Assalamualaikum Dunsanak sadonyo.... Babarapo wakatu nan lalu sarupo biaso ambo mahabiskan wakatu di perpustakaan FKUI Salemba. Ditangah asiknyo mancari literatur Ilmu Bedah Ortopedi mato ambo tatumbuak jo buku nan alah baumua saparampek abad labiah. Adoh duo buku tu nan partamo buku nan bajudul "Sejarah & Perjuangan RSCM-FKUI" dan nan kaduo buku nan bujudul "125 tahun Pendidikan dokter di Indonesia 1851-1976" Nan manarik perhatian ambo dari duo buku tu adolah ado nyo peranan urang awak nan turuik sarato manggadangan Rumah sakik Cipto dan Fakultas kedokteran UI tuh. Jadi subananyo lai indak salah bagai doh kalau awak pernah talonsoang mangecek "Sato inyiak den manggadangan RSCM jo FKUI tu mah".
Di sela2 karajo bialah ambo ansu2 mangetik an isi buku tuh palanta ko (kalau lai indak adoh nan keberatan). Seratus dua puluh lima tahun pendidikan dokter Tujuh puluh lima tahun pertama Oleh: Prof. M.A. Hanafiah S.M Dalam tahun 1847 daerah Banyumas diganggu sangat oleh bermacam penyakit. Tenaga kedokteran bangsa Belanda saj tentu tidak mungkin memberantasnya. Maka dicari jalan bagaimana mempergunakan anak Bumiputra sendiri yang cukup banyak dan murah. Bermula kepada kepala-kepala desa akan diedarkan pedoman dalam bahasa Jawa dan Melayu tentang pencegahan penyakit dan petunjuk bagaimana mempergunakan jamu dan obat-obat yang tidak mahal. Ini dianggap tidak akan banyak menolong. Dr. W. Bosch Kepala Djawatan Kesehatan waktu itu mengusulkan supaya mendidik beberapa anak Bumiputra menjadi pembatu dokter Belanda. Dari pikiran ini lahirlah kemudian sekolah Dokter Jawa. Setelah matang dibicarakan, maka keluar keputusan Gubernemen tanggal 2 Januari 1849 No. 22. Dalam surat ini ditetapkan antara lain: Dirumah sakit militer akan dididik dengan percuma kurang lebih 30 pemuda Jawa, supaya menjadi dokter-pribumi dan �vaccinateur� (mantri cacar). Yang akan diterima adalah pemuda dari keluarga baik-baik, pandai menulis dan membaca bahasa Melayu dan Jawa. Selesai pendidikan, mereka harus bersedia masuk dinas Pemerintah sebagai mantri-cacar. Sesudah sebanyak mungkin belajar sendiri, juga dapat nantinya memberi pertolongan medis kepada penduduk daerahny sendiri. Mereka �yang menghendaki�, diberi gaji fl.15 sebulan dan gratis perumahan. Dalam surat keputusan tersebut pertama kali resmi dipergunakan kata �l�ve sebagai ganti kata murid. Kata tersebut mengecut menjadi klepek, sampai sekarang oleh mereka yang merindukan masa lampau masih dipakai untuk menunjuk seorang bekas murid Stovia, dokter atau bukan. Bermula pendidikan akan diadakan di 3 rumah sakit militer, di Weltevreden, Semarang dan Surabaya. Kemudian ditetapkan hanya di Weltevreden saja, terutama untuk menjaga keseragaman. Bulan Januari 1851, jadi 2 tahun sesudah surat keputusan di atas, sekolah dibuka dengan 12 murid. Kepala Jawatan Kesehatan ditugaskan menyelenggarakan dan mengawasinya. Untuk seluruh pendidikan ini termasuk gaji �l�ve dan pembelian alat disediakan anggaran belanja sebesar fl. 5400 setahun. Kepada murid diajarkan mencacar dan memberikan pertolongan jitu kepada orang menderita penyakit �panas dan sakit perut�. Bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar. Seorang dokter militer kl 1, P. Bleeker diangkat jadi Kepala sekolah dan dua dokter militer lain sebagai guru. Dalam tempo dua tahun lamanya bersekolah para murid harus menerima 17 mata pelajaran antara lain bahasa Belanda, berhitung, ilmu ukur, ilmu bumi, kimia, ilmu tumbuh-tumbuhan, fisika, ilmu urai tubuh, ilmu faal, ilmu penyakit, ilmu bedah dan lain-lain. Bagaimana mungkin anak-anak desa biasa, bukan lulusan sekolah dasar, sanggup mencernakan ini semua meskipun asasnya saja, menjadi pertanyaan besar. Dua tahun kemudian 11 orang dinyatakan lulus. Dengan surat keputusan Bubernemen tanggal 5 Juni 1853 No. 10, mereka diberi gelar Dokter Jawa, tapi dipekerjakan sebagai mantri-cacar. (basambuang kalau lai masih sempat....) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

