatan Suliki Gunung Mas umpamanya, masih
dijumpai rumah penduduk yang beralaskan tanah dengan dinding kayu.
Padahal sejak ditemukannya batu-batu menhir, peninggalan kebudayaan
megalitikum, pada tahun 1981 Desa Mahat masuk dalam salah satu obyek
wisata dari 73 obyek wisata yang ditawarkan kabupaten ini.

Meskipun hanya berjarak 44 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari
Payakumbuh, daerah ini seakan terisolasi karena tidak dilalui kendaraan
umum. Mobil yang digunakan untuk menuju Desa Mahat harus menggunakan
double gardan, karena selepas jalan beraspal kasar yang hanya sekitar
dua km, selebihnya berupa jalan tanah berbatu-batu dan berlubang besar
di sana-sini. Yang lebih menyusahkan, jalanan mendaki dengan
tikungan-tikungan curam. Bibir jurang yang dalamnya kurang lebih 500
meter di sebelah kiri nyaris tidak tampak karena tertutup ilalang dan
pohon-pohon. Tidak ada pengaman atau tanda apa pun di bibir jurang itu
sebagai tanda bagi para pengendara mobil agar berhati-hati.

Dari lokasi kumpulan batu menhir yang ditumbuhi rerumputan tinggi, jika
memandang ke bukit di bawahnya, dapat disaksikan tanaman gambir yang
tertata rapi. Pemandangan itu mengingatkan orang pada panorama
perkebunan teh di daerah Puncak, Jawa Barat.

Luas tanam perkebunan gambir di Kabupaten Limapuluh Kota mencapai
12.495 hektar atau 78 persen dari luas tanam perkebunan gambir
se-Sumatera Barat. Pada tahun 2000, dari total produksi gambir Sumatera
Barat sebesar 9.071 ton, sekitar 89 persennya merupakan hasil produksi
gambir dari kabupaten ini. Di pasaran, harga jual satu kg gambir setara
dengan satu dollar Amerika. Jadi naik turunnya harga gambir mengikuti
naik turunnya nilai rupiah terhadap dollar.

Gambir bersama dengan karet, semen, dan kayu lapis termasuk dalam 10
komoditas utama ekspor Sumatera Barat. Untuk ekspor, gambir dikirim
melalui Medan, sedangkan untuk pasaran dalam negeri dikirim ke Jakarta.
Tanaman gambir mengandung zat katechine dan tanin, yang digunakan
sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, penyamak kulit dan
industri batik. Volume ekspor gambir Provinsi Sumatera Barat tahun 2000
besarnya 1.339.860 kg. Nilai ekspor komoditas yang diekspor ke India,
Singapura, dan Pakistan ini 1.808.503 dollar Amerika.

Meskipun gambir-salah satu komoditi perkebunan-menjadi produk andalan
Kabupaten Limapuluh Kota, namun yang menjadi tulang punggung
perekonomian kabupaten ini adalah tanaman bahan makanan. Perkebunan dan
tanaman bahan makanan, keduanya tergolong dalam sektor pertanian,
menjadi penyumbang kegiatan ekonomi utama kabupaten ini. Tahun 1999
nilainya mencapai Rp 498 milyar, atau setara dengan 33 persen dari
total kegiatan ekonomi yang besarnya Rp 1,5 trilyun. Sumbangan
komoditas tanaman bahan makanan seperti padi cukup besar terhadap
kegiatan ekonomi. Tahun 1999 dihasilkan 211.958 ton padi atau setara
dengan 184.835 ton gabah kering giling, yang diperoleh dari 42.072
hektar luas panen. Dari gabah kering giling tersebut kemudian diperoleh
94.265 ton beras. Produksi beras ini masih surplus 50.675 ton, karena
kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota besarnya 43.590
ton. (BE Julianery/ Litbang Kompas)


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke