http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2420
Yusril Ihza Mahendra, Sukses Menaklukkan Ganasnya Ibukota:
* Tinggal di Masjid, Ngajar Ngaji dan
Oleh Redaksi, Kamis, 28-Oktober-2004, 06:54:35 86 klik

Di balik penampilannya yang modis dan terpelajar ternyata Mensesneg Kabinet
Indonesia Baru Yusril Ihza Mahendra memiliki cerita menarik saat pertama
kali menginjakkan kakinya di Jakarta. Pria kelahiran Desa Manggar,
Bangka-Belitung ini sempat bekerja serabutan dan tinggal dari masjid ke
masjid selama kuliah di UI.
August Susanto-Jakarta

SEBUAH mobil sedan Volvo mewah berwarna hitam tampak meluncur dari Kantor
Sekretariat Negara (Kantor Setneg). Di belakangnya tampak sebuah mobil jip
berwarna hijau yang ditumpangi para pengawal. Pada bagian belakang mobil
sedan tersebut tampak seorang pria berpakaian rapi tampak tersenyum dan
melambaikan tangan pada sekerumunan pengawal dan wartawan yang berada di
pintu keluar gedung kantor Setneg.

Pria berpakaian rapi tersebut tidak lain adalah Mensesneg Yusril Ihza
Mahendra. Pria yang selalu disapa dengan sebutan Yusril tersebut adalah
salah satu pembantu kepercayaan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sebelum dipercaya SBY sebagai menteri dalam kabinet Indonesia Bersatu,
sebenarnya Yusril juga pernah mengemban posisi menteri pada era Presiden
Megawati Soekarnoputri dan Presiden KH.Abdurrahman Wahid.

Namun, siapa sangka saat pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta,
pengagum tokoh politik nasional Muhamad Natsir sempat mengalami masa-masa
sulit. Pengalaman tersebut diceritakan dengan gamblang oleh Yusril saat
ditemui wartawan koran ini sebelum meninggalkan Kantor Setneg, kemarin.

Dengan menghela nafas panjang dan pandangan sedikit menerawang, Yusril
memaparkan pengalaman tahun pertamanya di Jakarta. "Saya sempat tinggal di
masjid saat pertama kali tiba di Jakarta ini," urai alumni FH UI tersebut
memulai pebicaraan.

Selama tahun pertama Yusril berkuliah di FH UI kondisinya dapat dikatakan
agak mengenaskan. Bagaimana tidak, selama masa itu Yusril muda harus rela
tidur di lantai masjid yang lembab dan dingin. Tidak hanya itu, selama tahun
pertama berkuliah di UI, Yusril dapat dikatakan tidak memiliki alamat tetap.
Sebab, Yusril sering sekali berpindah-pindah masjid.

"Ada banyak masjid yang dulu sempat saya tinggali, mulai dari Masjid
Al-Ahzar (Kebayoran Baru, red.) hingga masjid-masjid di Kawasan Bendungan
Hilir," terangnya. Salah satu alasan Yusril tinggal di Masjid tersebut
adalah untuk memenuhi nasihat Ibundanya Ny. Nursiha Sandon sebelum merantau
ke Jakarta.

Tidak hanya itu, selama berkuliah di UI, Yusril juga sempat bekerja
serabutan. Upaya tersebut dilakukan agar Yusril dapat tetap berkuliah dan
bertahan hidup di Jakarta. Yusril menjelaskan berbagai pekerjaan sempat
digelutinya selama berkuliah di UI. Mulai dari mengajar hingga berjualan
ikan di pasar. "Saya sempat menjalaninya," tukasnya dengan nada meyakinkan.

Diceritakan, pada tahun pertamanya berkuliah di Jakarta dirinya sempat
mengajar. Yusril yang saat itu tinggal di Masjid Al-Azhar lebih banyak
mengajarkan ngaji dan bela diri kepada para jemaah masjid tersebut. Dan,
hasilnya ternyata cukup lumayan. Setidaknya hasil mengajar itu membuat
Yusril muda tetap dapat hidup dan berkuliah di Jakarta.

Disamping itu, Yusril juga mengungkapkan sejak tahun pertama berkuliah
dirinya juga akrab dengan salah satu Guru Besar UI yang sekaligus juga
merupakan tokoh Masyumi yakni Prof. Dr. Usman Raliby. Usman inilah yang
kelak akan menjadi mentor yang menuntun Yusril untuk bergaul dan berguru
dengan tokoh politik Masyumi.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah melakukan berbagai konsultasi
dengan keluarganya yang berada di Bangka-Belitung, Yusril mulai melakukan
berbagai pekerjaan lain. Kepada koran ini Yusril mengaku bahwa dirinya
sempat berjualan ikan dan kelapa selama berkuliah di Jakarta.

"Yah, memang tidak setiap hari saya berjualan ikan, tapi saya sempat
mengalaminya," terangnya. Berbagai macam ikan dijual Yusril kala itu. Mulai
dari ikan-ikan segar hingga ikan asin yang tahan lama disimpan. "Saya
membawanya sendiri ke pasar," tukas pakar hukum tata negara tersebut.

Demikian halnya saat Yusril berjualan kelapa. Menurut Guru Besar Hukum UI
tersebut kelapa yang dijualnya berasal dari seorang kawannya yang tinggal di
Kalimantan. "Kelapa-kelapa tersebut didatangkan dari Kalimantan. Saya yang
menjualnya disini," terangnya sambil memasukkan tangan kanannya dalam saku
celana.

Meski didera berbagai kesulitan, namun tekad Yusril untuk menaklukkan Ibu
Kota Jakarta ini tidak surut. Yusril yakin, di Jakarta ini dirinya juga akan
mencicipi pengalaman manis. Termasuk diantaranya adalah bertemu dengan Tokoh
Masyumi Moh. Natsir yang dikaguminya sejak kecil. "Pak Usman-lah yang
membawa saya untuk bertemu dan berkenalan dengan Moh. Natsir," katanya.

Berbagai pengalaman di Jakarta tersebut ternyata membuat pria kelahiran
Manggar, Bangka Belitung 5 Februari 1956 ini kian matang. Setelah tujuh
tahun berkuliah, Yusril akhirnya meraih gelar kesarjanaannya tahun 1983.

Setelah tamat dari UI, bintang Yusril kian cemerlang. Yusril pun menempuh
pendidikan Pasca Sarjana di UI dan University of Punjab, Pakistan. Sebelum
masuk dalam kancah politik nasional, Yusril sempat bekerja di Sekretariat
Negara untuk membuat naskah pidato Presiden Soeharto kala itu. Selama 2
tahun bekerja Yusril setidaknya telah menulis 204 naskah pidato bagi mantan
orang kuat Indonesia tersebut.

Nama Yusril sendiri mulai mengemuka saat akan lengsernya Presiden Soeharto
21 Mei 1998. Bersama tokoh-tokoh reformasi lainnya seperti Amien Rais,
Yusril mempelopori lahirnya reformasi. (***)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke