A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimAssalamu'alikum ww
Dari kadai sabalah, mudah2an ado manfa'atnyo.
Wassalamu'alikum ww
Rang Pikumbuah
==================
----- Original Message -----
From: Adyansyah
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, October 01, 2004 4:59 PM
Subject: [mus-albarokah] Kearifan emas
Kearifan emas
Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa
orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di
masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan
melainkan juga untuk banyak tujuan lain."
Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu
berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal
untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu
menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya
tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain,
pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak
seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu
keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping
perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani
menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas
di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana.
Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan
raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar
tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga
seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang
ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu
tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang
sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang
emas".
"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika
kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu
butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan
sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata
loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.
Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
a.. To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mus-albarokah/
b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________