..sambungan....
> Pertanyaan berikutnya apakah pemahaman para Imam
> Mahzab terhadap nash-nash syarii---yang termaktub
> dalam kitab-kitab fikih keemapt mahzab besar
>---merupakan ketetapan yang lebih tinggi dari pada
> Al Qur'an dan Sunnah Nabi itu sendiri---sehingga
> merupakan kebenaran mutlak yang harus ditelan
> mentah-mentah?
> Atau mungkin saya yang persepsi?
..Memang iya , he he he he..
Ehh... bukan salah persepsi, tapi salah pengertian.
Begini Engku.
Al-Qur-an dan sunah Rasul Allah saw, berada di tempat
teratas. Lalu ?,... baa tu ?.
Aiii... apakah kita dapat memahami ayat-ayat Qur-an
itu langsung tanpa penjelasan ?. Kalau dapat,... yaa
sudah, jalankanlah.
Tapi Engku.
Ayat Qur'an tu ada yang muhkamat (terang artinya) dan
mutasyaabihaat (artinya, sering dipulangkan
saja pada Allah swt.) Jangankan ayat yang mutasyabih,
ayat yang Muhkamat saja, kalau orang itu bukan mufti,
atau bukan seorang peng-ijtihad, atau belum cukup
syarat untuh meng-ijtihad,... sulit untuk memahaminya
engku !!?.
Dan ke-empat imam besar itu, menuangkan nalarnya
berdasarkan Al-Qur'an dan hadits. Dan itu bukan harga
mati yang harus ditelan mentah-mentah seperti yang
engku katakan. Oleh sebab itu diantara mereka berempat
terdapat perbedaan. Tetapi lebih banyak ke-samaan dari
pada perbedaan. Lalu urusan hukuman hudud ini
bagaimana ?. Buku fiqih itu sudah menulis bagaimana
kesepakatan para ulama mengenai hal itu.
Kita yang ndak ada ilmu ini,... saran saya...
lebih baik ikut saja. Sebab ndak mudah bagi kita
karena banyak kekurangan kita. Yang pasti kita bukan
orang Arab, bagaimana pula kita mentafsir Al-Qur'an
dengan benar. Ilmunya harus dilengkapi dulu, ada
ilmu Ma'ani, ilmu bayan,...balaghah,... nahu sharaf
dan sebagainya. Ada tafsiran Qur'an bil Qur'an,
artinya
ayat al-Qur'an yang mentafsirkan ayatnya sendiri. Ada
tafsiran dengan hadits, ada yang harus merujuk makna
sastera dan sebagainya. Lai katakamehan oleh Engku
Darwin tu ?. Misalnya begini.
"Aula laka fa aula"
"Tsumma aula laka fa aula".
Aula ko maknanya utama.
"Utama bagimu keutamaan"
"kemudian utama bagimu keutamaan"
Lai batua ko ?.... indak Engku ...
Ayat tu ndak dapek diterjemahkan takah itu do. Malah
artinya
"Celaka lah dan celakalah"
"Kemudian celaka dan celakalah"
... aaa kan ...?... lah salah awak dinyo.
Itu mangkonyo harus bailimu dulu Engku.
Lai katakamehan oleh Engku Darwin tu ?
... Kalau indak, manurut saya, kita ikut ajalah.
Picaya sajalah dengan imam-imam besar itu. Sebab
mereka berhati-hati sekali misalnya seperti yang
pernah saya sebutkan Engku.
Pernah imam As-Syafi'i ditanya orang ketika berada
di atas onta. "Tuan berapa kaki unta tuan ?".
Imam As-Syafi'i menghentikan untanya dan turun
lalu melihat dan kemudian menjawab.
"Hmm ada empat" dan naik kembali.
Kata orang itu.
"Mengapa tuan turun ?. kan kaki unta memang empat
?".
"Saya khawatir hilang dijalan satu".
... aaa... dek awak curito takah iko kan sarupo
bagarah
garah. Tapi itulah. Ke-empat imam itu selain berhati-
hati agar tidak salah,juga mempunyai sifat-sifat
terpuji sebagai tabi'in atau tabi' tabi'in.
Dan mudahan-mudahan kita termasuk pula tabi'ihim
biihsanu ila yaumiddiiin. Dan kita masuk dalam barisan
yang memang dicari-cari oleh Nabi Muhammad saw. di
padang mahsyar nanti karena beliau rindu pada kita
yang mengikutinya meskipun jarak kita berbeda berabad-
abad dari beliau. Aaaamiin yaa rabbal 'aalamiiin.
> Wassalam, Bandaro Kayo
Wabillahil hidayah wat taufiq
Wassalam.w.w.
St. Sinaro
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________