Pembelajaran Politik dari PKS

Abu Hanifah

SUATU pembelajaran keteladanan dalam kehidupan politik
telah digelar di depan mata masyarakat Indonesia.
Sifat tidak serakah dengan jabatan dipertontonkan oleh
Hidayat Nur Wahid (HNW), pemimpin lembaga tinggi
negara (Ketua MPR) masa bakti 2004-2009. Tanpa
berpikir panjang dan dengan hati yang ikhlas, sebuah
jabatan presiden organisasi partai politik dilepas.
Sebab, ia diberikan amanah pada sebuah jabatan publik,
Ketua MPR-RI. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah
memberikan pembelajaran dalam kehidupan politik di
Tanah Air. 

Pada dekade lalu, sering kita melihat orang memangku
berbagai jabatan sekaligus. Apakah itu jabatan di
organisasi atau lembaga negara yang adalah jabatan
publik. Sebagai ketua umum sebuah parpol, juga
merangkap sebagai pimpinan lembaga negara. Apakah itu
sebagai presiden, wakil presiden, menteri, Ketua
MPR-RI maupun ketua DPR-RI. 

Akibatnya, di dalam masyarakat sering terjadi
kerancuan. Orang tersebut berbicara sebagai ketua umum
partai politik, atau sebagai pimpinan lembaga tinggi
negara. Tidak jelas, pada saat yang sama kedatangannya
ke suatu daerah sebagai ketua umum atau pimpinan
lembaga negara. Sementara itu, pimpinan daerah
memberikan sambutan begitu meriah. Ini karena yang
bersangkutan memegang dua jabatan bergengsi. Sebagai
ketua umum partai politik, sekaligus pejabat publik
atau pimpinan lembaga negara. 

Ketika lima hari menjelang Ramadhan, Ketua MPR-RI
terpilih walaupun hanya selisih 2 suara, Hidayat Nur
Wahid, melakukan sebuah terobosan yang sangat
menyejukkan hati masyarakat. Sebagai Presiden Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) ia meletakan jabatannya. Dia
sangat tahu dan mengerti tidaklah mungkin mendayung
dua perahu sekaligus. Itu bukanlah sebuah pekerjaan
gampang. Daripada dua perahu tidak terkendali, lebih
baik satu perahu diberikan nakodanya kepada orang
lain. 

Di sinilah terlihat, kerendahan hati, kesabaran,
keberanian melakukan terobosan. Menghindari kerakusan,
egoisme dan ketamakan. Menahan diri dari godaan adalah
sebuah ujian berat. Tetapi, tradisi telah dilakukan
untuk kesekian kalinya oleh partai politik itu.
Gerakan itu langsung menyentuh kehidupan berbangsa dan
bernegara atau dalam kehidupan perpolitikan nasional.

Sebuah keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dipertontonkan secara gamblang. Padahal,
partai itu pada Pemilu lalu tidak mampu melewati
Electoral Threshold (ET). Keteladanan yang sama pernah
dipertontonkan Presiden partai ini saat di pimpin
Nurmahmudi. Tanpa basa basi, Nurmahmudi mengundurkan
diri dari jabatan Presiden Partai. Karena pada saat
yang sama diangkat sebagai Menteri Kehutanan dan
Perkebunan di era Presiden RI Abdurachman Wahid.
Masyarakat mencatat hal itu. Akhirnya, pada Pemilu
2004 pilihan rakyat, diberikan kepada PKS. Tanpa
diduga, mereka (PKS) dengan tajam menaikan perolehan
kursinya di DPR-RI.

Dari proses perjalanan perpolitikan di negara yang
kita cintai. Jelas tergambar bahwa rangkap jabatan
sering menimbulkan kerancuan atau konflik kepentingan
(conflict of interest). Saat bersamaan, apabila
seorang melakukan tugas sebagai Pimpinan Lembaga
Publik, pada sisi lain terdapat tugas yang tidak
terelakan untuk kepentingan organisasinya. Kasat mata,
hal tersebut sering terjadi di depan kita. Saat
menjelang Pemilihan Presiden. 

Sering seorang pejabat publik melakukan tugas
kenegaraan sebagai pimpinan lembaga negara. Tetapi,
hampir bersamaan tugas sebagai ketua umum partai
politik dilakukan juga. Sekali mendayung, dua tiga
pulau terlampaui. Atau sering kita dengar di dalam
masyarakat, dengan istilah aji mumpung. Mumpung sedang
menjabat, kenapa tidak, biaya untuk urusan partai
ditanggung oleh negara. Toh tugas kenegaraan ke sebuah
daerah akan dijalankan juga. 

Manusia-manusia yang berpikiran seperti itulah harus
dikikis dari Republik Indonesia. Mereka memanfaatkan
fasilitas negara. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)
secara tidak langsung berawal dari hal seperti itu,
sampai sekarang masih dan terus berlangsung di bumi
pertiwi.

Potensi Curang

Semangat memisahkan jabatan publik dengan jabatan
partai pada negara lain sudah didengungkan Winston
Churchill. Pada saat menduduki jabatan publik atau
mengabdikan dirinya untuk negara, maka usai sudahlah
tugasnya sebagai pimpinan partai. Seseorang yang
melakukan jabatan rangkap punya potensi untuk
menyalahgunakan fasilitas negara. 

Namanya kecurangan, itu akan terjadi apabila ada
kesempatan. Apalagi kalau jabatan tersebut dipegang
oleh seorang yang tidak berahklak dan tidak bermoral.
Sering para pejabat negara yang sedang melaksanakan
tugas, juga memanfaatkan fasilitas negara. Masyarakat
awam sering merasakan hal tersebut.

Kenapa kita tidak pernah belajar dengan seorang
sahabat nabi. Umar bin Khatab. Sebagai seorang
khalifah tidak mau menggunakan fasilitas negara. Suatu
malam anak tercinta datang di ruang kerjanya. Sang
anak ditanya "urusan negara atau urusan keluarga".
Anak menjawab bahwa ia mendatangi orang tuanya untuk
urusan keluarga. Setelah mendengar jawaban tersebut,
Umar langsung mematikan lampu penerangan. 

Kemudian dia berkata: "Lampu ini di biayai oleh
negara. Oleh karena itu, kalau urusan keluarga tidak
boleh memakai fasiltas negara." Apakah cara hidup
sahabat nabi tersebut dapat menjadi teladan umat
manusia saat ini. Semuanya terpulang kepada diri kita
masing-masing dan mereka yang sedang menduduki kursi
empuk tersebut.

Dalam tinjauan regenerasi dan kaderisasi. Maka,
melepaskan sebuah jabatan karena sudah memegang
jabatan publik, merupakan kaderisasi kepada generasi
berikutnya. Apabila dua jabatan tersebut tetap
dipegang rangkap, berarti mereka secara paksa telah
mematikan proses regenerasi. Begitu juga bagi mereka
yang pernah memegang sebuah jabatan, misalnya sebagai
Ketua Umum Partai. 

Maka, kalau pada kongres berikutnya masih mau maju
untuk merebut kepemimpinan partai tersebut, berarti ia
telah menyumbat dan mematikan proses regenerasi.
Padahal, namanya partai dimana-mana selalu melakukan
kaderisasi untuk menyiapkan calon pemimpin. 

Begitu juga sebaliknya, kalau telah ditugaskan oleh
partai untuk memegang jabatan publik, alangkah baiknya
kalau dalam kongres berikut mendorong kader lain untuk
maju sebagai sebagai ketua umumnya. Bukan sebaliknya,
malah menyodorkan diri untuk dipilih sebagai calon
pemimpin. 

Hidayat Nur Wahid telah memberikan sebuah pembelajaran
kepada aktivis atau fungsionaris partai. Apabila masih
tetap memaksakan diri, berarti orang tersebut telah
menunjukan kerakusan dan ketamakannya serta menghambat
regenerasi. Seharusnya, partai mampu mencegah para
kadernya untuk tidak menduduki jabatan strategis
berkali-kali dan berlama-lama.



Bukan Segala-galanya 

Dalam kehidupan semua memerlukan jiwa besar.
Diperlukan seorang pemimpin yang tidak tamak dan rakus
akan jabatan. Jabatan bukan segala-galanya. Apalagi
sampai memegang jabatan rangkap Pengabdian tidaklah
harus dengan jabatan ketua umum. 

Orang yang mengejar-ngejar jabatan pasti mempunyai
kepentingan tertentu. Pada hal, generasi dibawah
sedang antri untuk melakukan regenerasi dalam upaya
belajar memegang tampuk pimpinan 

Keberanian untuk memisahkan jabatan ketua partai
dengan jabatan publik adalah budaya baru di republik
tercinta. Kita pun masih bertanya, apakah budaya ini
mungkin di-ikuti oleh organisasi partai politik lain.
Karena posisi-posisi rangkap tersebut sangat menggoda
iman. Sebab begitu besar legitimasinya, sanjungan,
kehormatan, fasilitas yang tersedia. 

Apabila tidak kuat imannya bisa tergelincir. .Apakah
iman dan moral manusia Indonesia sudah menempati yang
terbaik. Nabi Adam saja, masih tergoda oleh rayuan
setan untuk mencoba buah terlarang. Apalagi manusia
Indonesia, yang bukan malaikat.

Sebuah pendidikan politik telah digelar di bumi
pertiwi. Itu dilakukan oleh sebuah partai yang baru
seumur jagung. Pada Pemilu 1999 bernama Partai
Keadilan (PK). Pemilu 2004 berubah menjadi Partai
Keadilan Sejahtera (PKS). 

Walaupun pemain baru, mereka telah menunjukkan sebuah
partai yang dikelola secara manajemen modern. PKS
telah melihat jauh kedepan, bahwa, rakyat Indonesia
tidak ingin pemimpinnya yang tamak dan serakah berebut
jabatan, dan harta. 

Sebagai partai, mereka siap mendidik sebanyak mungkin
kadernya yang akan mengabdi untuk negara dan bangsa.
Partai adalah kawah candradimuka yang mempersiapkan
kader untuk menjadi pemimpin negara. Mereka tidak
kehilangan, tetapi malah menciptakan dan melahirkan
kader baru dan segar untuk memimpin partainya. Adalah
sebuah kewajaran apabila mereka telah memperoleh
dampak positif pada pemilu 2004. 

Perolehan suara mereka naik tajam dengan sangat
signifikan. Apabila partai lain tidak belajar dari
gerakan yang dilakukan PKS, bukan mustahil pada pemilu
2009 Partai Golkar dan PDI-P akan tersisih. Mereka
akan menurunkan peringkatnya sendiri. Karena sibuk
saling jegal dan memecat anggotanya karena berbeda
pendapat. Kemudian PKS akan menduduki urutan pertama
dalam perolehan suara pada pemilu 2009. 

Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik, staf
pengajar di Universitas Nasional



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke