Diambil dari http://www.tnp.kpu.go.id   dan http://www.kompas.co.id

Kabupaten Dharmasraya

� Sungai Rumbai
� Koto Baru
� Sitiung
� Pulau Punjung

Sungai Rumbai
1. Batu Kangkuang
2. Sinamar
3. Mayang Taurai
4. Lubuak Karya
5. Padang Bungur
6. Ranah Baru
7. Koto Besar
8. Sungai Rumbai
9. Mulya Bhakti
10. Cahaya Murni
11. Kurnia
12. Kodrat

Koto Baru
1. Padukuan
2. Padang Tangah
3. Pulau Mainan I
4. Pulau Mainan II
5. Tanjuang Harapan
6. Koto Hilalang
7. Ampalu
8. Padang Tarok
9. Koto Salak
10. Subarang Piruko
11. Pasa Koto Baru
12. Koto Koto Baru
13. Ampang Kuranji
14. Aua Jaya
15. Koto Padang
16. Sialang Gaung
17. Tarantang
18. Sungai Kalang
19. Sungai Langkok
20. Harapan Mulia
21. Lagan Jaya
22. Bukik Harapan
23. Banjar Makmur
24. Tiumang
25. Padang Bintungan
26. Sungai Atang
27. Padang Laweh
28. Sopan Jaya

Sitiung
1. Gunuang Medan
2. Piruko
3. Sungai Duo
4. Koto Agung
5. Pulai
6. Sitiung
7. Siluluk Sungai Lansat
8. Kostar
9. Siguntua
10. Trimulya
11. Ranah Palabi
12. Bukit Tujuah
13. Tabek Panyubarangan Baru
14. Pinang Makmur
15. Timpeh
16. Marga Makmur
17. Beringin Sakti

Pulau Pujuang
1. Lubuak Labu
2. Padang Hilalang
3. Banai
4. Lubuak Karak Siraho
5. Ampang Kuranji Silago
6. Durian Simpai
7. Koto Baru
8. Muaro Momomg
9. Sungai Kambut
10. Pasa Pulau Punjuang
11. Pulau Punjuang
12. Kampuang Surau
13. Lubuak Bulang
14. Sungai Dareh
15. Sikabau
16. Kampuang Baru
17. Bukik Mindawa
18. Tebing Tinggi

BAGI para transmigran, keputusan untuk pindah ke Sitiung dan sekitarnya di
Sumatera Barat pada akhir tahun 1976 tidak perlu disesali. Langkah
spekulatif antara hidup dan mati di "tanah seberang" yang diambil saat itu
kini mulai terjawab. Perlahan namun pasti-mengutip iklan suatu produk-"hidup
justru terasa lebih hidup" di kabupaten baru ini.

BERAWAL dari keinginan memanfaatkan lahan tidur di bagian selatan Sumatera
Barat agar menjadi lebih produktif dan sekaligus untuk membuka lapangan
kerja baru, pemerintah pusat telah memindahkan sebagian penduduk Pulau Jawa
asal DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur ke
wilayah ini.
Proses pemindahan penduduk yang masih berlangsung hingga tahun 2002 itu
telah membuahkan banyak hasil. Bermodalkan ketekunan, kesabaran, dan kerja
keras penduduk lama dan penduduk baru, akhirnya "penggalan" dari Kabupaten
Sawahlunto/Sijunjung yang resmi otonom sejak 7 Januari 2004 ini tumbuh
sebagai salah satu daerah berbasis pertanian yang potensial.

Sekitar 70 persen tenaga kerja di wilayah ini membekali hidup lewat bercocok
tanam, terutama mereka yang bekerja di lahan-lahan pertanian tanaman pangan.
Hanya 20 persen penduduk bekerja di lahan perkebunan. Sementara dari
kegiatan ekonomi, perkebunan perannya jauh melebihi tanaman pangan.
Dari total kegiatan ekonomi tahun 2003 yang mencapai Rp 358 miliar, hampir
seperlima atau 19,7 persen berasal dari kegiatan ekonomi perkebunan. Sebagai
salah satu daerah tujuan transmigrasi, wilayah yang memiliki 29 sungai ini
telah mengembangkan aneka tanaman keras seperti sawit, karet, kelapa, kopi,
kulit manis, cokelat, gambir, cengkeh, dan pinang. Luas tiap lahan cukup
beragam dengan sawit dan karet sebagai jenis tanaman yang paling dominan.

Perkembangan perkebunan sawit yang pesat sejak diperkenalkan tahun 80-an di
Koto Baru telah mengungguli karet sebagai tanaman perkebunan yang lebih dulu
ada. Kondisi tersebut memosisikannya sebagai lahan terluas di tahun 2003
yaitu 76.163 hektar, bertambah 32 persen terhitung sejak lima tahun
sebelumnya.
Produksi sawit memang masih berfluktuasi dari waktu ke waktu. Tahun 2003
misalnya, tercatat sebagai tahun produksi terendah sejak 1999, yakni 593.618
ton atau berkurang 32 persen. Meski demikian, luas lahan menyimpan potensi
yang cukup besar karena terdapat 8.138 hektar kebun sawit yang tergolong
belum menghasilkan. Sungai Rumbai tercatat sebagai penghasil sawit terbanyak
di antara tiga kecamatan lainnya.
Komoditas ini cukup menggiurkan petani. Betapa tidak, dengan modal pinjaman
sebesar Rp 12 juta yang akan lunas 15 tahun kemudian, mereka akan bisa
memiliki satu kapling tanah yang terdiri dari dua hektar kebun sawit. Dua
setengah tahun kemudian 248 tegakan sawit yang tumbuh di atasnya telah siap
dipanen dua kali sebulan.
Memang tuaian buah pasir, sebutan biji sawit, pertama ini belum bisa menutup
ongkos produksi. Tetapi, di tahun ke tujuh atau ke delapan panen raya sudah
di depan mata. Jika rata-rata per hektar bisa dipetik 7,8 ton sawit, maka
dengan harga Rp 700 per kilogram seperti saat ini terbayang berapa
pendapatan yang akan masuk ke kantong petani.

Untuk pemrosesan lebih lanjut, tak ada masalah karena empat industri
pengolahan telah siap mengubah tandan buah segar milik rakyat menjadi minyak
sawit mentah (crude palm oil/CPO). Tiga perusahaan berada di Sungai Rumbai
dan selebihnya di Sitiung. Melalui Teluk Bayur, hasilnya kemudian dibawa ke
Padang, Palembang, Batam bahkan diekspor ke Malaysia, Singapura, India, dan
China.
Sebagai komoditas lama, karet menempati urutan terbesar kedua. Meski sejak
1999 luas lahan tidak beranjak dari kisaran 33.000 hektar, kematangan
usianya telah memberikan peningkatan produksi dari tahun ke tahun. Jika di
tahun 2002 mampu disadap 29.360 ton karet, setahun kemudian angkanya menjadi
dua kali lipat, yakni 59.431 ton.
Sebaran tanaman bergetah ini merata di semua kecamatan dengan Sungai Rumbai
sebagai pemilik lahan terluas atau 40 persen dari 34.514 hektar lahan yang
ada.
Permukaan tanah Dharmasraya yang bergelombang dengan ketinggian antara
100-1.500 meter di atas permukaan laut serta diselingi perbukitan di
sana-sini, menyisakan hanya sedikit lahan datar. Akibatnya, tumbuhan tanaman
pangan pun tak secerah hasil perkebunan. Meski demikian, produktivitas padi
rata-rata minimal empat ton per hektar sudah tercapai.

Hadirnya Bendungan Batanghari yang diperkirakan rampung seluruhnya pada
tahun 2005 diharapkan akan membuat perubahan. Jika 18.000 hektar sawah yang
ditargetkan bisa terealisasi, niscaya produksi tanaman pangan khususnya padi
yang kini baru 48.747 ton per tahun akan turut meningkat.
Hasil bumi Dharmasraya turut menggerakkan transaksi jual-beli skala besar
maupun kecil. Keberadaan pasar yang kebanyakan di kabupaten induk dulu cuma
digelar sepekan sekali, namun sekarang penduduk bisa berbelanja setiap hari
di beberapa pasar sekaligus.

