Oleh Redaksi padang Ekspress

Melihat "pertikaiannya" dengan tradisi Ulakan yang bermazhab Syai'i, memang
tidak masuk akan mengatakan bahwa Daud muda telah menuntut ilmu agama Islam
di pusat tarekat Syattariyah itu. Akan tetapi penting untuk dicatat adalah,
bahwa pada masa belajar Daud muda itu di Minangkabau, khususnya di darek,
sedang terjadi apa yang disebut dengan "Gerakan Kebangkitan Islam yang
Pertama".

Gerakan itu muncul akibat semakin banyaknya orang-orang di sekitar Agam yang
memperoleh kesempatan pergi naik haji ke Mekah karena membaiknya hasil
pertanian. Mereka pulang dengan semangat agama yang baru dan segera melihat
banyak unsur bid'ah dalam praktek beragama masyarakatnya.

Pada masa itu pemikiran masyarakat Minangkabau masih disungkup kepercayaan
lama, klenik dan takhayul. Dalam pandangan kelompok orang muda yang kritis
ini, sikap tarekat Syattariyah Ulakan yang terlalu toleran dengan adat yang
telah berurat berakar dalam praktek keagamaan masyarakat Minangkabau harus
dihapuskan dan jika perlu diperangi. Seperti yang telah tercatat dalam
sejarah, keinginan yang radikal ini telah melahirkan gerakan Paderi tahun
1803, yang akhirnya berubah menjadi perang berdarah melawan Belanda.

Dan pada tahun-tahun berikutnya ajaran baru dari para haji reformis itu
mulai mendapatkan pijakan kuat dalam masyarakat darek. Acara sabung ayam
dengan taruhan, salah satu permainan orang Minang yang menurut catatan
selalu meramaikan gelanggang dalam setiap pesta adat, terus berlangsung,
begitu juga dengan kebiasaan makan sirih dan menghisap candu.

Akibatnya orang berpaling kepada para kaum ulama. Posisi yang menguntungkan
itu langsung dimanfaatkan oleh golongan ulama untuk memperkokoh posisinya
dalam masyarakat. Para ulama reformis menuduh bahwa dekadensi moral yang
meruyak dalam masyarakat disebabkan oleh tidak konsekwensinya penduduk
menjalankan syariat agama dan karena sebagian besar penduduk masih saja
mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan adat yang dianggap bertentangan dengan
Islam.

Oleh karenanya, mereka menyerukan agar masyarakat kembali pada parktek agama
yang "benar", menjauhi syirik, bid'ah, khurafat dan takhayul. Masyarakat
diajak meninggalkan dan memerangi kebiasaan-kebiasaan lama yang berlindung
di balik tameng adat.

Pada masa itulah datang seorang anak muda dari sebuah desa pantai (Sunur) ke
sebuah surau darek, wilayah dimana euforia, "pemurnian agama" sedang
merebak, lira-kira pada tahun 1816 usia anak muda itu ditaksir tidak lebih
dari 20-an tahun. Hidup dalam lingkungan surau yang dipimpin oleh para guru
mengaji berhaluan baru itu tentu akan mempengaruhi cara berpikir para
muridnya. Dapat diduga Daud muda dan teman-temannya telah mendapat pengaruh
dari guru-gurunya yang berpikiran reformis.

Setelah selesai masa belajarnya di darek, daud muda kembali ke kampungnya di
Sunur. Peristiwa itu terjadi mungkin pada parih kedua dasawarsa 20-an abad
ke-19. Daud mungkin tidak begitu lama menghabiskan waktunya belajar di surau
darek.

Berdasarkan teks-teks karangannya dan informasi sumber-sumber lain terdapat
kesan bahwa Daud adalah seorang anak muda yang cerdas, tapi agak pendiam,
mempunyai bakat sastra, namun kurang pintar berbicara. Tampaknya dia juga
seorang pemuda yang kurang setuju dengan kekerasan phisik.

Murid dengan karakter pribadi seperti itu mungkin seorang yang tekun, dan
oleh karenanya cepat dalam menamatkan kaji (qhatam qur'an). Pada masa itu
seorang murid memang diharapkan oleh gurunya mau pulang kembali ke
kampungnya untuk mengajarkan ilmu yang telah dipelajarinya selama mengaji.
Ini sudah menjadi kebiasaan di surau-surau penting di Minangkabau. Daud muda
sekarang sudah punya bekal ilmu untuk mengajar sendiri di surau kampungnya.
(bersambung)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke