Assalaamu'alaykum wr wb Sebetulnya bagi saya inti diskusi masalah ini bukannya ingin berdebat apakah orang selain Muslim masuk surga atau tidak, tetapi saya kira ada beberapa poin yang bisa kita dapatkan: 1. Dengan mengetahui ayat-ayat Allaah dalam Al-Qur'an mengenai orang- orang selain Islam kita makin bertambah keyakinan bahwa hanya dengan Islamlah kita bisa selamat nanti terutama di akhirat. Akhir-akhir ini saya melihat banyak orang Islam yang merasa bahwa keyakinan yang dimilikinya salah dan merasa rendah diri, yang diakibatkan propaganda- propaganda bahwa Islam adalah agama teroris dan sebagainya. Saya beberapa bulan ini memberikan lecture kepada orang Jepang di dekat rumah (20-30 orang) mengenai Islam secara berseri (rencananya 6 seri, sudah selesai 5). Saya ceritakan mengenai apa itu Islam, sejarahnya, cara hidup orang Islam, konsep jihad dan kontra konsep clash of civilization. Orang Jepang pun karena di TV dan korannya membaca yang jelek-jelek tentang Islam memiliki image yang tidak begitu baik tentang Islam. Tetapi karena saya memiliki keyakinan terhadap kebenaran Islam, saya Alhamdulillaah bisa menceritakan tentang Islam dari sisi yang lain, agar mereka bisa menghilangkan image yang tidak baik tersebut. Saya tidak yakin bisa menyampaikan Islam seperti itu kalau saya tidak memiliki keyakinan terhadap kebenaran Islam. Ini mungkin yang disebut sikap Optimis itu (optimis terhadap kebenaran Islam).
2. Selanjutnya kita akan proaktif menjaga keluarga kita, anak-anak kita, saudara-saudara dan teman-teman kita agar jangan sampai menjadi orang-orang yang diancam Allaah SWT di dalam kitab-Nya. Kalau seseorang memiliki keyakinan bahwa semua agama itu sama, tentunya dia akan membiarkan jika salah seorang anaknya mengatakan bahwa dia ingin masuk ke agama yang lain atau menikah dengan orang yang berkeyakinan lain. Keyakinan yang saya miliki mengenai kebenaran Islam insya Allaah tidak akan membuat saya bersikap seperti itu. Bahkan orang seperti Nurcholish Madjid sendiri pun yang memiliki pendapat bahwa pernikahan lintas agama boleh tetap meminta kepada calon menantunya yang beragama Yahudi untuk masuk Islam ketika anak perempuannya mau menikah dengan orang itu, karena sebetulnya dia tahu akan kebenaran Islam dan tanggung jawabnya terhadap anaknya. 3. Terakhir, keyakinan yang kita miliki terhadap kebenaran Islam akan mendorong kita untuk menyelamatkan orang-orang yang diancam Allaah SWT dengan cara mengajak mereka kepada kebenaran yang telah disampaikan Allaah SWT kepada Rasul-Nya, bukannya mengeliminir dan memusuhi mereka. Pada tafsir Ibnu Katsir yang saya baca dijelaskan juga bahwa ayat Al-Baqarah 62 tersebut sebetulnya menunjukkan bahwa Waraqah bin Naufal (Saudara Khadijah R.A.) yang didatangi Rasulullaah SAW ketika beliau menerima wahyu pertama, adalah golongan orang Nasrani yang beriman kepada Allaah dan Nabi-Nya (bukan mengimani Isa A.S. sebagai anak Tuhan) adalah orang yang dimaksud dalam ayat tersebut. Saya tidak tahu tentang pendeta Buhairah, tetapi kalau dia seperti Waraqah bin Naufal tersebut insya Allaah dia termasuk orang-orang yang dimaksud itu. Mengenai orang Nasrani yang tidak percaya kepada konsep trinitas misalnya, pada saat ini tentunya dia akan diminta untuk tidak sekedar percaya kepada Allaah sebagai Rabb, tetapi juga diminta untuk percaya kepada Allaah SWT sebagai satu-satunya yang disembah (Ilah). Demikian juga mungkin mengenai orang yang diceritakan YMZ pada mailnya yang lalu, jika memang dia mati dalam keadaan lebih cenderung ke keimanan kepada Allaah SWT, saya kira Allaah Yang Maha Penyayang akan membalasnya sesuai dengan keadaannya itu. Orang seperti itu mungkin telah memiliki start yang baik, dan sekarang adalah tugas kita sebagai seorang yang memiliki keyakinan terhadap kebenaran Islam untuk mengajaknya menjadikan Allaah SWT sebagai satu-satunya Ilah dan juga beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Tentunya kita tidak akan menyampaikan seperti apa yang didiskusikan dalam mail-mail di sini, tetapi perlu menyampaikannya dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka mau menerima kebenaran yang kita sampaikan. Diskusi di sini hendaknya diposisikan sebagai sarana untuk mengingatkan sesama Muslim, bahwa merekalah yang menerima kebenaran yang Allaah dan Rasul-Nya sampaikan, untuk memotivasi kaum Muslimin menyampaikan kebenaran itu kepada yang lain. Itu mungkin yang bisa saya sampaikan, saya berharap semoga diskusi mengenai topik ini bisa memotivasi kita mencapai tujuan-tujuan di atas, paling tidak buat saya sendiri. Wassalaamu'alaykum wr wb Muhammad Arfian --- In [EMAIL PROTECTED], "udrekh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalaamu 'alaikum Wr.Wb. > > Masalah ini juga cukup sering jadi bahan perdebatan, termasuk di masyarakat > jepang. Saya juga sempat ingin tahu dengan masalah ini dan bertanya ke > mana-mana. Jawaban yang saya peroleh pun variatif sekali. Seperti minggu > kemaren (pak Arfian juga hadir dalam pengajian dari ustadz Wafiudin) , > dijelaskan bahwa ayat tersebut memang memberikan penjelasan diterimanya > ibadah orang non muslim berdasarkan penjelasan ayat di surat Al Baqarah 62 > tersebut. 3 Kali saya mendapatkan penjelasan serupa dari beberapa ustadz. 2 > Ustadz yang lain seingat saya adalah ustadz Othman Shihab waktu beliau ke > Jepang tahun lalu. Satu orang lagi waktu saya pulang 1 bulan yang lalu. > > Penjelasan ustadz Wafiudin kemaren, bagi saya cukup memuaskan saya. > Kalau seandainya benar bahwa asbabun nuzul ayat itu adalah seperti yang > dijelaskan oleh hadits mengenai pertanyaan Salman Al Farisi R.A. mengenai > kaumnya di persia yang belum menerima da'wah dari Allah, tetapi menyembah > Allah sesuai keyakinannya dan berbuat baik. Waktu itu rasulullah mengatakan > "mereka masuk neraka". Tetapi turun surat tersebut yang mengkoreksi > pernyataan rasulullah S.A.W. Ustadz wafiudin juga menjelaskan secara > tatabahasa arab mengenai ayat tersebut dengan merujuk juga dari Tafsir Ibun > Katsir. > Saya sendiri sih hanya menelan bulat-bulat, karena belum saya cek > kebenarannya. Ooya, tetapi masalah apakah Agama lain benar..? Sampai saat > ini sih saya juga belum pernah mendengarkan definisi agama selain Islam itu > benar, dari para ustadz. > > Penjelasan seperti ini juga pernah dijelaskan teman saya berdasarkan rujukan > buku-bukunya Cak Nurkholis Majid (Paramadina) dan penjelasan dari Qurais > Shihab (kalau tidak salah). Pendekatannya juga cukup menarik, yaitu dari > penjelasan defenisi "Kufar" yang ada di Al Qur'an yang mengindikasikan bahwa > "Kafir pun bertingkat-tingkat" seperti halnya penjelasan ustadz Wafiudin > tersebut. Sehingga terjemahan seperti yang ada di surat 2:120 yang terkenal > itu. Ataupun 2:217 tidak bisa digeneralisir untuk seluruh orang non muslim. > Penjelasan ini juga mungkin bisa dilihat dengan merujuk kepada surat 5:82. > Wallahu 'alam. > > Kalau melihat kasus tokoh-tokoh kafir yang dilaknat Allah di Al Qur'an, saya > koq melihat modelnya ya seperti fir'aun atau abu lahab itu. Orang- orang yang > da'wah sudah sampai kepadanya, bahkan di dalam hatinyapun mengakui kebenaran > itu, tetapi dia membangkang bahkan melakukan permusuhan atau penindasan > kepada Rasulullah dan para pengikutnya karena kesombongannya. Atau paling > tidak, seperti anak dan istrinya nabi nuh, atau seperti pamarnya rasulullah > Abu Thalib. Saya juga belum menemukan penjelasan mengenai status orang > semisal pendeta Buhaira misalnya. (Ma'af, untuk paragraf ini, murni dari > pemikiran saya sendiri yang belum sempat saya tanyakan kepada yang memiliki > pengetahuan keislaman). > > Tapi penjelasan lainnya seperti dari eran muslim atau yang lain, juga bisa > memberikan visi yang berbeda. Wallahu'alam. Karena saya cuman orang bodoh > dalam Islam. Ya saya cuman menelan dan coba mencerna semua penjelasan > orang-orang yang punya kelebihan ilmu agama tersebut. > > Bagi saya, saya lebih tertarik kepada proses aktifnya ketimbang proses > pasifnya. Masalah mereka mau masuk surga dan neraka. Yah, biarlah itu > menjadi urusan Allah. Toh orang masuk surga atau neraka bukan karena amal > ibadahnya, tetapi karena kasih sayang Allah. Jadi biarkanlah kita serahkan > itu kepada kebijaksanaan Allah. Yang terpenting adalah bahwa kita hadir > untuk "Du'ats La Qudats" (kata sebuah buku yang juga dijelaskan oleh > seseorang kepada saya ). Kita hadir untuk menda'wahi, bukan mengadili. > Makanya saya juga sepakat dengan Ustadz Wafiudin untuk lebih bersikap > Inklusif-Optimistis, bukan eksklusif-Pesimistis (Mendakwahi, merangkul atau > mengajak, bukan mengeliminir dan memusuhi). Semoga kita dan mereka diberikan > petunjuk oleh Allah kedalam kebenaran, ke dalam al Islam. Amiiin. > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