Berkunjung dari satu tempat ke tempat lain pun tidak sulit asalkan lokasinya
masih berada di Jalur Lintas Sumatera yang banyak dilalui kendaraan bermotor
seperti bus dan truk. Selebihnya untuk menjangkau suatu daerah hanya bisa
mengandalkan ojek atau angkutan pedesaan yang jumlahnya terbatas.
Jalan mulus ke setiap pelosok daerah menjadi salah satu cita-cita. Banyak
tempat yang masih terisolasi disebabkan jalanan rusak. *

Daerah Transmigran yang Tumbuh dan Potensial

SETELAH diresmikan sebagai daerah otonom yang baru, ternyata Kabupaten
Dharmasraya di Sumatera Barat belum segera mulai melakukan penyelenggaraan
pemerintahan. Ini sehubungan dengan meninggalnya Penjabat Bupati Ahmad
Munawar.

Setelah penjabat bupati yang baru, Asrul Syukur, dilantik pada 14 Mei 2004,
roda pemerintahan baru berjalan menyiapkan diri untuk meraih masa depan.
"Di satu sisi Kabupaten Dharmasraya dihadapkan pada berbagai keterbatasan
yang memang berat. Sementara sebagai daerah baru, justru akan menghadapi
eskalasi tuntutan kebutuhan yang berkembang dengan sangat cepat. Apalagi,
sebagai sebuah daerah dengan karakter yang unik, Kabupaten Dharmasraya
adalah daerah yang menuntut perlakuan yang spesifik pula," papar Gubernur
Sumbar Zainal Bakar.
Menurut dia, ditinjau dari aspek ekonomi daerah ini memiliki potensi yang
cukup besar yang selama ini masih belum tergarap secara maksimal.
Selanjutnya dipandang dari aspek sosiologis dan historis, di Kabupaten
Dharmasraya masih terdapat warisan peninggalan sejarah dan kebudayaan masa
lalu (Kerajaan Dharmasraya) yang sampai saat ini masih terapresiasi dengan
sangat kuat dalam pola pikir masyarakat setempat.
Ditinjau dari aspek sosial kemasyarakatan, Kabupaten Dharmasraya memiliki
pula heterogenitas penduduk yang sudah barang tentu akan diikuti berbagai
konsekuensi yang ditimbulkan.

Kesemuanya itu, menurut Zainal Bakar, menuntut perlakuan yang cermat dan
menghendaki pola penanganan yang sesuai. Oleh karena itu, Penjabat Bupati
Dharmasraya diharapkan mampu mengakomodasinya. Ia mengingatkan, "Tujuan yang
hendak kita capai adalah kesejahteraan masyarakat sehingga sangat tidak
bijaksana bila pada akhirnya kekeliruan dalam penanganan masalah, justru
merugikan bagi kemaslahatan kita sendiri."
PENJABAT Bupati Asrul Syukur memaparkan, pihaknya kini sedang mencoba
menggalang kebersamaan, meningkatkan sinergi pertumbuhan, serta
mengoptimalkan pemanfaatan potensi bagi tercapainya percepatan pertumbuhan
kawasan. "Kami punya komitmen yang kuat untuk mewujudkannya," tandasnya.
Apa potensi kabupaten yang terdiri dari empat kecamatan (Pulau Punjung,
Sitiung, Kotobaru, dan Sungai Rumbai) ini?
Menurut Asrul Syukur, Kabupaten Dharmasraya adalah daerah perkebunan dan
pertanian yang relatif sudah berkembang maju. Saat ini terdapat enam
perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit,
dengan total luas sekitar 80.000 hektar, termasuk perkebunan kelapa sawit
yang diusahakan sejumlah koperasi unit desa (KUD). Sektor ini menjadi tiang
utama dalam struktur perekonomian daerah setempat.

