Diambil dari Otonomi Daerah Kompas On-Line: http://www.kompas.co.id, dan
data - data dari Data Tabulasi Nasional Pemilu (Sumbar) di
http://wwwtnp.kpu.go.id  Serta dari http://www.nagari.org

Berikut adalah nama-nama daerah berdasarkan Jorong (Desa dulunya) dalam
Kecamatan pada Kabupaten beserta Kanagarian juga.

Kabupaten 50 Kota
� Payakumbuh
� Akabiluru
� Luhak
� Lareh Sago Halaban
� Situjuan Lamo Nagari
� Harau
� Guguk
� Mungka
� Suliki Gunung Mas
� Bukit Barisan
� Gunung Mas
� Kapur Sembilan
� Pangkalan Koto Baru

Payakumbuah
1. Sungai Beringin
2. Gando
3. Piobang
4. Parumpung
5. Tabek Panjang
6. Koto Baru Simalanggang
7. Bl.Rupih Api-Api
8. Simalanggang
9. Koto Tangah Simalanggang
10. Parik Dalam
11. Dalam Koto
12. Kubu Gadang
13. Taeh Bukik

Akabiluru
1. Koto Tangah Batu Hampa Barat
2. Koto Tangah Batu Hampa Selatan
3. Piladang Koto Tangah Bt.
4. Batu Hampa
5. Durian Gadang
6. Sariak Laweh Hilia
7. Sariak Laweh Mudik
8. Sei Balantik
9. Suayan Tinggi
10. Suayan Sariak
11. Suayan Randah
12. Pauh Sangik

Luhak
1. Pakan Sabtu Mungo
2. Sepakat Mungo
3. Balai Gadang Mungo
4. Andaleh Ateh
5. Andaleh Bawah
6. Sei Kamuyang Utara
7. Sei Kemuyang Timur
8. Sei Kamuyang Barat
9. Sei Kamuyang Selatan
10. Tanjung Haro Sikabu-Kabu

Lareh Sago Halaban
1. Halaban
2. Alang Laweh
3. Ampalu
4. Tanjung Gadang
5. Tanjung Gadang Rumah
6. Balai Malintang
7. Coran
8. Batu Payung
9. Pakan Rabaa
10. Simpang Ampek
11. Kayu Tanam
12. Batu Ampaleh
13. Balai Panjang Atas
14. Balai Panjang Bawah
15. Bukik Sikumpa

Situjuah Lao Nagari
1. Bulakan Tinggi
2. Situjuh Gadang
3. Padang Kuning
4. Padang Ambacang
5. Banda Dalam
6. Koto Tinggi
7. Situjuh Batua
8. Sarumpun
9. Dalam Nagari
10. Ampek Suku
11. Sialang Taratak
12. Ladang Laweh

Harau
1. Balai Cubadak
2. Tanjung Kubang
3. Parak Baru
4. Tanjung Ateh
5. Pincuran Tujuh
6. Bukik Limbuku
7. Pilubang
8. Balai
9. Sumur Batu
10. Padang Tigo Koto
11. Tanjung Pati
12. Tigo Koto
13. Tanjung Baringin
14. Kubang Tinggi
15. Pulutan
16. Purwajaya
17. Sarilamak
18. Katinggian
19. Talago
20. Tarantang Lb. Limpato
21. Solok Bio-Bio
22. Harau
23. Gunung Sanggul

Guguak
1. Siamang Bunyi
2. Taratak
3. Kubang
4. Simpang Sugiran
5. Sei.Talang Timur
6. Sei.Talang Barat
7. Kuranji
8. Tiakar
9. Guguk
10. Kubang Tungkek
11. Ompek Diateh
12. Balai Talang
13. Talago
14. Tanjung Jati
15. Ampang Gadang
16. Padang Japang
17. Koto Kaciak
18. Padang Kandis
19. Sipingai

Mungka
1. Siamang Bunyi
2. Taratak
3. Kubang
4. Simpang Sugiran
5. Sei.Talang Timur
6. Sei.Talang Barat
7. Kuranji
8. Tiakar
9. Guguk
10. Kubang Tungkek
11. Ompek Diateh
12. Balai Talang
13. Talago
14. Tanjung Jati
15. Ampang Gadang
16. Padang Japang
17. Koto Kaciak
18. Padang Kandis
19. Sipingai

Suliki Gunuang Mas
1. Kurai
2. Suliki Barat
3. Suliki Timur
4. Suliki Selatan
5. Limbanang Koto Nan Bunta
6. Limbanang Jurai Tangah
7. Anding
8. Sei Rimbang Timur
9. Sei Rimbang Barat
10. Tanjung Bungo

Bukit Barisan
1. Koto Tangah
2. Koto Tangah Barat
3. Banjar Laweh Gadang
4. Banjar Laweh Ketek
5. Banjar Laweh Timur
6. Guntung
7. Tigo Sakato Mahek
8. Paruso Mahek
9. Ronah Mahek
10. Koto Tinggi
11. Nenan
12. Sei Naning Selatan
13. Kampuang Baru
14. Sei Naning Utara
15. Baruh Gunung Barat
16. Baruh Gunung Selatan
17. Baruh Gunung Utara

Gunung Mas
1. Pandam Gadang Timur
2. Pandam Gadang Tangah
3. Pandam Gadang Barat
4. Talang Anau
5. Koto Tinggi Selatan
6. Koto Tinggi Tangah
7. Pua Data
8. Koto Tinggi Barat

Kapur Sembilan
1. Koto Tuo
2. Tanjung Bungo Lolo
3. Koto Tangah
4. Lubuk Alai
5. Muara Paiti
6. Pulau Sialang
7. Simpang
8. Kampung Baru
9. Pelayangan
10. Parik Rantang
11. Sialang Bawah
12. Sialang Ateh
13. Ronah Bengkek
14. Lubuk Koto
15. Kayu Gadang
16. II Koto Gelugur

Pangkalan Koto Baru
1. Pantai Cermin
2. Manggilang
3. Pangkalan Selatan
4. Pangkalan Tengah
5. Pangkalan Timur
6. Pangkalan Utara
7. Banjarranah
8. Tanjung Medan
9. Bukik Talau
10. Batu Kajang
11. Sei Pimping
12. Tanjung Balik
13. III Koto Tanjung Pauh

Kanagarian di Kab. Limapuluh Kota
1. Ampalu
2.  Andaleh
3.  Banda Dalam
4.  Bania Laweh
5.  Balai Panjang
6.  Batu Balang
7.  Batu Hampa
8.  Batu Payuang
9.  Batu Sikumpa
10. Baruah Gunuang
11. Bukik Limbuku
12. Bukik Sikumpa
13. Durian Tinggi
14. Galugua
15. Guguak VIII Koto
16. Gunuang Malintang
17. Gurun
18. Halaban
19. Harau
20. Jopang Manganti
21. Koto Alam
22. Koto Bangun
23. Koto Baru Simalanggang
24. Koto Lamo
25. Koto Tangah Bukik Barusan
26. Koto Tangah Batu Hampa
27. Koto Tangah Simalanggang
28. Koto Talago
29. Koto Tinggi
30. Koto Tuo
31. Kubang
32. Kurai
33. Labuah Batingkok
34. Labuah Gunuang
35. Ladang Laweh
36. Limbanang
37. Lubuak Alai
38. Mahat
39. Manggilang
40. Muaro Paiti
41. Mungka
42. Mungo
43. Pauah Sangit
44. Pandam Gadang
45. Pangkalan
46. Pilobang
47. Piobang
48. Sarilamak
49. Sariak Laweh
50. Sialang
51. Simalanggang
52. Simpang Kapuak
53. Simpang Sugiran
54. Sitanang
55. Situjuah Batua
56. Situjuah Godang
57. Suaian
58. Suliki
59. Sungai Balantik
60. Sungai Baringin
61. Sungai Kamuyang
62. Sungai Naniang
63. Sungai Rimbang
64. Sungai Talang
65. Solok Bio bio
66. Taeh Baruah
67. Taeh Bukik
68. Talang Anau
69. Talang maua
70. Tanjuang Aro
71. Tanjuang balik
72. Tanjuang Pauah
73. Tanjuang Godang
74. Taram
75. Tarantang
76. Tigo batu Padang Barangan
77. Tungka

Kabupaten 50 Kota

MENURUT tukang kaba, sebutan dalam bahasa Minangkabau bagi penutur cerita,
dalam salah satu tambo-cerita historis tentang asal-usul dan silsilah nenek
moyang orang Minangkabau-di Sumatera Barat terdapat sebuah kerajaan
Pariangan yang dipimpin oleh Datuak Bandaryo Kayo. Ia memiliki saudara
seayah bernama Datuak Ketumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Suatu
hari, kedua saudara ini bertemu Datuak Bandaryo Kayo guna membicarakan
masalah kepadatan penduduk di kerajaan tersebut. Dalam pertemuan itu
disepakati untuk memindahkan sebagian penduduk kerajaan ke daerah permukiman
baru.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan dijadikan permukiman baru,
mulailah pemindahan sebagian penduduk ke tiga arah yakni Utara, Barat, dan
Timur. Daerah permukiman baru di sebelah Barat kemudian diberi nama Luhak
(daerah) Agam. Daerah sebelah Timur dinamakan Luhak Tanah Datar. Sementara
itu, Datuak Sri Maharajo Nan Banego memimpin 50 orang menuju ke arah utara,
daerah Payakumbuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Luhak Limo Puluah
yang dalam perkembangannya menjadi Kabupaten 50 Kota. Untuk mengenang
sejarah asal-usul nama kabupaten ini, pada lambang daerahnya kemudian
dicantumkan angka 50.
Kabupaten 50 Kota terletak di bagian timur wilayah Provinsi Sumatera Barat
atau 124 km dari Kota Padang, ibu kota provinsi. Luas wilayahnya 3.354,30 km
persegi, terbagi dalam delapan kecamatan dengan 180 desa dan 505 dusun.
Payakumbuh, ibu kota Kabupaten Limapuluh Kota dapat dicapai dalam waktu
setengah jam dengan mencarter taksi dari Bukittinggi yang berjarak 33 km.
Jumlah penduduk kabupaten ini sekitar 311.000 orang. Pendapatan per kapita
tahun 1999 daerah yang menjadi salah satu cikal bakal ranah Minang ini
besarnya Rp 4,8 juta, di atas rata-rata Sumatera Barat yang mencapai Rp 4,5
juta.

Dari jumlah penduduk tersebut, pada tahun 1999 terdapat sekitar 70 ribu
orang yang masuk dalam kelompok umur di bawah 10 tahun. Menurut data yang
dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat bulan Juli 2000, di
kabupaten ini masih terdapat 273 balita yang menderita gizi buruk dan kurang
energi protein (KEP).
Jika tidak menyaksikan sendiri keadaan desa-desa di kabupaten ini, sulit
mempercayai bahwa di kabupaten penghasil gambir (Uncaria gambir) terbesar di
Indonesia, masih ditemukan balita bergizi buruk dan KEP. Di pelosok Desa
Mahat Kecamatan Suliki Gunung Mas umpamanya, masih dijumpai rumah penduduk
yang beralaskan tanah dengan dinding kayu. Padahal sejak ditemukannya
batu-batu menhir, peninggalan kebudayaan megalitikum, pada tahun 1981 Desa
Mahat masuk dalam salah satu obyek wisata dari 73 obyek wisata yang
ditawarkan kabupaten ini.
Meskipun hanya berjarak 44 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari
Payakumbuh, daerah ini seakan terisolasi karena tidak dilalui kendaraan
umum. Mobil yang digunakan untuk menuju Desa Mahat harus menggunakan double
gardan, karena selepas jalan beraspal kasar yang hanya sekitar dua km,
selebihnya berupa jalan tanah berbatu-batu dan berlubang besar di sana-sini.
Yang lebih menyusahkan, jalanan mendaki dengan tikungan-tikungan curam.
Bibir jurang yang dalamnya kurang lebih 500 meter di sebelah kiri nyaris
tidak tampak karena tertutup ilalang dan pohon-pohon. Tidak ada pengaman
atau tanda apa pun di bibir jurang itu sebagai tanda bagi para pengendara
mobil agar berhati-hati.

Dari lokasi kumpulan batu menhir yang ditumbuhi rerumputan tinggi, jika
memandang ke bukit di bawahnya, dapat disaksikan tanaman gambir yang tertata
rapi. Pemandangan itu mengingatkan orang pada panorama perkebunan teh di
daerah Puncak, Jawa Barat.
Luas tanam perkebunan gambir di Kabupaten Limapuluh Kota mencapai 12.495
hektar atau 78 persen dari luas tanam perkebunan gambir se-Sumatera Barat.
Pada tahun 2000, dari total produksi gambir Sumatera Barat sebesar 9.071
ton, sekitar 89 persennya merupakan hasil produksi gambir dari kabupaten
ini. Di pasaran, harga jual satu kg gambir setara dengan satu dollar
Amerika. Jadi naik turunnya harga gambir mengikuti naik turunnya nilai
rupiah terhadap dollar.
Gambir bersama dengan karet, semen, dan kayu lapis termasuk dalam 10
komoditas utama ekspor Sumatera Barat. Untuk ekspor, gambir dikirim melalui
Medan, sedangkan untuk pasaran dalam negeri dikirim ke Jakarta. Tanaman
gambir mengandung zat katechine dan tanin, yang digunakan sebagai bahan baku
industri farmasi, kosmetik, penyamak kulit dan industri batik. Volume ekspor
gambir Provinsi Sumatera Barat tahun 2000 besarnya 1.339.860 kg. Nilai
ekspor komoditas yang diekspor ke India, Singapura, dan Pakistan ini
1.808.503 dollar Amerika.

Meskipun gambir-salah satu komoditi perkebunan-menjadi produk andalan
Kabupaten Limapuluh Kota, namun yang menjadi tulang punggung perekonomian
kabupaten ini adalah tanaman bahan makanan. Perkebunan dan tanaman bahan
makanan, keduanya tergolong dalam sektor pertanian, menjadi penyumbang
kegiatan ekonomi utama kabupaten ini. Tahun 1999 nilainya mencapai Rp 498
milyar, atau setara dengan 33 persen dari total kegiatan ekonomi yang
besarnya Rp 1,5 trilyun. Sumbangan komoditas tanaman bahan makanan seperti
padi cukup besar terhadap kegiatan ekonomi. Tahun 1999 dihasilkan 211.958
ton padi atau setara dengan 184.835 ton gabah kering giling, yang diperoleh
dari 42.072 hektar luas panen. Dari gabah kering giling tersebut kemudian
diperoleh 94.265 ton beras. Produksi beras ini masih surplus 50.675 ton,
karena kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota besarnya 43.590
ton.
(BE Julianery/ Litbang Kompas)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke