Assalaamu 'alaikum Wr.Wb. Mungkin memang sedikit sekali orang minang yang tidak pernah mengecap rasanya merantau. Saya adalah salah satu yang Allah takdirkan untuk hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Lahir di Bukittinggi - Sumatera Barat, kecil di Jakarta, tetapi sempat merasakan kehidupan 5 tahun lamanya sekolah di kota kelahiran, sebelum kembali ke Jakarta untuk menamatkan SMA. Kuliah di Surabaya dan berencana untuk bekerja di sana, tetapi nasib membawa saya bekerja di Jakarta, dan selanjutnya selama 4 tahun terakhir ini, saya harus hidup merantau ke tanah Jepang.
Ada satu hal yang menarik untuk saya cermati pada prilaku merantau orang minang ini. Sepertinya ada kecenderungan bagi orang minang untuk kembali ke kampung. Baik itu untuk sesekali pulang, maupun menghabiskan masa tua untuk beribadah di kampung halaman. Saya mungkin salah satu di antara orang yang merasakan hal yang serupa. Sekalipun tidak banyak waktu yang saya habiskan di kampung halaman, tetapi seperti ada yang selalu memanggil-manggil untuk pulang. Ada sesuatu yang dirindu dan membuat diri ini tidak tahan berlama-lama tidak menjenguk negeri tercinta itu. Entah dari mana rasa cinta itu datang, yang jelas, sayapun ingin selalu pulang dan berniat menghabiskan hari tua saya dikampung halaman, seperti impian para "dunsanak" yang telah lama merantau. 2 tahun terakhir ini, saya tetap menyempatkan diri untuk pulang ke Kampung halaman, setiap pulang ke Indonesia. Beberapa bulan yang lalupun, walaupun hanya 3 hari, saya tetap memaksa pulang untuk "malapeh taragak". Belum ada buku yang saya baca terkait dengan prilaku merantau dan "takana jo kampuang" ini. Tetapi hal ini adalah salah satu potensi yang ingin saya bahas. a. Bak Tumbuhnya Jamur di musim hujan Walaupun hanya pendapat dan pengamatan pribadi. Banyaknya rumah mewah yang dibangun di setiap sudut kampung, adalah sebuah parameter yang memperkuat analisis saya. Pulang kampuang kemarin ini, benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala melihat perobahan kota bukittinggi dan sekitarnya yang begitu cepat. Rumah baru dan bagus bertebaran di mana-mana, bak tumbuhnya jamur di musim hujan. Saya bahkan sempat masuk ke kampung-kampung di sekitar padang luar. Sukar sekali rasanya melihat rumah reot di pelosok-pelosok kampung. Sekalipun hanya dihubungi oleh jalan yang sempit, tetapi hal itu tidak membuat kurangnya animo orang untuk membangun rumah yang cantik sekalipun mungil. Kita tidak perlu bercerita bagaimana kondisi belakang balok, tangah sawah apalagi daerah yang disebut "tangah jua", yang sudah seperti rumah-rumah di pondok indah saja layaknya. Dari mana pembangunan yang pesat itu berasal..? Kalau menurut analisis bodoh saya, kebanyakan berasal dari dana orang rantau yang ingin punya rumah bagus di kampung. Konon kabarnya, uang yang masuk ke sumatera barat setiap tahunnya, lebih besar dari APBD propinsi itu sendiri. Walaupun ada, tapi sepertinya sangat sedikit rumah yang dibangun sebagai hasil bekerja orang-orang yang tinggal di kampung halaman. b. Aman dan Damai Kalau diambil rata-rata, mungkin saya pulang kampung setiap 2-3 tahun sekali. Walaupun tidak bisa dikatakan cukup rutin, tetapi saya sempat mengamati kondisi negeri ini dari masa sebelum resesi, terjadinya resesi, dan pasca resesi. Kesan yang timbul adalah: kondisi gonjang-ganjiing di luar, tidak banyak mempengaruhi ketenangan dan keamanan negeri. Kakak saya sempat membuat kesimpulan, bahwa masyarakat pedagang sangat membutuhkan suasana yang tentram dan nyaman, karena terisi atau tidaknya perut, sangat dipengaruhi oleh buka dan tidaknya pasar, serta ada tidaknya yang membeli. Berbeda dengan pekerjaan sebagai pegawai, baik pegawai pemerintah maupun karyawan swasta. Gangguan yang menyebabkan terhentinya kegiatan ekonomi, tidak langsung berpengaruh kepada orang yang memiliki pendapatan berupa gaji rutin setiap bulan. Cukup mengherankan memang. Masa resesi di mana harga-harga sedemikian mahal pun, tidak menyebabkan goncangnya kondisi masyarakat di sana. Sekalipun harga-harga memang bergerak naik, tetapi kehidupan masyarakat terlihat tenang-tenang saja. Memang sih, observasi saya hanya di Bukittinggi dan sekitarnya saja, tetapi koran yang saya bacapun jarang memunculkan kesengsaraan atau keributan di Sumatera Barat. Mungkin salah satu penyebabnya adalah adanya pendapatan cadangan dalam bentuk "pitih dari rantau". c. Perputaran roda ekonomi Membandingkan bukittinggi sekarang dengan beberapa tahun yang lalu, terasa sekali kemudahan yang saya peroleh dari fasiltias perbankan. Menurut berita yang saya dengar. Bukittinggi adalah salah satu tempat dengan pertumbuhan bank syari'ah paling pesat. Cerita dari saudara saya yang sempat melakukan penelitian, salah satu pemicu yang paling dominan adalah besarnya perputaran uang di pasar Aur Kuning. Walaupun tidak sempat melihat, menurut kabar, pasar tersebut sekarang telah dikelilingi banyak sekali bank.Angka yang saya terima mengenai besarnya transaksi harian di pasar ini, cukup membuat saya berdecak kagum. Kalau tidak salah puluhan miliar (sekitar 70) transaksi yang terjadi setiap hari. Sayang saya tidak memiliki data yang pasti. Tetapi pengaruh transaksi pasar "tanah abang"-nya Bukittinggi ini, memang berpengaruh besar kepada kemakmuran masyarakat. Bisa dibayangkan besarnya pendapatan atas pajak yang bisa dinikmati pemerintah daerah, dan berapa banyaknya industri rumah tangga yang tumbuh dari "demand" yang dihasilkan pasar ini. Analisis yang saya dengar bahwa, daerah Riau-Pekanbaru lah yang lebih merasakan manfaat dari keuntungan transaksi ini. Banyak investasi sebagai hasil keuntungan perdagangan yang mengalir ke propinsi tetangga. Daerah Padang, Padang Panjang maupun Payakumbuh kurang bisa merasakannya. Keberadaan lapangan terbang internasional yang baru sebagai pengganti tabing nantinya, mungkin akan bisa memberikan pengaruh terhadap mengalirnya uang ke padang. d. Berkah dari perdagangan. Nampaknya, Bukittingi akan bisa lebih cepat berbenah. Ini mungkin sangat terkait dengan bagaimana kearifan dan kesungguhan pemerintah daerah mengelola dana yang sedemikian besar itu. Ibu yang banyak bekerja sosial seperti yayasan bundo kanduang, pos yandu dan lain-lain, konon telah memperoleh tunjangan untuk kegiatan tersebut. Jabatan seperti ketua RT pun, konon telah atau akan memperoleh gaji bulanan. Kabar lain yang beredar adalah akan dibongkarnya pasar atas dan akan berobah menjadi mezanin. Saya termasuk orang yang menganggap ide ini ide cemerlang. Sepertinya, banyak sekali kota-kota besar dunia yang memiliki taman indah di tengah-tengahnya. Sebutlah NY, Paris, Tokyo, Sidney dan lain-lain. Yang paling mengesankan buat saya adalah Washingthon D.C. Saya jadi suka membayangkan areal sepanjang kebun binatang jam gadang itu seperti taman yang terbentang antara Gedung Capitol dan tugu (Jefferson). Tentu akan sangat menyenangkan kalau ada taman yang indah dan bagus, berikut tempat duduk-duduk di sekitarnya. Acara menunggu suara sirine jam Gadang saat berpuka puasa pun akan terasa menyenangkan. Lalu, ada areal terbuka tempat mengadakan pertunjukan bebas dengan memanfaatkan areal sekitar kampuang cino, tugu pahlawan tak dikenal, tri arga , novotel sampai ke benteng. Berita akan dibangunnya pusat pemerintahan yang bagus di daerah panorma baru juga saya jadikan paramter bahwa negeri ini memang "punya uang". (bersambung) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