"Masih ada peluang bagi calon investor untuk membuka perkebunan, dengan luas
pencadangan sekitar 30.000 hektar. Bisa perkebunan kelapa sawit, bisa karet,
atau perkebunan dengan komoditas lainnya," ungkapnya.
Asrul menambahkan, juga terbuka peluang investasi untuk pembangunan pabrik
pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Saat ini baru ada empat
pabrik CPO dengan kapasitas produksi sekitar 250 ton tandan buah segar (TBS)
per jam.
Di bidang pertanian, di Dharmasraya terdapat megaproyek bernilai sekitar Rp
1,3 triliun, yakni Irigasi Batanghari. Tahun 2005/2006 Irigasi Batanghari
diperkirakan beroperasi optimal sehingga akan menggeliatkan ekonomi
masyarakat. Pasalnya, irigasi tersebut akan mengairi sawah seluas 18.000
hektar. Kini juga terbuka peluang membuka areal persawahan baru di Sitiung I
dan Sitiung II seluas 15.000 hektar.
Pembudidayaan sayur-mayur sebelumnya merupakan usaha yang dilakukan sekitar
33.000 petani, dan hasilnya dikirim ke daerah tetangga, Pekanbaru dan
sekitarnya di Provinsi Riau dan Muarobungo, Provinsi Jambi. Nantinya,
diyakini bakal tambah berkembang pesat. Komoditas padi dan hortikultura
merupakan sektor andalan selain perkebunan.

Kabupaten Dharmasraya juga punya potensi di bidang pertambangan seperti batu
bara yang sampai sekarang belum tergarap optimal, padahal memiliki nilai
ekonomis tinggi. Selain batu bara, juga ada kandungan bahan tambangan lain
seperti batu kapur, lempung kuarsit, emas, pasir kuarsa, dan sebagainya.
"Kandungan masing-masing bahan tambang itu di perut bumi Dharmasraya akan
diteliti intensif agar calon investor dapat mengetahui dan kemudian
memastikan diri untuk menanamkan modalnya," tambah Asrul Syukur.
Sebagai daerah yang posisinya strategis, yaitu sebagai pintu gerbang Sumbar
dari arah selatan yang berbatasan dengan Provinsi Jambi dan arah timur
dengan Provinsi Riau, keunggulan daerah ini karena dilalui sekitar 100
kilometer jalan lintas tengah Sumatera.
Kenyataan ini memberi peluang terbukanya pusat pertumbuhan baru sektor
perdagangan dan jasa di Kabupaten Dharmasraya. Calon investor bisa
mengembangkan sektor perdagangan/jasa dengan membangun pusat pertokoan,
swalayan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Menurut Asrul Syukur, daerah berpenduduk 142.168 jiwa (tahun 2000)-dengan
rincian Pulang Punjung 29.328 jiwa, Sitiung 29.376 jiwa, Kotobaru 47.509
jiwa dan Sungai Rumbai 35.958 jiwa-mudah diakses dari pusat segi tiga
pertumbuhan kawasan timur Sumatera (Singapura-Johor-Riau).

"Pemerintah Kabupaten Dharmasraya akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi
calon investor dalam hal perizinan dan akan memfasilitasi pengusaha dengan
masyarakat yang kini tengah berharap bisa lebih meningkat kesejahteraannya,"
tandas Asrul Syukur.
Dengan potensi yang ada dan animo investor untuk menanamkan modalnya, tahun
2005 pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Dharmasraya ditargetkan Rp 10
miliar. "Kami optimistis, PAD bisa mencapai Rp 10 miliar. Dari data tahun
2000 yang diolah, dari Rp 11,833 miliar PAD Kabupaten Sawahlunto Sijunjung,
Rp 7,15 miliar di antaranya berasal dari sumber-sumber yang kini menjadi
daerah otonom bernama Kabupaten Dharmasraya," paparnya.

Zainal Bakar mengingatkan, untuk maksud ini kabupaten induk hendahnya
memberikan dukungan dan fasilitas yang dibutuhkan. Hindari sejauh mungkin
terjadinya friksi dan tarik menarik kepentingan. "Marilah kita tempatkan
kepentingan masyarakat luas di atas segala kepentingan yang lain. Tujuan
yang hendak kita capai adalah kesejahteraan masyarakat," tandasnya.
(YURNALDI)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke